Permintaan Tinggi Tambang Batu Andesit Tetap Beroperasi

Penambangan Batu Andesit [Foto: Henk Widi]
LAMPUNG — Penggunaan batu andesit untuk bermacam keperluan jalan dan perumahan menyebabkan areal pertambangan tetap beroperasi. Beberapa truk bahkan setiap hari mengangkut  batu split, batu belah, batu pondasi serta batu dan campuran untuk urugan jalan.
Salah seorang pengelola pengiriman batu andesit, Zaili (34) mengaku pertambangan batu di sekitar Desa Sukabaru sudah berlangsung sejak tahun 1990. Beberapa diantaranya sudah tidak beroperasi namun beberapa lagi masih beroperasi dan dikerjakan dengan alat berat.
“Permintaan akan batu khususnya andesit saat ini semakin meningkat, terutama untuk pembuatan proyek infrastruktur jalan dan juga perumahan,”ungkap Zaili saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (29/7/2015).
Untuk izin pertambangan, dimiliki oleh pemilik tanah sekaligus pemilik usaha batu tersebut. Sementara warga sebagian menjadi kuli angkut, kuli pecah batu, sopir serta sebagian menjadi “broker” penjualan batu.
Batu-batu yang diambil dari lokasi tambang batu tersebut dijual dengan harga rata rata Rp180.000/m3 sementara beberapa material yang dijual lainnya batu split dihargai Rp190.000/m3, abu batu 175.000/m3. 
Permintaan akan batu dan serat pasir menurut Zaili bisa mencapai ratusan truk dalam sepekan. Permintaan pun dipastikan akan semakin meningkat saat banyak proyek pemeritah untuk infrastruktur jalan.
Lokasi tambang batu yang dekat dengan sungai dimanfaatkan warga untuk mencari pasir. Pasir tersebut dijual bersamaan dengan penjualan batu dengan kisaran harga pasir Rp.500.000 per truk. Harga diatas bisa lebih mahal dan bisa lebih murah tergantung banyak sedikitnya permintaan dari konsumen.
Salah seorang warga sekaligus sopir kendaraan truk pengangkut batu, Nurdin mengaku, pekerjaan warga di lokasi tersebut kini menjadi kuli. Apalagi musim kemarau mengakibatkan warga tidak bisa melakukan aktifitas di sawah dan ladang.
“Banyak warga yang menjadi kuli angkut atau jika ada kesempatan mereka menggunakan waktu mencari pasir di lokasi tambang batu yang sangat luas ini,”ungkap Nurdin.
Permintaan akan material batu, pasir, kerikil serta batu batu untuk urugan menjadi sumber penghasilan bagi warga. Sementara beberapa lahan tambang yang sebelumnya bukit, sebagian sudah diratakan dan digunakan untuk lokasi lahan parkir kendaraan profit yang baru didatangkan dari Pulau Jawa.
“Lahan bekas tambang batu sebagian sudah diurug dan sekarang menjadi rata, dulu berbukit dan tak bisa digunakan,”ungkap Nurdin.
Tanah yang sudah rata dan siap digunakan sebagian bahkan dipasangi plang “dikontrakkan” untuk dipergunakan sebagai restoran atau parkir kendaraan profit. 
Nurdin dan warga lain mengaku meski daerahnya merupakan daerah berlahan tandus namun berkat ada pertambangan batu, keuntungan jangka pendek didapat dari bekerja sebagai buruh. Sementara keuntungan jangka panjang lahan di daerah tersebut yang awalnya tak terpakai kini rata dan bisa digunakan.(Henk Widi)

Lihat juga...