Peta Kekuataan Kandidat Pilkada Bangka Selatan 2015

CENDANANEWS (Opini) – Pesta demokrasi atau Pilkada bangka Selatan tahun 2015 ini menjadi menarik dengan kembalinya mantan Bupati Bangka Selatan periode 2005-2010, Justiar Noer ke gelanggang demokrasi di negeri yang dijuluki sebagai negeri Junjung Besaoh ini. 
Selain Justiar Noer, tampil pula kandidat wanita Rina Tarol yang merupakan legislator perempuan di DPRD Bangka Belitung. Mareka bersama Bupati Bangka Selatan 2010-2015, H. Jamro akan berkompetisi dalam Pilkada 9 Desember mendatang.
Bila dibandingkan dengan Pilkada Bangka Selatan (Basel) 2010 yang hanya diikuti dua pasangan calon, kemeriahan demokrasi dalam Pilkada Basel 2015 akan menjadi menarik untuk diperbincangkan dan diamati, mengingat untuk pertama kalinya terdapat tiga kandidat dan salah satunya perempuan, Rina Tarol yang diusung PDI-P bersama PAN.
Ketiga kandidat ini memang memiliki ciri khas dan karakter tersendiri dalam  personality dan kepemimpinannya. Ketiganya bukan cuma dikenal masyarakat Bangka Selatan, namun memiliki kedekatan secara emosional dengan masyarakat. Dan ini yang membuat Pilkada Bangka Selatan 2015 menjadi menarik.
Dalam memimpin Basel selama lima tahun, Justiar Noer memang bisa dianggap sebagai peletak dasar pembangunan dan birokrasi pemerintahan. Dengan orientasi pembangunan yang secara komprehensif dari Desa menuju Kota dan berusaha menciptakan birokrasi yang berwibwa, Justiar Noer memang masih melekat dihati masyarakat.
Kendati tak lagi memimpin Basel, namun kiprahnya dalam jiwa masyarakat Basel belum terhapuskan secara emosional. Justiar Noer kembali menjadi harapan masyarakat untuk memimpin Basel ketika selama lima tahun ini (2010-2015) Kabupaten Bangka Selatan (Basel) diberi anugerah yang amat memilukan bahkan memalukan dari beragam Pihak.
BPK sebagai lembaga Tinggi negara menghadiahkan Disclaimer untuk tata kelola keuangan Pemda Bangka Selatan. Sementara Zona Merah dianugerahi IGI untuk penatakelolaan Pemerintahan. Pada sisi lain Pemda Bangka Selatan selama lima tahun ini gagal mengimplementasikan Perda No. 10 Tahun 2011 Tentang RPJMD.
Pada sisi lain legislator perempuan Dapil Bangka Selatan Rina Tarol dikenal sebagai legislator bersuara vokal dalam mengkritisi kebijakan Pemda Basel. Namanya melambung disaat Basel dianugerahi predikat sebagai daerah Zona Merah. Keberpihakkannya terhadap masyarakat amat trengginas dan teruji. Suaranya menggegerkan jagad raya Basel untuk membela kepentingan masyarakat.
Kepemimpinan H. Jamro selama lima tahun memang tak memuaskan masyarakat dan belum mampu mengimplementasikan Perda RPJMD secara baik. Fokus dalam bidang pertanian belum mampu dirasakan masyarakat secara komprehensif untuk makmur sebagaimana visi misi H. Jamro yang diidentikan dengan Bangka Selatan Makmur.
Predikat kurang menggenakan dari BPK dan IGI membuat Mantan Wakil Bupati era Justiar Noer ini tak memiliki prestasi yang prestisius dalam memimpin Basel selama lima tahun ini yang dapat dijadikan selling point dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.
Pengalaman dari Pilkada Bangka Selatan, figur sangat menentukan 50-60 persen. Mesin partai 10-15 persen, kampanye 10 persen dan sisanya adalah visi, misi dan program kandidat.
Suatu yang ironi dalam masyarakat rasional dimana jatuhnya pilihan lebih didominasi faktor figur ketimbang isu atau program. Sejatinya isu atau program yang berisi tentang need and hope (kebutuhan dan harapan) dari masyarakat yang kemudian diformulasikan oleh kandidat mestinya menjadi faktor dominan bagi pemilih dalam menentukan pilihannya. Karena pada saat sudah menjadi “penguasa”, maka dengan mudah masyarakat untuk memberi penilaian dan justitifikasi dalam menjalankan roda pemerintahan kandidat yang terpilih.
Secara teoritis, sebenarnya prilaku pemilih diurai dalam tiga pendekatan utama yakni pendekatan sosiologis, psikologis dan rasional choice (pilihan rasional).
Pendekatan sosiologis atau dikenal dengan Maszhab Colombia, yang diparakarsai Paul Lazarsfeld (1994) menjelaskan bahwa, karakteristik dan pengelompokan sosial seperti umur, jenis kelamin, agama dan lainnya sebagai faktor yang membentuk prilaku pemilih. 
Pendekatan psikologis (Maszhab Colombia) yang pertama kali diperkenalkan oleh Campbell, Miller dan Stokes (1948) mengembangkan konsep psikologi khususnya konsep sikap dan sosialisasi dalam menjelaskan perilaku pemilih. Namun kedua pendekatan tersebut mendapat kritik dari pendekatan rasional choice
Asumsi yang dibangun dalam pendekatan rasional coice bahwa pemilih bukannya wayang yang tidak memiliki kehendak bebas dari kemauan dari dalangnya. Pendekatan ini dipelopori oleh Anthoni Down (1957) yang melihat orientasi pemilih dalam menentukan sikapnya dipengaruhi oleh dua hal, yakni orientasi isu dan kandidat (figur). 
Orintasi isu berpusat pada pertanyaan apa yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Sedangkan orientasi kandidat mengacu pada sikap seseorang terhadap pribadi kandidat (figur) tanpa mempedulikan label partainya. Disinilah pemilih menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan rasional
Namun dalam konteks masyarakat Indonesia, figur masih menjadi hal yang utama ketimbang isu atau program. Hal ini tidak terlepas dari budaya politik kita yang masih cenderung bersifat patrimionial dengan ikatan primordial yang kental. 
Ikatan ini ditandai dengan besarnya pengaruh “patron” terhadap masyarakat dan kuatnya sentiman kedaerahan, suku, agama, prutanisme dan sebagainya dalam penentuan pilihan (pendekatan sosiologis). 
Selain itu budaya politik kita masih lebih cenderung kalau tidak mau dikatakan lebih kuat budaya parokial (budaya politik yang tingkat partisipasi politiknya sangat rendah) dan kaula (budaya politik yang masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonominya tetapi masih bersifat pasif) ketimbang partisipan (budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik yang sangat tinggi). 
Dalam masyarakat parokial dan kaula, terjadi keterbatasan diferensiasi pada masyarakat dalam peranan politik dan memposisikan diri sebagai masyarakat “pasif”. Sementara dalam masyarakat partisipan sudah dapat menilai dengan penuh kesadaran baik sistem sebagai totalitas, input dan output maupun posisi dirinya (Gabriel Almond, 1978), sehingga keterlibatan dalam politik bukan hanya pada saat rutinitas lima tahunan (pemilu dan pilkada) tetapi sampai pada proses perencanaan, pengambilan dan evaluasi kebijakan pemeran politik/pemerintah (pendekatan rasional choice).
Kondisi masyarakat seperti itu, sangat mudah dibaca oleh pihak yang berkeinginan untuk meraih simpati masyarakat seperti itu dengan menjual isu agama, kedaerahan dan popularitias kandidat. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan dan termanfaatkan oleh pihak yang berkeinginan masuk kedalam arena kekuasaan dengan memanfaatkan figur populer, mengusung isu agama, daerah dan sebagainya dalam pengusungan calon gubernur, walikota dan bupati. 
Pada kondisi tersebut isu dan program menjadi “kebutuhan sekunder” dalam memberikan nafkah pemilih. Popularitas sesorang menjadi fakot utama, hal inilah yang kemudian oleh partai di Indonesia ramai-ramai merekrut para pekerja entertain seperti artis, penyanyi, selebriti untuk dicalonkan dalam pemilihan kepala daerah. 
Fenomena ini yang kemudian dimanfaatkan para newcomer (pendatang baru) dalam menghadapi para incumbent dalam pertarungan kekuasaan di daerah, sehingga fenomena kalahnya incumbent suatu hal yang menjadi kewajaran. Selain faktor tersebut para incumbent tidak mampu mengapresiasi need and hope masyarakat yang dipimpinnya.
Akibatnya timbul akumulasi kekecewaan masyarakat sehingga pilihan lari kepada newcomer dengan harapan muncul espektasi baru akan perubahan yang bermuara pada terpenuhinya harapan dan kebutuhan masyarakat. Bahkan ada yang lebih ekstrim menilai bahwa kekalahan incumbent oleh newcomer sebagai bentuk “pemberontakan” rakyat terhadap kemapangan kekuasaan dan bukti adanya keinginan dari masyarakat untuk melakukan perubahan secara cepat.
Bagi kita masyarakat rasional ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi  pilkada, terutama masyarakat Kabupaten Bangka Selatan bahwa sudah saatnya kita menjatuhkan pilihan bukan semata-mata karena faktor popularitas semata, faktor etnisitas, agama dan primordialisme tetapi harus dibaringi faktor kapasitas, kapabilitas dan moralitas serta komitmen yang kuat akan perubahan yang melekat dalam diri kandidat.
Apapun yang akan terjadi dalam Pilkada 9 Desember mendatang, rakyat Basel akan menjadi saksi dan pelahir pemimpin mareka. Mampukah rakyat Basel melahirkan pemimpin yang diharapkan dan mereka harapkan? Kuncinya ada di dalam jiwa dan nurani rakyat Basel sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di daerah Junjung Besaoh Itu?
Kecerdasan dan nurani masyarakat akan menjadi saksi siapa yang akan mareka pilih dalam Pilkada Basel 9 Desember mendatang? Mari Kita Tunggu. Salam Junjung Besaoh…
*Penulis adalah Ketua LSM Bebes Toboali dan Ketua Divisi Informasi dan Komunikasi Partai Demokrat Bangka Selatan
——————————————————-
MINGGU, 26 Juli 2015
Jurnalis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...