Pukul Sapu Mamala dan Morela Melestarikan Tradisi Leluhur

Pukul Sapu Mamala-Morela
CENDANANEWS (Ambon) – Tradisi pukul sapu adalah budaya asli yang diwariskan para leluhur masyarakat Desa Mamala dan Morela Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku sejak abad 16 atau di era penjajahan Portugis dan Belanda. Tradisi yang sudah tersohor hingga ke manca Negara ini tetap dilestarikan oleh anak cucu kedua negeri tersebut.
Tradisi unik titian para leluhur Desa Mamala dan Morela itu digelar setiap 7 Syawal. Dari pantauan Cendana News Jumat (24/7/2015), atraksi peserta saling baku pukul dengan menggunakan sapu lidi dari pohon aren dengan dialeg Ambon disebut pohon mayang (arenga pinnata) itu, mengundang antusias para penonton.
Anggota panitia Pukul Sapu Desa Morela, Roesda Leikawa yang diwawancarai wartawan di sela-sela acara mengatakan, tradisi pukul sapu bukan hanya diikuti oleh orang dewasa tapi juga pesertanya para anak-anak.
Dijelaskan, pukul sapu lidi antar anak Morella ini sebagai bentuk regenerasi tradisi, termasuk mempersiapkan para anak tersebut untuk kelak bias memainkan peran penting tak lain melestarikan tradisi turun temurun leluhur mereka.
Untuk peserta sendiri tidak dibatasi, namun Panitia menyesuaikan dengan kondisi arena yang dipersiapkan.
Di Desa Morella jumlah pesertanya dibatasi 60 orang pemuda, berbadan tanggung bertelanjang dada dibagi tiga kelompok atau masing-masing 20 orang per kelompok.
Tiap kelompok dibagi menjadi dua regu. Pesertanya menggunakan celana pendek dan berikat kepala. Untuk para regu agar terlihat berbeda dengan warna celana yang digunakan yakni merah dan kuning atau hitam dan kuning.
Sementara itu, di desa Mamala satu kelompok pemuda dibatasi 20 orang hingga 30 orang karena lokasi arenanya lebih luas. Tiap kelompok juga dibedakan dengan warna celana merah dan putih.
Sebelum ritual dilakukan sehari sebelumnya, para pemain (peserta) harus dikumpulkan dalam rumah adat masing-masing guna menjalani upacara adat dan berdoa meminta pertolongan dan restu dari Allah SWT / Tuhan Yang Maha Esa, serta para leluhur agar melindungi para pemuda yang akan mengikuti agenda tahunan tersebut.
Saat wasit meniupkan seruling kedua regu pun mulai bermain. Masing-masing memegang dua ikat lidi mentah yang baru dipotong dari pohon aren. Seorang tokoh adat kedua desa itu bertindak sebagai wasit. Atraksi dipandu melalui peluit sang wasit peserta pun bergilir saling pukul dengan sapu lidi.
Ketika seruling berbunyi kelompok bercelana merah atau hijau diberikan kesempatan untuk memukul kelompok bercelana putih atau kuning.
Sebaliknya saat seruling kembali dibunyikan, giliran kelompok bercelana putih dan kuning yang menyerang dan memukul kelompok bercelana merah dan hijau.
Masing-masing pemuda dengan memegang dua hingga tiga batang lidi ukurannya lebih besar dengan panjang antara 1,5 – 2 meter dengan diameter pangkal mencapai 1-3 sentimeter terlihat memukul berkali-kali badan lawan dengan sekuat tenaga. Area pukulan hanya dibatasi dari dada kebagian bawah.
Sabetan lidi yang mengenai badan lawan mengeluarkan bunyi cukup keras menyerupai lecutan cambuk. Bahkan terkadang tiga batang lidi yang digunakan sudah hancur hanya dalam hitungan dua atau tiga kali sabetan.
Pukulan lidi berkali-kali itu tentu menyebabkan guratan merah memanjang sekujur tubuh para peserta. Tampak badan peserta mengeluarkan darah segar. Bahkan potongan batangan lidi pun turut tertancap pada kulit dan luka di tubuh para peserta.
Meski luka disekujur tubuh peserta, tidak ada terdengar erangan dan jeritan kesakitan, bahkan terlihat ketagihan untuk dipukul berkali-kali.
Bagi anda yang baru perdana menyaksikan atraksi pukul sapu ini tentu gemetar atau ngeri.
Para pemain mengaku tidak merasakan sakit pada tubuh mereka yang memar, luka dan mengeluarkan darah akibat sabetan lidi. Yang mereka rasakan hanya gatal-gatal dan membuat mereka ketagihan untuk terus dipukul.
——————————————————-
SABTU, 25 Juli 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Foto             : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...