Ratusan Anak di Maluku Tengah Sekolah di Tenda Pengungsi

Tenda Pengungsi yang disulap menjadi Sekolah Dasar Negeri 1, SD Negeri 2, SD Inpres dan TK, di Desa Negeri Lima Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku
CENDANANEWS (Ambon) – Di tenda pengungsian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ratusan siswa-siswi asal Desa Negeri Lima Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku mengenyam pendidikan dan menggunakannnya sebagai sekolah. [Baca juga Dua Tahun, 422 KK Warga Jalani Ramadhan di Tenda Pengungsian
Pasalnya, sekolah mereka sudah rata dengan tanah alias hilang, akibat diterjang bencana alam akibat jebolnya dam alami Wae Ela, pada 25 Juli 2013 lalu.
Dari penelusuran wartawan CND di lapangan Jumat (3/7/2015) menerangkan, sekolah ratusan siswa Negeri Lima itu hingga sekarang belum dibangun oleh pemerintah.
Untuk mendidik putra putri bangsa, terpaksa para guru menggunakan tenda-tenda yang didirikan oleh BNPB disulap menjadi sekolah guna mengajar ratusan anak-anak dari SD Negeri 1, SD Negeri 2, SD Inpres dan Taman Kanak (TK) di bawah pepohonan yang tidak jauh dari desa induk mereka. Rata-rata mereka adalah pengungsi.
Tenda-tenda milik BNPB itu secara bergantian dipakai oleh para guru empat sekolah tersebut untuk mengajar siswanya masing-masing. Bahkan kondisi tenda pun sudah tidak layak, namun terpaksa dimanfaatkan.
Anehnya, kondisi memprihatinkan ini sudah dua tahun berjalan (2013-2015), namun otoritas Pemerintah Provinsi Maluku maupun Pemerintah Kabupaen Maluku Tengah, belum ada yang bertanggungjawab dengan masalah ini alias lepas tangan.
Buktinya, bencana jebolnya dam alami Wae Ela pada 25 Juli 2013 yang meluluhlantakan Desa Negeri Lima berpenduduk mencapai 1000 jiwa itu, tercatat pemukiman milik 422 Kepala Keluarga (KK) hilang. Dan kini mereka hidup di tenda pengungsi, termasuk empat gedung sekolah SD Negeri 1, SD Negeri 2, SD Inpres dan TK, sampai sekarang belum dibangun oleh pemerintah.
Salah satu ibu rumah tangga yang ditemui media ini di Negeri Lima Jumat sore (3/7/2015) mengakui, sampai hari ini anak-anak Negeri Lima itu masih menggunakan tenda-tenda milik BNPD Maluku itu.
“Ose liat (anda saksikan) sendiri tenda-tenda itu, dipakai oleh siswa SD Negeri 1, SD Negeri 2, SD Inpres dan TK untuk dorang (mereka) sekolah,” ungkap Ibu Sapia dengan dilaeg kental Ambon sambil menunjukan lokasi sekolah bertenda kepada media ini di Negeri Lima.
Dia mengaku, hingga kini pemerintah provinsi Maluku maupun Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah belum juga membangun empat sekolah tersebut.
“Dong (mereka/pemerintah) hanya datang liat (saksikan), dan janji mau bangun sekolah yang sudah hilang karena bencana alam tahun 2013 di Negeri lima. Sesudah itu tidak ada pembangunan sekolah,” bebernya.
Di tempat yang sama, Ismail salah satu warga Desa Negeri Lima mengakui, untuk melangsukan hidup di lokasi pengungsian saat ini mereka sangat susah. “Untuk makan saja susah. Ya kita jalani saja,” pasrahnya.
Dikatakan sekolah bertenda ini terlihat kosong karena momentum bulan suci ramadhan para siswa di empat sekolah itu diliburkan. “Ini karena bulan puasa makanya anak-anak diliburkan,” terangnya.
Baik Ibu Sapia maupun Ismail, mereka sangat berharap uluran tangan dari pemerintah agar secepatnya membangun kembali pemukiman dan empat sekolah di Desa Negeri Lima.
“Katong (kami) harus mengadu kemana kalau bukan ke pemerintah, terus katong mau harap siapa,” pungkas Ibu Sapia dan Ismail, dua di antara ribuan korban bencana alam dam Wae Ela yang hingga kini masih hidup mengungsi di tenda-tenda milik BNPB.

——————————————————-
JUMAT, 03 Juli 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...