Ribuan Pengungsi di Maluku Tengah Hidup Memprihatinkan

490
CENDANANEWS (Ambon) – Penduduk Desa Negeri Lima Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku mencapai ribuan jiwa, 422 Kepala Keluarga (KK) diantaranya hingga sekarang masih hidup di tenda-tenda pengungsi milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). baca juga: Ratusan Anak di Maluku Tengah Sekolah di Tenda Pengungsi
Mereka dibagi dua, sebagain ditempatkan di camp pengungsian yang berbatasan dengan Desa Seith (Sebelah Timur Desa Negeri Lima), dan sebagainnya di tenda-tenda sebelah barat yang berbatasan dengan Desa Ureng Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Bukan kemauan mereka sendiri, tapi karena ribuan jiwa ini diterpa musibah bencana alam atas jebolnya dam alami Wae Ela pada 25 Juli 2013 silam, dimana pemukiman mereka hilang alias rata dengan tanah, dibawa air lumpur batu dan batang pohon.
Pantauan CND langsung di lapangan Jumat (3/7/2015), tampak para warga negeri lima itu memang masih mendiami sejumlah tenda yang didirikan oleh BNPB. Kehidupan mereka pun kini sangat memprihatnkan.
Wally
Wally salah satu pengungsi yang ditemui di lokasi pengungsi berbatasan dengan Desa Ureng mengungkapkan kesedihannya.
Kehidupan mereka kini hanya mengharapkan bantuan sanak family atau anak-anak mereka yang bekerja atau berstatus PNS. Lainnya harus mencari nafkah ke kebun maupun ke laut guna menghidupi keluarga masing-masing.
“Ya kita mencari nafkah tidak tenang. Mengingat rumah kami tidak ada. Hidup sampai sekarang masih di tenda pengungsi,” ungkapnya.
Soal pembangunan rumah, pemerintah sebelumnya berjanji membantu mereka per Kepala Keluarga (KK) 59 juta. Namun realisasi pada 2014 lalu, dari pihak BNPB sendirilah yang baru memberikan uang sebesar Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) per Kepala Keluarga.
“Uang Rp 25.000.000 itu untuk bayar tukang kerja saja 10.000.000. Sisanya kami beli bahan atau material. Jujur saja sangat tidak cukup untuk bangun satu buah rumah,” keluhnya.
Wally mengisahkan, saat musim hujan ia bersama warga Legeri Lima tidak tidur, karena air masuk ke dalam tenda.
“Mau tidur bagaimana kalau air masuk di dalam tenda. Kita bahu-membahu sesama pengungsi membantu mengeluarkan air dan perbaiki tenda-tenda yang dihantam angin dan hujan,” ungkapnya.
Untuk pembangunan rumah mereka kembali, menurut Wally, awalnya pemerintah menyuruh mereka membuka rekening. Tapi sampai sekarang uang tidak dicairkan.
“Rekening sudah kami buka tahun kemarin, tapi sampai sekrang uang sisa dari 59 juta yang dijanjikan pemerintah itu belum juga dicairkan. Dinas Sosial sampai sekarang belum memberikan bantuan itu kepada kami,” paparnya.
Kondisi yang sama juga diakui Salim yang juga warga Negeri Lima yang masih hidup di tenda pengungsi berbatasan dengan Desa Ureng Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.
“Untuk pasokan air bersih memang ada tapi sangat kurang. MCK hanya dua buah yang disediakan. Itupun sudah full. Untung dekat dengan pantai, kami menggunakannya untuk mandi dan buang hajat,” jelasnya.
Salim pun mengakui, bukan hanya dia tapi sama-sama pengungsi saat ini kehidupan mereka sangat sulit.
“Syukur-syukur ada sanak family yang bantu kami, itupun untuk makan saja. Kalau dilihat ada rumah pengungsi yang sudah dibangun tapi belum rampung, itu karena mendapat bantuan dari anak-anak mereka yang bekerja,” terangnya.
Baik Wally dan Salim maupun pengungsi lainnya di Negeri Lima, yang menjadi keinginan mereka saat ini adalah pemerintah segera membangun pemukiman mereka seperti sebelum bencana sial tersebut.
“Kalau rumah tidak ada kami belum tenang. Mau cari nafkah selalu saja pikiran. Karena hidup di tenda-tenda pengungsi seperti sekarang,” keluh Salim dan Wally.

——————————————————-
SABTU, 03 Juli 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...