Rumah Kos Tersebar Merata di Seluruh Wilayah Kota Kendari


KENDARI—-Kendari, sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tenggara, adalah kota yang mulai jadi incaran bagi para pendatang. Kota yang sedang giat melakukan pembangunan di segala bidang ini, semakin lama semakin padat. Banyak lahan-lahan kosong yang dalam proses pembangunan Ruko (Rumah Toko) atau rumah kos.
Rumah kos di Kendari juga memiliki sistem sewa yang berbeda. Lazimnya, rumah kos disewakan per bulan kepada penyewa, tetapi di Kendari rumah kos bisa disewakan harian dan mingguan. “Sistem sewa seperti ini untuk memberikan kesempatan kepada pendatang yang hanya datang beberapa hari di Kendari, daripada sewa hotel mahal, mending ngekos, harganya jauh lebih murah dengan fasilitas yang hampir sama ” ujar Pak Malik, salah satu pemilik kos di daerah Wua-Wua. 
Fasilitas yang ditawarkan oleh pemilik kos juga variatif, dari yang super sederhana sampai yang super mewah. Demikian juga dengan desain ruangan serta bahan untuk bangunan, juga berbeda-beda. Ada rumah kos sangat sederhana yang seluruh bagian dindingnya terbuat dari kayu, ada yang sebagian rumah batu (istilah Kendari untuk rumah yang dindingnya terbuat dari batu bata/batak)  dan sebagiannya kayu, ada juga yang rumah batu” lanjut Malik. 
Pendatang di Kendari memang berlatar belakang kelas ekonomi yang berbeda-beda, sehingga kebutuhan akan rumah kos juga berbeda-beda. Bagi pedagang keliling, mereka biasanya memilih rumah kos dengan desain ruangan yang dilengkapi dengan ruang tamu, kamar, dapur dan kamar mandi, bangunan sederhana berbahan kayu pun tidak jadi masalah bagi mereka. 
“Ga masalah bukan rumah batu yang penting tidak bocor. Yang penting ruangan yang luas untuk menyiapkan dagangan dan masak, belum lagi kalau banyak anak, seperti saya” ujar Samrawi, lelaki asal Magelang yang merantau ke Kendari sebagai penjual sayur keliling dan istrinya berjualan jajanan di pasar. 
“Harga sewa kosan saya ini 750 ribu per bulan. Listrik ngisi pulsa sendiri sesuai kebutuhan. Kalau saya maksa cari rumah kos yang mahal ya bisa, tapi nanti saya tidak bisa nabung, dan lagi yang mahal-mahal biasanya malah cuma kamar dan kamar mandi dalam saja tapi ada tv dan ac, saya sudah punya tv, jual sayur gak usah pakek ac” lanjutnya sambil tertawa.
Kepada Samrawi Cendana News menanyakan mengenai pelanggannya, dan Ia mengatakan bahwa pelanggannya sebagian besar adalah penghuni kos-kosan “pembeli saya banyak anak kos yang lokasi kos-kosannya jauh dari jalan poros (jalan utama)”
Ia juga membenarkan ketika Cendana News menyampaikan pertumbuhan jumlah kos-kosan di Kendari sangat cepat. “Bener itu, saya ini setiap hari keliling hampir semua tempat di Kendari, tapi kok ya rasanya tiap bulan ada saja lokasi kos-kosan baru” ujar Samrawi.
Dijumpai di lokasi berbeda, Agustinus, pendatang asal Nusa Tenggara Barat yang bekerja di Kendari sebagai sopir taksi. Menurut Agustinus, sebagai sopir taksi, salah satu syarat untuk melayani pelanggan dengan baik adalah dengan tiba di lokasi dengan cepat ketika ada permintaan armada untuk menjemput penumpang di tempat tinggalnya.
“Paling susah kalau penumpang minta jemput di kos-kosan, karena kadang lokasi kos-kosannya jauh dan lokasinya sulit ditemukan” ujarnya sambil tertawa. 
Hal yang sama juga disampaikan oleh sesama sopir taksi yang enggan disebut namanya, “sudahlah jangan dibilang kalau soal kos-kosan di Kendari ini, rasanya tiap hari ada lokasi kos baru, sebagai sopir taksi kita memang harus ikuti terus perkembangan informasi tentang lokasi kos, baik dari sesama sopir maupun operator”
Sementara Irul, tukang ojek yang biasa mangkal di Jati Raya menyampaikan senang dengan banyaknya kos-kosan yang ada di dalam gang-gang kecil yang tidak terjangkau oleh pete-pete (angkot) “Rezeki tukang ojek itu, kalau pete-pete dan taksi, bagian angkut penumpang yang dekat dengan jalan, kalau tukang ojek kan mudah masuk-masuk ke gang-gang kecil walaupun tanahnya menanjak” jelasnya.
Kepada Irul Cendana News juga menanyakan tentang perkembangan jumlah kos-kosan di Kendari. “Jangankan di sini yang dekat kota, sementara di rumah saya di Gunung Jati saja mulai banyak dibangun kos-kosan. Asal punya tanah kosong dan uang untuk bangun kos-kosan, kaya kita” jelas Irul yang dia sendiri di Wua-wua pun ngekos bersama istri dan anaknya di dekat Pasar Panjang.
“Coba datang kearah Pasar Panjang atau arah menuju Bandara, di sana juga mulai banyak kos-kosan karena pendatang di Kendari ini tinggalnya merata, tidak hanya di pusat kota sehingga bangunan kos-kosan juga merata ada dimana-mana” lanjutnya.
Ditemui di tempat berbeda, salah satu penghuni rumah kos ekslusif yang enggan disebut namanya, menjelaskan bahwa harga sewa yang harus dibayar setiap bulannya adalah 1,2 juta. “Enak di sini, walaupun kamarnya sempit tapi semua fasilitas lengkap, TV lengkap dengan jaringan TV Kabel, dispenser, tempat tidur, lemari, meja belajar, jemuran, tempat sampah, semuanya sudah disediakan. Kamar mandi di dalam dan ruangan selalu dingin walau Kendari panas karena ada AC” jelasnya 
Kepada pengelola rumah kos yang juga enggan disebutkan namanya, Ia menjelaskan bahwa sebagian besar penghuni rumah kosnya adalah pendatang yang bekerja di Kendari. “Ada yang kerja di bank, di dealer mobil dan ada juga yang pengusaha” ujarnya sambil menjelaskan jaminan keamanan yang Ia berikan kepada penghuni dengan menyediakan kamera CCTV di setiap pintu masuk dan keluar. 
“Kendari memang sejauh ini aman, tetapi tidak ada salahnya mengantisipasi hal-hal yang tidak kami inginkan, apalagi semua penghuni di sini membawa kendaraan dan di parkir di luar jadi saya merasa perlu memasang CCTV” lanjutnya.
Ketika Cendana News menanyakan tentang pesatnya pertumbuhan jumlah kos-kosan di Kendari, Ia mengatakan “Perkembangan itu terjadi beberapa tahun terakhir, yang menurut saya ada pengaruhnya dengan dikenalnya Wakatobi secara nasional maupun internasional disamping itu Kendari kan sedang gencar membangun jadi banyak pekerja dari luar pulau yang datang kemari” tutupnya. 
Perihal penghasilan yang diperoleh dari bisnis kos-kosan yang digelutinya Ia mengatakan rumah kosnya termasuk yang tidak pernah sempat kosong, asal ada yang keluar pasti sudah ada yang mengisi lagi karena setiap hari telpon seluler yang Ia pasang di halaman depan rumah kosnya selalu ada yang menghubungi untuk menanyakan kamar kosong.
“Tiap hari ada saja yang menelpon menanyakan kamar kosong, jadi kamar memang tidak pernah kosong. 15 kamar yang saya sewakan selalu penuh,” lanjutnya. 
Disamping tempat yang nyaman dan fasilitas yang lengkap, rumah kos yang berlokasi di Jl. MT. Haryono ini dekat dengan perkantoran dan Lippo Mall, mungkin itu yang jadi penyebab rumah kos ini tidak pernah kosong. Ia menampiknya “ah enggak juga, banyak teman-teman saya yang PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang juga buka usaha kos di daerah pinggiran juga tidak pernah kesulitan mencari penghuni, tidak perlu promosi di koran atau menyebar brosur sudah pasti laku” tutupnya. (Gani Khair)
Lihat juga...