Sandal Jepit Ukir Karya Putra Banyuwangi

MALANG—Ungkapan “The Power of Kepepet” yang memiliki arti kekuatan atau kemampuan dalam diri seseorang justru timbul ketika dalam posisi terdesak rupanya cocok disematkan kepada Sigit (42) warga Jalan Danau Laut Tawar II G3/F4, Sawojajar 1 Kota Malang. 
Sempat gagal menjalani usaha kuliner dan menjadi pengangguran namun dituntut tetap harus bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, laki-laki kelahiran Banyuwangi ini justru sukses membuat usaha baru yaitu usaha Sandal Ukir. 
“Dulu saya sempat menganggur dan sempat membuat usaha kuliner namun kurang berhasil, namun karena terbentur harus memenuhi kebutuhan keluarga akhirnya saya mecoba membuat usaha sandal ukir ini,” jelas Sigit.
Bapak dua orang anak ini memulai usaha sandal ukirnya sekitar empat tahun yang lalu. Pada saat itu dirinya menganggap bahwa sandal adalah salah satu kebutuhan pokok dan diperlukan untuk aktifitas sehari-hari. “Punya ide bikin usaha sandal, tapi sandal yang bagaimana? Sandalnyapun harus menarik dan berbeda dengan sandal yang lain karena kalau membuat sandal seperti pada umumnya saya akan kalah bersaing. Dari situ akhirnya saya mencoba berinovasi untuk membuat sendiri usaha sandal ukir dengan modal yang tidak terlalu besar,” ujarnya.
Dengan bermodal bahan spon yang Ia peroleh dari daerah Singosari, Sigit mulai berkreasi mengukir spon-spon tersebut dengan berbagai motif gambar dengan menggunakan solder. “Dulu pertama kali motif yang saya buat adalah motif bunga, karena dulu sandalnya memang diperuntukan untuk perempuan, namun sekarang juga sudah tersedia sandal ukir untuk laki-laki dengan berbagai motif seperti tengkorak, singa,suku Indian, bola dan motif lain,” jelasnya.
Dengan dibantu seorang teman, Sigit dapat memproduksi sandal ukir sekitar 25-30 pasang per harinya. Menurutnya, kesulitan mengembangkan usahanya dengan cepat karena terkendala minimnya tenaga kerja yang mampu membuat gambar sekaligus mengukir spon. 
Sigit sendiri mematok sandal ukirnya dengan harga Rp. 25.000-35.000,- per pasangnya. Awal usaha, sandal ukir karyanya hanya bisa ditemukan di Pasar Minggu. Tetapi sekarang sudah mampu menambah gerai baru di Museum Angkot kota Batu. 
Selain menjual di gerai yang Ia buka, Sigit juga sering mendapatkan pesanan dari luar kota Malang seperti Banyuwangi, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan. Sandal ukir karya Sigit untuk sekarang ini hanya tersedia ukuran dewasa dan warna yang tersedia pun hanya coklat. “Menurut saya, hanya spon berwarna coklat yang cocok diukir menjadi sandal” jelas lulusan Universitas Widyagama fakultas Ekonomi Manajemen ini, menutup perbincangannya dengan Cendana News. (Agus Nurchaliq)
Lihat juga...