Seatap Dua Rektor, Ribuan Mahasiswa dan Alumni Unidar Jadi Korban

CENDANANEWS (Ambon) – Konflik internal di tubuh Universitas Darussalam (Unidar) Ambon, Provinsi Maluku hingga kini tak ada akhirnya. Kisruh dualisme mulai Yayasan hingga dua rektor terjadi di dalam kampus dan almamater yang beridentik dengan warna merah tersebut.
Atas konflik tersebut pihak Kopertis sendiri secara tegas telah melarang pihak Unidar untuk merekrut mahasiswa baru tahun ini.
Ramly Marasabessy
Menyikapi masalah ini, Ramly Marasabessy SH, MH selaku alumni Unidar Ambon yang dimintai tanggapannya di Ambon, Selasa (7/7/2015) sangat menyayangkan konflik bermotif dualisme kepemimpinan tersebut.
Menurutnya, untuk mengakhiri konflik maka sudah sepatutnya alumni menjadi penengah. 
“Jangan kemudian alumni berada di antara dua pihak. Saya kira masalah ini harus didudukan. Sekiranya tetap dibiarkan, maka mahasiswa dan alumni yang jelas menjadi korban,” tegasnya.
Ramly secara tegas meminta pemerintah provinsi Maluku dalam hal ini Gubernur Said Assagaff dapat menjembatani dua kubu yang hidup seatap di Unidar Ambon saat ini.
Bahkan pihak Kementerian terkait harus selamatkan Mahasiswa dan Alumni Unidar Ambon. 
“Unidar Ambon adalah aset Maluku yang patut diselamatkan oleh pemerintah. Karena Unidar salah satu Perguruan Tinggi di Maluku yang turut menelorkan Sumber Daya Manusia terbaik bukan hanya untuk Maluku namun juga untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Dia mengkhawatirkan ada pihak terkait yang sengaja terus mengkompori kedua kubu sehingga dualisme terus berkepanjangan. Kepada pihak kopertis wilayah XII Maluku dan Maluku Utara agar jeli dan tidak terkesan miring ke satu kubu. 
“Harusnya Kopertis sebagai penengah. Jangan kemudian miring ke satu kubu, sehingga dualisme yang terjadi saat ini tak ada ujungnya,” sentilnya.
Sementara itu, M Azis Tunny yang juga alumni Unidar Ambon menyikapi langkah Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah XII Maluku dan Maluku Utara, yang menghentikan pelayanan aktivitas Universitas Darussalam (Unidar) Ambon. Langkah tersebut dianggapnya tepat, sampai konflik dualisme yayasan yang terjadi sekarang ini dapat diselesaikan secara hukum dan telah memiliki kekuatan hukum tetap.
Persoalannya, menurut Azis, dualisme yayasan yang juga mengakibatkan dualisme rektor di “kampus merah” ini sudah sampai ke ranah hukum, dimana Yayasan Darussalam Maluku telah resmi menggugat Yayasan Pendidikan Darussalam ke Pengadilan Negeri Ambon.
M Azis Tunny
Dampak dari dualisme ini juga berpengaruh pada tidak kondusifnya aktivitas perkuliahaan di kampus. Dimana terjadi kubu-kubuan para dosen karena sebagian berpihak ke Rektor Ibrahim Ohorella dan melakukan aktivitas perkuliahan di Kampus A Desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, sebagian lagi pro pada Plt. Rektor Farida Mony dan melakukan aktivitas kuliah di Kampus B Kota Ambon. 
“Ini contoh yang sangat buruk ditunjukkan oleh sebuah lembaga pendidikan,” ketusnya.
Menurut kondisi ini tentu saja merugikan mahasiswa. Sebab, kedua belah pihak masing-masing mengklaim yang paling benar aspek legalitasnya. 
“Dengan adanya pembekuan aktivitas perkuliahan ini, saya harap masing-masing pihak dapat menahan diri,” anjurnya.
Selaku alumni dia juga berharap, kedua belah pihak islah untuk menyelesaikan konflik yang ada. 
“Kalau tidak ada lagi kata sepakat untuk berdamai, maka kita tunggu saja keputusan hukum tetap di Pengadilan Negeri Ambon, agar tidak ada lagi pihak yang dirugikan, terkhususnya mahasiswa,” tutup Direktur Lembaga Studi Pers dan Demokrasi (LSPD) Maluku ini.

——————————————————-
SELASA, 07 Juli 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...