Sepeda Bambu Chamim Marka Bernilai Puluhan Juta Rupiah

CENDANANEWS (Malang) – Pernahkah ada yang mengira jika dari tanaman bambu bisa dihasilkan sebuah maha karya dengan harga mencapai puluhan juta Rupiah?.
Mungkin banyak orang yang langsung mengernyitkan dahi atau bahkan tidak percaya dengan pernyataan diatas. Pada umumnya orang hanya memanfaatkan bambu untuk membuat kursi, meja, tangga, kandang hewan atau bahkan tidak dimanfaatkan sama sekali. Namun di tangan Chamim Marka (58), tanaman-tanaman bambu tersebut dikreasikan hingga menjadi kreasi yang unik berupa Sepeda Bambu.
Sebelum mencoba membuat sepeda bambu, sejak tahun 1989 Chamim Marka mengawalinya dengan membuat sepeda dari berbagai macam jenis kayu di berbagai daerah yang bertujuan untuk memperkenalkan kepada Negara lain bahwa Kayu Indonesia memiliki kwalitas yang sangat baik. 
Namun pada tahun 1999, Marka kemudian mulai tertarik kepada bambu ketika melihat sebuah bangunan di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meski usia bangunannya sudah mencapai ratusan tahun namun masih tetap bisa berdiri kokoh tanpa kerusakan yang berarti.
Dari situ kemudian Marka tertarik untuk mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai sifat serta pertumbuhan tanaman bambu untuk nantinya digunakan sebagai rangka sepeda pengganti besi. Bersama teman-temanya yang memiliki pengetahuan tentang bambu, dirinya mulai melakukan pengamatan terhadap 12 jenis bambu yang biasa tumbuh di sekitar tempat tinggalnya di Jalan Kepuh Harjo No. 61, Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang.
Dari kedua belas bambu yang dia amati, terpilihlah satu jenis, yaitu Bambu Ori yang memiliki sebuah keistimewaan dibandingkan dengan jenis bambu yang lain. Bambu Ori memiliki keunggulan seratnya padat, ruas bambu lebih pendek, lebih lentur dan lebih kuat. 
“Setelah menemukan bambu yang sesuai, mulailah Marka melakukan proses pelengkungan,” jelasnya di Malang, Selasa (7/7/2015).
Bambu yang dilengkungkan yaitu bambu muda yang berusia 10-15 hari atau masyarakat Jawa biasa menyebutnya Rebung. Bambu muda tersebut kemudian mulai dilengkungkan setiap awal musim penghujan selama 3,5 – 4 bulan didalam 6 bulan musim penghujan. Dalam kurun waktu tersebut, dirinya setiap hari harus banyak mencurahkan waktunya untuk membentuk lengkungan bambu agar hasil lengkungannya seperti yang dia harapkan.
“Untuk melengkungkan bambu butuh konsentrasi dan kejelian yang tinggi, sehingga dalam kurun waktu 3,5 – 4 bulan musim penghujan dalam satu tahun tersebut dirinya tidak bisa melakukan pekerjaan yang lain,” ucapnya.
Bambu lengkung ini sendiri baru bisa dipanen setelah berumur empat tahun. Sambil menunggu bambu di panen, setiap tahunnya selama empat tahun dia harus melengkungkan bambu yang lain agar nantinya bisa dipanen setiap tahun.
Dalam membentuk sepeda bambunya, agar pengendaranya mendapatkan sensasi seperti sedang menunggangi seekor binatang, Marka membagi sepedahnya menjadi tiga bagian yaitu kepala, tubuh dan ekor. 
Karena prosesnya yang begitu rumit dan memakan waktu yang cukup lama, tidak heran jika sejak awal tahun 2003 hingga sekarang, Marka baru bisa menghasilkan 13 unit sepeda bambu. Uniknya sepedah bambu yang dia hasilkan masing-masing diberi nama seperti Jalu, Cakar, Haswa, Sungu, keper, dan juga Jangkrik. 
“Rata-rata setiap tahunnya, saya hanya bisa membuat satu unit sepeda bambu dan setiap sepeda masing-masing saya beri nama,” tuturnya.
Untuk tingkat keawetan dan ketahanannya sendiri jauh lebih kuat dibandingkan dengan sepeda besi. Sepeda bambunya yang biasa dia pakai saja sekarang sudah berumur 13 tahun dan total pernah menempuh jarak 5000 km.
“Coba bandingkan dengan sepeda besi, dalam waktu 13 tahun mungkin sudah rusak karena berkarat,” ucapnya.
Tingkat kerumitan, kwalitas dan prosesnya yang lama inilah yang membuat sepeda bambu lengkung Bapak Chamim Marka memiliki nilai hingga puluhan juta Rupiah. Marka pernah menjual sepeda bambunya dengan harga 25 juta, 35 juta, 39 juta hingga yang terakhir dia pernah menjual hasil karyanya tersebut seharga 55 juta Rupiah.
Untuk peminat dan pembeli sepeda bambunya sendiri justru kebanyakan berasal dari luar Negeri seperti Australia, Amerika, Jepang dan Jerman. Sedangkan dari Indonesia sendiri, hanya ada satu orang.
Disebutkan, Chamim Marka sempat pernah menjadi satu-satunya pembuat sepeda bambu di dunia sampai akhirnya pada sekitar tahun 2008 mulai ada pengrajin-pengrajin lain yang membuat sepeda dari bambu. 
Dengan karyanya tersebut, Marka berharap agar masyarakat lebih bisa memaksimalkan lagi pemanfaatan bambu agar memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

——————————————————-
SELASA, 07 Juli 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...