Tanam tidak Serempak, Tanaman Padi Rentan Diserang Burung

Mengusir Burung [Foto: Henk Widi]
CENDANANEWS (Lampung) – Puluhan petani penggarap lahan sawah di Desa Pasuruan Kabupaten Lampung Selatan mulai resah dengan serangan hama burung. Hindari kerugian lebih besar, puluhan petani bahkan sudah berada di lahan sawah sejak pukul 05:00 WIB untuk mengusir hama burung jenis pipit tersebut.
Serangan burung tersebut terjadi setiap hari, dimulai saat padi sudah mulai berbuah. Untuk mengantisipasi besarnya kerugian, petani lakukan penjagaan setiap hari dan lakukan pengusiran dengan berbagai cara tradisional.
Akibat serangan burung tersebut, petani diprediksi bisa mengalami kerugian hingga 30 persen. Seperti yang disebutkan salah satu petani, Marjio (56).
“Jika tidak ditunggu diperkirakan akan menyebabkan penurunan terhadap produksi padi hingga 30 persen,”katanya saat ditemui CND di sawahnya, Senin (27/7/2015).
Menurutnya, penanaman padi yang tidak serentak menjadi salah satu penyebabnya. Meskipun demikian penanaman padi yang tak serempak tidak serta merta bisa disalahkan karena pola penanaman serentak tidak akan berjalan di desa tersebut mengingat kebutuhan akan air yang tak merata.
“Jika tanam tidak serentak hama burung menyerang tapi faktanya kami tak bisa melakukan tanam serentak dimasa tanam musim gadu sebab kebutuhan akan air irigasi sulit,”ungkap marjio.
Serangan hama burung sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir, tepatnya setelah tanaman padi warga mulai muncul. Sementara di tempat lain di Desa Pasuruan beberapa hektar lahan sawah justru sedang memasuki masa tanam dan belum berbuah. Akibatnya, ribuan hama burung menyerang tanaman padi warga yang lebih dahulu memasuki masa berbuah.
Menurut Marjio, cara tradisional masih digunakan warga untuk mengusir hama burung dengan menakut nakuti burung menggunakan bunyi bunyian, asap, petasan, jaring, orang orangan sawah serta manual dengan rajin berkeliling di setiap petak sawah. 
Dari pantuan CND berbagai macam alat untuk menakuti burung dipasang diantaranya bendera plastik disertai tali yang tiap ujungnya diberi kaleng berisi kerikil yang akan menimbukkan bunyi keras untuk mengusir burung.
Senada dengan Marjio, Haryanto, petani lain mengungkapkan keterbatasan persediaan air irigasi menjadi faktor beberapa ratus petani tidak bisa melakukan pola tanam serentak. Petani yang memiliki lahan berdekatan dengan sungai, aliran irigasi masih bisa melakukan tanam tapi bagi yang terbatas sumber airnya terpaksa tidak bisa menanam adi di musim tanam tahun ini.
Sementara bagi yang sudah menanam serangan burung pipit tak terhindarkan. Burung pipit biasanya memakan bulir padi yang sedang memasuki masa masak susu atau padi dengan masa tanam 50-70 hari.
“Serangan tersebut biasanya terjadi saat kondisi cuaca sedang teduh terutama pagi dan sore hari. Hama burung biasanya menyerang bergerombol, bisa sampai ratusan,” ungkap Haryanto.
Menurut Haryanto yang memiliki lahan sawah setengah hektar bisa memperoleh sekitar 20 karung gabah saat panen. Namun akibat serangan hama burung pipit ia memperkirakan produksi padinya akan menyusut sekitar 20 persen. 
“Berdasarkan hitungan petani rata rata masa panen akan dilakukan memasuki hari ke-100. Sekarang itu, padi baru berumur 70 hari. Banyak diantaranya yang sudah habis bulirnya karena dimakan burung pipit,” ungkap Haryanto.
Haryanto mengungkapkan di Desa Pasuruan terdapat sekitar 300 petani penggarap. Pola tanam tak serentak akibat keterbatasan persediaan air irigasi membuat hama burung merajalela. Pada masa pergantian musim seperti saat ini, nafsu makan burung pipit bisa berlipat. Karena penanaman yang tidak serentak, otomatis sawah di desa mereka menjadi sasaran empuk burung-burung tersebut.
“Kalau tidak serempak kan jadinya ada yang masak duluan padinya. Itu yang diserang duluan oleh burung. Setelah habis, padi yang masak berikutnyalah yang menjadi sasaran burung pipit. Begitu saja seterusnya,” ujar Haryanto.
Cara tradisional dengan secara rutin menunggu serta mengusir burung bergantian dengan anggita keluarga dinilai efektif mencegah berkurangnya serangan hama burung. Marjio, Haryanto dan beberapa petani lain bahkan terpaksa harus bergantian dengan anak, isterinya untuk mengusir padi sejak pagi hingga sore hari dan tak jarang membawa bekal makanan untuk dimakan disawah selama menunggu sawah dari serangan hama burung. (Henk Widi)

Lihat juga...