Terobosan Baru Pasar Tradisional Peninjoan dalam Mengolah Sampah

Petugas kebersihan Pasar Agung Peninjoan mengolah sampah dalam mesin penghancur
DENPASAR—Terobosan baru telah dilakukan oleh Pasar Tradisional yang telah mengalami modernisasi yaitu Pasar Agung Desa Pennjoan, Denpasar, Bali (Baca selengkapnya : Pasar Agung Peninjoan, Pasar Tradisional Modern di Denpasar).

Pasar ini memiliki metode inovatif dalam pemanfaatan limbah pasar untuk dijadikan pupuk organik, baik dalam bentuk padat maupun cair. Tidak hanya sampai di situ, pupuk organik yang dihasilkan, secara berkesinambungan digunakan oleh petani untuk memproduksi beras organik.

Terobosan hebat ini dilakukan secara bergotong royong oleh para petugas kebersihan pasar. Mereka yang mengumpulkan sampah dan lalu mengolahnya menggunakan mesin penghancur. Sampah yang sudah dihancurkan kemudian dicampur dengan tanah gembur dan kotoran ternak.
Terobosan yang dilakukan para petugas kebersihan pasar direspon baik oleh Kepala Pengelolas Pasar Agung dengan menjalin kerjasama dengan Pemkot (Pemerintah Kota) Denpasar untuk menyewa lahan. Lahan tersebut digunakan untuk melakukan uji coba tanam pagi dengan menggunakan pupuk organik buatan mereka. Dan hasilnya, mereka mampu menghasilkan beras organik dengan kualitas bagus. Beras organik ini dijual secara bertahap, diawal uji coba, hasil panen dijual hanya di Pasar Agung Peninjoan, untuk selanjutnya akan dijual di luar pasar.
Beras organik yang dihasilkan
“target kami adalah beras organik milik kami bisa dijual di seluruh kota Denpasar. Minimal, menjadi pemasok beras organik berkualitas di wilayah sendiri, baru kemudian secara bertahap kami akan kembangkan hingga ke Tabanan, Singaraja dan Negara”  Ujar Nyoman Suwarta Kepala Pasar Agung kepada Cendana News.
Tidak hanya sampai di situ, untuk meningkatkan jumlah produksi beras organik, Pasar Agung pun mulai menjalin kerjasama dengan beberapa petani lokal di sekitar Desa Peninjoan. Dan hasilnya, dua bulan lalu, pada panen raya, hasil kerjasama ini membuahkan hasil memuaskan semua pihak.
“jika hal ini dapat terus ditingkatkan maka hasil kedepannya akan sangat positif sekali. Bayangkan jika Denpasar bisa masuk dalam persaingan produksi beras dengan Tabanan, itu adalah pencapaian yang luar biasa. Tapi tujuan kami disini bukan itu, melainkan bagaimana kami harus bisa menciptakan kedaulatan pangan di daerah kami sendiri tanpa harus mengharapkan pasokan besar dari daerah lain. Tetap bekerjasama dengan daerah lain namun dalam skala kecil saja, istilahnya mereka hanya sebagai penambah kekurangan stok beras, bukan sebagai pemasok beras utama,” jelas Nyoman Suwarta.
Kedepannya Nyoman Suwarta dan rekan-rekannya berharap produksi beras Pasar Agung dapat terus ditingkatkan dan mendapat tempat dihati masyarakat. Hal ini diperkuat dengan kunjungan Anggota DPRD Kota Surabaya dan Kabupaten Kediri dalam beberapa waktu lalu guna melakukan studi banding.
“mereka kagum akan pencapaian kami, dan akan diterapkan didaerahnya masing-masing. Ini membuat kami semakin bersemangat dan terpacu untuk melakukan yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Menyehatkan masyarakat Denpasar dengan mengkonsumsi beras organik buatan kami, tidak perlu import” tutupnya.

KAMIS, 30 Juli 2015
Jurnalis : Miechel Kuagouw
Foto : Miechel Kuagouw
Editor : Gani Khair
Berikut foto selengkapnya :
Pengurus Pasar Agung Peninjoan.
Petani Desa Peninjoan
Lahan yang dikelola Pasar Agung Peninjoan
Lihat juga...