Tradisi Kupatan Terbentur pada Prioritas Perangkat Sekolah Anak

CENDANANEWS (Surabaya) – Tradisi Kupatan dengan menyajikan ketupat yang menjadi makanan khas penutup lebarat Idul Fitri di Surabaya untuk tahun ini kurang mendapatkan respon dari masyarakat. Hal tersebut dikarenakan calon pembeli lebih memprioritaskan perangkat sekolah anak karena memasuki tahun ajaran baru.
Salah satu pedagang ketupat, Khotimah (32 tahun) mengungkapkan pendapatannya berkurang drastis lebaran ini.
“Penjualan ketupat lebaran ini berkurang drastis dari tahun kemarin,” Jelasnya saat ditemui CND di pasar Pucang Surabaya, Kamis (23/7).
Menurutnya penurunan pembeli karena berbarengan dengan daftar sekolah. Sehingga tak banyak orang yang membeli ketupat.
“Sekarang jarang pembeli soalnya bareng sama anak sekolah,” Tukasnya.
Selain itu menurut Siti Fatimah (40 tahun) berkurangnya minat pembeli membuatnya khawatir menderita kerugian.
“Sekarang sepi, takut rugi saya mbak,” Ujarnya.
Padahal ia terlanjur membeli banyak janur dari pengepul. Alhasil banyak janur yang mulai rusak kemudian terbuang sia-sia. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, ia pun menjual ketupatnya dengan harga murah.
“Kalau janur saya jualnya 10 ribu, janur yang sudah jadi ketupat saya jual 15 ribu, kalau ketupat matang saya jualnya 20 ribu per 10 bungkus,” Tegasnya.
Hal serupa juga dibenarkan oleh seorang ibu rumah tangga, Wati yang sedang membeli peralatan sekolah untuk anaknya yang akan masuk SD tahun ajaran ini.
“Saat ini yang menjadi prioritas adalah peralatan anak sekolah,”sebutnya.

——————————————————-
KAMIS, 23 Juli 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Fotografer : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...