Tradisi Pukul Sapu Desa Mamala dan Morela Digelar Tanpa Penonton

CENDANANEWS (Ambon) – Memeriahkan hari raya Idul Fitri, berbagai kegiatan dilaksanakan di nusantara, seperti halnya lebaran ketupat di Jawa dan beberapa lagi di daerah lain. Tidak ketinggalan, di Maluku juga ada kegiatan unik yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, yakni Pukul Sapu.
Upacara adat Pukul Sapu yang digelar oleh masyarakat di Desa Morella dan Desa Mamala Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku tergolong ekstrem ini digelar setiap tanggal 7 Syawal menurut perhitungan kalender Hijriah/kalender Islam, atau pada hari ke tujuh setelah Hari Raya Idul Fitri. Biasanya, peserta upacara adalah pemuda dari dua desa adat yang bertetangga tersebut. 
Biasanya Upacara ini akan banyak penonton. Namun hal berbeda di tahun ini, untuk menghidari konflik herizontal antar kedua daerah, pemerintah provinsi melarang masyarakat untuk menonton kegiatan tersebut.
Gubernur Maluku Said Assagaff yang diwawancarai wartawan di Ambon Kamis (23/7/2015) mengatakan, dirinya telah mengarahkan pelaksanaan tradisi adat pukul sapu desa Mamala dan Morela, tanpa penonton lantaran konflik pertikaian antar warga kedua desa tersebut.
“Untuk acara pukul sapu di Desa Mamala dan Morela tahun ini tidak ada penonton,” ujarnya.
Gubernur mengakui, tradisi adat pukul sapu sejak abad 16 masa penjajahan Portugis dan Belanda kedua negeri sarat makna nilai sejarahnya. Tujuannya, untuk menghindari pertikaian masyarakat kedua negeri bertetangga yang juga berhubungan saudara tersebut.
Pelarangan tersebut berdasarkan kejadian yang melanda kedua daerah pada Minggu 19 Juli 2015 dimana atas konflik itu telah merenggut nyawa salah satu anggota Brimob Polda Maluku, Bripka Faizal Lestaluhu.
“Yang harus direnungi masyarakat Negeri Mamala dan Morela adalah nilai historis sebagai warisan leluhur. Jadi jangan menodai budaya,” tandas gubernur.
Menurut gubernur, akibat konflik yang melibatkan warga Mamala dan Morela sempat pihak Polres Pulau Ambon dan Pulau – pulau Lease melarang pelaksanaan tradisi pukul sapu tahun ini.
Namun kata Gubenrur, pemuda kedua negeri/desa bertatap muka dengan dirinya pasca berkoordinasi dengan pihak Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, maka sudah ada izin untuk pelaksanaan pukul sapu kali ini disepakati tanpa ada penonton.
Gubernur juga menghimbau kepada warga kedua negeri/desa agar menyadari makna dari tradisi tersebut, dengan menghindari atau menyudahi pertikaian antara kedua negeri. “Karena itu sama saja dengan menodai warisan leluhur,” tegasnya.
Lanjutnya, dalam nuansa Idul Fitri masyarakat jangan mudah untuk dihasut sehingga berkonflik. Tradisi pukul sapu yang dilaksanakan setiap tahun ini biasanya dihadiri ribuan penonton dan terbuka untuk umum.
Sementara itu Ketua Panitia pukul sapu dari desa Morela, Jazer Manelat kepada wartawan di Ambon Kamis (23/7/2015), meminta maaf kepada semua pihak yang telah diundang untuk menghadiri ritual tahunan tersebut.
Alasannya, sesuai koordinasi dengan Gubernur Maluku Said Assagaff telah disepakati untuk pelaksanaan pukul sapu dilakukan secara internal hanya di desa Morela.
Jazer juga memotivasi warga desa Morela untuk memaknai tradisi pukul sapu diselenggarakan sebagaimana biasanya sebagai kalender tetap pariwisata Maluku dimana pelaksanaannya setiap 7 hari setelah 1 Syawal.
“Kami mohon maaf kepada para undangan. Semoga maknanya dihayati agar tahun – tahun selanjutnya kembali dihadiri penonton serta para wisatawan asing,” tutupnya.
——————————————————-
JUMAT, 24 Juli 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...