Tradisi Qunutan Masih Lestari di Desa Ini

CENDANANEWS (Lampung) – Tradisi qunutan atau dengan sebutan “kupatan” masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat muslim di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Bagi masayarakat warga Pasuruan, pada setiap malam ke 15 Ramadhan tidak akan meninggalkan sebuah tradisi unik untuk membuat ketupat lengkap dengan lauk pauknya.
Menurut salah satu warga, Dedi Iswanto (30), tradisi qunutan sudah berlangsung puluhan tahun di desa Pasuruan sebagai bentuk rasa syukur pada hari ke-15 malam Ramadhan. Bentuk rasa syukur tersebut diwujudkan dengan “ngeriung” atau makan bersama di masjid Miftahul Falah desa Pasuruan.
“Kami membawa makanan untuk dimakan bersama sama dan seingat saya sejak anak anak tradisi ini sangat ditunggu dan menambah kebersamaan serta menjadi kesempatan untuk bersyukur,”ungkap Dedi Iswanto kepada media CND Kamis malam (2/7/2015).
Menurutnya sesuai tradisi, masyarakat akan saling berbagi makanan ini pada saat “ngeriung” di masjid atau mushola pada hari ke-15 malam, sebagai tanda bersyukur telah mampu melewati setengah perjalanan di bulan ramadhan. Waktu ngeriung adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak karena mereka bisa saling berbagi makanan dan berbagi keceriaan bersama.
Umumnya warga membawa berbagai jenis makanan dan hidangan paling utama yakni ketupat dibuat bersama opor ayam atau sayurkulit tangkil dan sambel kentang goreng. Semua hasil olahan akan dibawa ke mushola atau masjid untuk dinikmati bersama jamaah.
Sementara warga lain, Ardiyan (45) mengungkapkan khasanah bagi umat Muslim di desa tersebut memang sudah ada sejak dahulu dengan tradisi kupatan yang dilangsungkan di masjid. Bagi umat yang sudah dewasa kesempatan tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur setengah bulan menjalani ibadah puasa dan bagi anak anak bisa menjadi pengajaran tentang kebersamaan.
“Selain memiliki sisi rohani tentunya bagi anak anak kita mengajarkan bentuk kebersamaan sebagai umat muslim dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini,”ujar Ardiyan.
Kebersamaan tersebut akan terasa ujar Ardiyan sebab selama berlangsung bulan Ramadhan, di masjid selalu berlangsung ibadah Sholat Taraweh berjamaah dan Qunutan merupakan momen yang menjadi pengingat untuk selalu bersyukur.
“Bersama sama bersyukur secara pribadi tetapi juga secara berjamaah karena telah diberi kesempatan menjalankan ibadah puasa hingga hari kelimabelas,”ujarnya.
Ia berharap dengan tetap dilestarikannya tradisi ini maka anak anak tetap bisa melestarikannya setiap bulan ramadhan. Semua anggota keluarga yang beragama muslim di sekitar masjid bahkan datang ke masjid dengan membawa makanan lengkap dengan lauk pauk yang akan dibagikan atau untuk makan bersama di teras masjid.

——————————————————-
JUMAT, 03 Juli 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...