Wartawan ‘Opok’

CENDANANEWS (Padang) – Siapa tak kenal dengan wartawan, baik didefenisikan secara profesi maupun sebagai jenis obat atau racun setitik di belanga kehidupan sosial bernama masyarakat. Banyak sebutan dan title tambahan yang disematkan ke profesi tersebut, mulai dari yang baik, hingga yang jelek. 
Wartawan sebagai sebuah pelaku dalam komunikasi massa bisa diklasifikasikan ke berbagai jenis, salah satunya menjadi obat sakit kepala atau lebih populer dengan nama “Wartawan Bodrek”. Obat bagi si wartawan, celaka bagi si narasumber yang harus merogoh kocek cukup dalam untuk sekali biaya liputan.
Mari kita letakkan wartawan bodrek ini dipinggir dahulu, sebab mereka tidak bisa dibawa ketengah lapangan konflik. Bisa-bisa mereka menjadi sumber fitnah dan perpecahan, sebab ketimpangan berita sesuai dengan upah yang “menimangnya”. Semakin enak timangannya, maka semakin bagus berita yang dibuat si bodrek ini.
Di Sumatera Barat ada jenis baru, dari wartawan bodrek ini. Mereka telah berkembang biak. Wartawan “Opok” namanya, satu genus namun beda spesies. Bagi masyarakat Sumatera Barat, atau Minangkabau, istilah ini sangat familiar. Namun menjadi bahan cemoohan. Hampir memiliki makna yang sama dengan sanjungan. Tapi sayangnya kata “opok” ini berkonotasi negatif dan mengandung cibiran.
Soal sanjung menyanjung ini, siapa pula yang tidak akan suka. Membuat dada menjadi kembang kempis, bahu serasa tinggi dan tentunya rasa sebagai manusia yang terbaik langsung hinggap. Apatah lagi, kalau yang menyanjung adalah wartawan. Barang tentu segala kebaikan, pujian, keutamaan diri akan cepat menyebar secara viral dengan seketika.
Biasanya jenis wartawan opok ini sangat dekat, bahkan punya hubungan khusus dengan berbagai pejabat. Ia menjadi paling awal mendapatkan informasi dari sipejabat yang sering di-opok-nya, tidak pernah ketinggalan. Karena ia dibutuhkan pejabat atau siapapun untuk meng-opok setiap kegiatan yang mereka lakukan. Agar menjadi berita yang berasa ada citra-citraannya gitu.
Mungkin, para wartawan opok ini telat berevolusi. Mindset yang mereka pakai bahkan jauh kebalakang pada zaman 500 tahun Sebelum Masehi!. Saat peran jurnalis masih menjadi pesuruh dan budak dari tuan-tuan tanah Romawi, dalam memburu informasi terbaru dipapan informasi bernama acta djurna. Menyedihkan.
Opok bukan saja sebuah sikap wartawan. Ini virus berbahaya yang bisa menular. Para pejabat, politisi dan kepala daerah adalah mereka yang rentan ter-infeksi. Mereka yang kena opok biasanya menikmati. Sehingga banyaklah para pegawai pemerintahan, penguasa, tokoh masyarakat bahkan tukang parkir musiman yang “orgasme” karena opok ini.
Jadi, wajar saja. Banyak yang menikmati opok. Dan mental tukang opokpun cepat menyebar. Dalam delapan orde-orde pemerintahan sebelumnya, jenis wartawan opok ini sangat dipelihara. Karena mereka pakai prinsip “asal bapak senang”. Meski dipelihara, populasi mereka sedikit. Selain saluran informasi yang sempit, jadi wartawan kala itu serupa bermain gaple dengan taruhan nyawa sendiri.
Nah di orde ke sembilan ini, saat orde Jokowi berkuasa. Wartawan opok menjamur. Serupa kurap yang ditutupi dengan celana yang lembab. Tak tanggung-tanggung, wartawan abal-abal mengantri dengan tenang. Sebab mereka dibutuhkan untuk meng-opok pemerintahan. 
Baik itu soal perekonomian, bahkan urusan baju pemimpin yang harganya seratus ribuan. Minimal membelokkan sejarah, menjadikan Jokowi sebagai presiden ke-tujuh dan menafikan dua presiden lainnya. Ah, wartawan, tapi tak kenal sejarah. Mungkin karena keseringan meng-opok.
Saat acara silaturrahmi, dan undangan berbuka puasa. Apalagi jelang lebaran. Mereka berbaris rapi, mengantri dengan tertib untuk menerima “upah” dari opok yang telah mereka tulis dan tayangkan menjadi berita. Wartawan opok ini serupa fakir miskin, ya… mereka inikan fakir-fakir mentalitas. 
Fakir ilmu pengetahuan, asal bisa mengetik dan memetik kamera sudah bisa jadi jurnalis. Bawa id card, dandan parlente agar perbedaan spesies tetap kentara. Sebab meski satu genus, bedanya wartawan bodrek yang berpakaian preman dan hobi memalak.
Yap, untuk menjadi wartawan opok. Anda harus cukup berpengalaman, kalau bisa puluhan tahun. Banyak kenalan, terutama mereka yang berpotensi jadi pelanggan opok. Meski menjijikkan, dagangan wartawan opok tetap laku keras. Jangan lupa, setiap pemberitaan, kabarkan yang baik-baiknya saja.
Padahal, bagi mereka yang beragama islam. Mereka yang sering menyanjung harus dilempari pasir ke wajahnya. Mutakharij hadist, menjelaskan bahwa Muhammad SAW mengajarkan agar segala puja dan puji yang berlebihan itu hanya milik tuhan yang maha esa. Hadist yang masyhur serta muttawair dan berhukum shahih ini masih dipraktekkan kala dinasty-dinasty Islam berkuasa.
Maka, wartawan opok ini juga memiliki muka badak dan telinga yang tuli. sehingga segala kabar miring tentang pelanggan opoknya tak akan terlihat. Semua kabar miring tak dihiraukan. Yang terpenting, opoknya tetap jalan. Pelanggan tetap senang. Sudahkah anda baca berita opok hari ini? Ciri-cirinya : pemerintahan selalu benar, baik, santun, dermawan dan menyejahterakan rakyat. Hati-hatilah dengan berita opok, karena itu racun berbahaya dalam penggiringan opini apalagi jelang pemilu kepala daerah.
——————————————————-
KAMIS, 09 Juli 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...