??Saluang Pauah Tampil (lagi) di Festival Nan Jombang Tanggal 3

PADANG –– Festival Nan Jombang Tanggal 3 (NJT3) kembali mempertunjukkan kesenian tradisi. Untuk 3 Agustus 2015 ini, panita mengetengahkan saluang pauah. Kesenian tradisi asal Pauh, Padang dengan menggunakan alat musik tradisional tiup yang terbuat dari bambu tipis atau talang.
Sebelumnya, pada April 2013, kesenian ini memang sudah pernah ditampilkan. Waktu itu, tampil Samsudin By Gunuang Alam dan Zamri Malin Bungsu.  Keduanya dianggap pedendang saluang pauah paling mumpuni saat ini di Kota Padang.
“Tujuan festival memang mencari kesenian tradisi yang hampir punah. Di samping itu, ikut mempertahankan yang telah ada. Makanya, saluang pauah kami panggil kembali,” kata Ery Mefri, pendiri helat.
Menurut koreografer Nan Jombang ini, tidak ada masalah sebuah kesenian tampil lagi di festival. bahkan ada kemungkinan, kesenian tradisi Minangkabau tidak sekali dua ditampilkan di NJT3.
Sementara itu, Buyung Bungo, panggilan Samsudin menceritakan, dari sejarahnya, Seni budaya yang muncul sekitar tahun 1940 itu,, awalnya dimainkan sepasang suami istri saat menanam padi. Untuk membujuk lelah, suami meniup pupuik padi (batang padi yang dilubangi). Istri mengiringi dengan dendang halus.
“Istilah kami dulu disebut marunguih. Suami terus saja meniup pupuik padi. Si istri juga, mengiringinya dengan marunguih,” cerita Buyung Bungo.
Dulu sering dimainkan dalam berbagai perhelatan. Belum menyerupai tampilannya yang sekarang. Jumlah tukang dendang kala itu banyak, dan saluangnya satu. Dibarengi juga dengan gendang rabana. Tidak ada cerita, baru berbentuk raun sabalik (pantun bebas). Sekitar 1980, dendang pauh dimodifikasi, Dimainkan satu pen­dendang dan satu tukang sa­luang (peniup seruling), serta mulai memainkan cerita.
Penampil pada fetival yang diadakan pada Pukul 20.00 WIB itu adalah Zamri Malin Bungsu, Amiruddin dan Azwar. 
SENIN, 03 Agustus 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Istimewa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...