28 Hari Festival Kesenian Yogyakarta 2015 Diawali Tarian Tolak Bala

YOGYAKARTA — Sejak tahun 1988, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) selalu diadakan setiap tahun di pusat kota tepatnya di komplek Museum Benteng Vredeburg, Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Acara besar yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DIY bekerjasama dengan berbagai elemen kesenian tersebut digelar sebagai ajang eksibisi para pengrajin, kreator dan seniman berbagai bidang.
Namun, untuk Festival Kesenian Yogyakarta Ke -27, kali ini diadakan di komplek Taman Kuliner Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta, dan akan berlangsung selama 28 hari sejak hari ini, Rabu (19/08/2015). 
Ari Wulu, Ketua Panitia FKY 2015 mengatakan, lebih dari 4000 seniman turut berpartisipasi dalam kirab budaya pembukaan FKY 2015.
Kirab Budaya Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta Ke-27, diawali dengan Tari Edan-edanan (gila-gilaan-red). Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, Tari Edan-edanan itu biasa digelar dalam prosesi kirab pengantin putri keraton yang digelar sebagai simbol tolak bala. Dalam gelar FKY 2015, Tari Edan-edanan juga menjadi barisan pertama dari puluhan peserta kirab budaya pembukaan FKY tersebut.
Kirab Budaya Edan-edanan mengambil rute di sepanjang Jalan Kaliurang, diikuti oleh 31 kontingen dari berbagai kelompok kesenian di wilayah DIY. 
Masyarakat tumpah ruah memadati kawasan Jalan Kaliurang, tepatnya di kawasan Kampus UGM Yogyakarta. Mereka antusias menyaksikan kirab yang sungguh menampilkan berbagai kreasi seni tradisional kota yang dikenal sebagai kota budaya tersebut.
Barisan kirab selengkapnya terdiri dari Tari Edan-edanan, Paskibraka Jawa, Marching Band Projotamansari, Kontingen Kabupaten Sleman, Jathilan Turonggo Bekso Code Laras, Sanggar Seni Gita Gilang, Marching Band SD, Sanggar Suryo Bawono, Jathilan Ngesti Turonggo Budoyo, Bregodo Nitimanggala, Kontingen Kabupaten Gunungkidul, Youngters Gamelan, Jathilan Sanan Bawuran, dan banyak lagi.
FKY 2015, kata Wulu, memang dibuat berbeda dari yang pernah diselenggarakan sebelumnya. Lokasi utama yang biasa diadakan di Benteng Vredeburg, kini juga dipindah ke Taman Kuliner Condongcatur. Pilihan tempat ini, menurutnya, karena Taman Kuliner tersebut memiliki luas lahan yang memungkinkan setiap peserta FKY untuk berkreasi dan memajang hasil kreasi yang hendak ditawarkan kepada masyarakat luas secara lebih leluasa. 
Tari Edan-edanan yang baru kali ini ada dalam pesta pembukaan FKY, sambung Wulu, juga sengaja dibuat sebagai simbol perubahan dalam tradisi penyelenggaraan FKY. 
“Edan-edanan itu artinya perpanjangan dari kata dandan yang berarti bersolek atau berbenah. Dengan upaya itu kita berharap FKY kali ini bisa memperbaiki kekurangan dari penyelenggaraan FKY sebelumnya, dan bisa menopangi dan bukan menopengi budaya Yogyakarta. Apalagi hanya sekedar rutinitas tahunan,” ungkapnya.
Sebagai sebuah perhelatan tahunan, dalam setiap penyelanggaraannya FKY selalu menjadi harapan bagi para pengrajin, seniman dan mereka yang bergelut di bidang bisnis benda-benda bernilai seni. Tetapi sejak beberapa tahun terakhir, FKY seperti terjebak dalam rutinitas tahunan dan dinilai hanya menguntungkan sejumlah pihak. Karena itu, FKY 2015 kali ini dibuat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sebagai upaya keluar dari kejenuhan masyarakat penikmat dan pelaku keseniannya. 

RABU, 19 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...