Akmal Tantu : Penyiar dan Editor Wajib Menguasai EYD

Akmal Tantu
KENDARI—Perubahan zaman memiliki dampak terhadap kecintaan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan media televisi memiliki peran penting untuk menanamkan rasa cinta pada penggunaan bahasa Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Akmal Tantu, Komandan Pemberitaan TVRI Sulawesi Tenggara. (Baca juga : TVRI Sulawesi Tenggara Sosoito! dan Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar Harus Dijadikan Kebutuhan)
Dengan pengabdian selama lebih dari 30 tahun di TVRI Sulawesi (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara), ia menegaskan bahwa jika sudah berkomitmen kerja di media harus menguasai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), terutama seorang penyiar. Ia bahkan menegaskan bahwa filter terakhir adalah seorang penyiar. 
“Filter terakhir pada media cetak atau online adalah seorang editor, editor harus menguasai EYD, itu harga mati, untuk media televisi, filter terakhir adalah penyiar,” jelasnya.
Terkait penyiar sebagai filter terakhir, ia mencontohkan sebuah peristiwa yang pernah terjadi pada tahun 1983 di TVRI Sulawesi Selatan. “Pada saat itu pertama kali diterapkan penggunaan helm bagi pengendara kendaraan roda dua, salah satu penyiar kami, melakukan kesalahan dalam “membaca” tanda baca koma menjadi titik. Dan akibatnya fatal, Saya tidak perlu menyebutkan nama karena beliau sudah meninggal,” urainya.
Berita yang harus dibaca oleh penyiar tersebut adalah tentang pernyataan seorang pemuka agama menyikapi diberlakukannya peraturan penggunaan helm. “Isi berita adalah “Menurut KH Fadel Imran menggunakan helm adalah wajib”, ada tanda baca koma sesudah wajib, tetapi penyiar tidak melanjutkan kalimat sesudah tanda baca koma, efeknya luar biasa, mahasiswa IAIN pada masa itu langsung naik pitam dan berteriak apa landasannya memakai helm adalah wajib,” ujar Akmal mengisahkan. 
Mereka menunjukkan amarahnya dengan mendatangi rumah Sang Kyai, tak hanya itu, mereka juga melempari rumah KH Fadel Imran hingga terjadi kerusakan parah. Keadaan tersebut bisa diredam setelah sejumlah anggota Polri dan ABRI (saat ini TNI) dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pengamanan. 
Padahal, ia menyampaikan kalimat utuh yang seharusnya dibaca oleh penyiar adalah Menurut KH Fadel Imron menggunakan helm adalah wajib, menurut Undang-Undang yang berlaku. Kejadian tersebut bisa dijadikan contoh bahwa seorang penyiar harus menguasai EYD. “Tanda baca koma dan titik harus ditulis dan diucapkan dengan benar,” lanjutnya.   
Tetapi kesalahan-kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam penyiaran, kini, seolah menjadi hal lumrah dan bisa ditoleransi. Itu yang mendorongnya mencanangkan Program Perubahan, implementasi bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penyiaran dan penulisan naskah. 
Menurutnya, Seorang penyiar yang baik, adalah yang mampu mengarahkan narasumber untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan justru penyiarnya ikut-ikutan. Ia mencontohkan, kata diberikan dikatakan dengan dikasihkan, kata ditunjukkan disampaikan dengan dikasi lihat. 
Ia melanjutkan, penduduk Sulawesi Tenggara adalah salah satu pengguna bahasa Indonesia yang kurang benar. Contoh memerintahkan mematikan lampu dengan kata bunuh, “lampunya tolong dibunuh”, tetapi jika dilatih, hal tersebut bisa dirubah, Dan salah satu yang memiliki tanggung jawab untuk mencontohkan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah media, khususnya TVRI. 
“Perhatikan penyiar TVRI senior, perhatikan bagaimana beliau-beliau berbahasa Indonesia ketika menyampaikan berita, sangat baik dan tepat, sehingga pemirsa mencontohnya, tetapi lihat yang terjadi sekarang, ada penyiar televisi yang menyebut seorang Pahlawan dengan Dia, sedih sekali saya melihatnya,” ucapnya.
Akmal melanjutkan, “Seperti halnya penggunaan anda, apa itu salah, tidak. Tetapi seorang penyiar jangan gunakan “jadi menurut anda” kepada narasumber,  akan jauh lebih sopan jika diganti dengan “jadi menurut ibu, jadi meunrut bapak”. Bahasa Indonesia itu bahasa yang sopan,” lanjutnya. 
Diakhir pembicaraan, Cendana News menanyakan pengalaman apa yang paling membanggakan baginya selama menjadi bagian dari TVRI, ia menegaskan dengan bangga “Saat saya ditunjuk sebagai penyiar pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIII, XIV dan XIV, itu untuk skala nasional. Untuk skala internasional, Seagames XIV,” tutupnya.
MINGGU, 23 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Gani Khair
Foto : Gani Khair
Editor : Gani Khair
Lihat juga...