Batu Batikam, Saksi Pertengkaran Dua Pemimpin Minangkabau

Batu batikam
TANAH DATAR — Pertentangan hebat yang terjadi antara dua pemimpin Minangkabau yang kebetulan bersaudara, memaksa kedua pemimpin besar itu mengambil sebuah kesepakatan. Daripada saling melukai, mereka berdua lebih memilih untuk menikamkan Keris saktinya ke sebuah batu, yang sekarang dikenal dengan Batu Batikam.
Jika diartikan ke bahasa Indonesia, batu batikam berarti batu yang ditusuk. Terkesan menyeramkan memang, tapi Batu Batikam mampu membuat wisatawan penasaran. Selain mengandung sejarah, batu ini dapat menjadi pelajaran bahwa begitu pentingnya sebuah arti perdamaian.
Lokasinya yang terletak di pinggir jalan raya Batusangkar-Padangpanjang membuat tempat ini dapat dengan mudah ditemui. Luas situs cagar budaya Batu Batikam adalah 1.800 meter persegi. Ditempat tersebut dahulunya berfungsi sebagai tempat musyawarah para tetua adat atau Medan Nan Bapaneh.
Susunan batu disekeliling objek menarik ini, seperti sandaran tempat duduk, berbentuk persegi panjang melingkar. Batu ini terbuat dari bahan Andesit yang amat keras. Batu Batikam ini sendiri berukuran 55x20x40 cm, dengan bentuk hampir menyerupai segitiga. 
Keunikan dari batu ini, tentu saja karena lobang di tengah batu yang terjadi akibat bekas tusukan dari Datuak Parpatiah Nan Sabatang.
Secara logika, hal ini mungkin sulit diterima, mengingat batu adalah sebuah benda yang sangat keras. Tapi, hal ini sudah terjadi dan bekasnya masih bisa disaksikan hingga hari ini.
Untuk menuju ke sana, Batu Batikam terletak di Dusun Tuo, Limo kaum, Tanah Datar, hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja dari kota Batusangkar dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum.
Adanya Batu Batikam, bisa dijadikan pelajaran bahwa pertikaian tidak selalu harus diselesaikan dengan kekerasan, seperti yang telah ditunjukkan oleh Datuak Katumangguang dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Selain mengenai sejarahnya yang menarik, lokasinya juga ditumbuhi pohon beringin besar yang menambah kesakralan tempat ini.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Tanah Datar, sungguh rugi rasanya jika tidak mampir ke tempat penuh kenangan ini. Jika tidak tahu akan informasi mengenai batu ini, maka pengunjung nanti akan dipandu oleh warga sekitar sebagai guide.?
Sekilas kisah. 
Dahulu, Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan merupakan dua saudara tiri yang berlainan bapak. Sifat keduanya pun sangat berbeda, Datuak Parpatiah Nan Sabatang adalah seorang sosok yang dilahirkan dari seorang bapak yang memiliki darah aristokrat (cerdik pandai), sementara Datuak Katumanggungan adalah sosok yang dilahirkan dari seorang bapak yang otokrat (raja-berpunya).
Tetapi kedua diantara mereka lahir dari seorang rahim ibu yang sama, dimana seorang wanita biasa seperti lainnya.
Dalam pemerintahan pun, keduanya memiliki cara pandang yang berbeda. Datuak Parpatiah menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang demokratis, atau dalam tatanannya, “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Namun Datuak Katumanggungan menginginkan rakyat diatur dalam tatanan yang hirarki “berjenjang sama naik, bertangga sama turun”.
Karena perbedaan tersebut mereka berdua bertengkar hebat. Untuk menghindari pertikaian dan tidak saling melukai, Datuak Parpatiah dan Datuak Katumanggungan kemudian menikam batu tersebut dengan keris sebagai pelampiasan emosinya. Maka dari itu Batu Batikam memiliki sebuah lubang yang menembus dari arah sisi depan dan belakang.
MINGGU, 02 Agustus 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...