Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar Harus Dijadikan Kebutuhan

Akmal Tantu
KENDARI—Dalam perjalanannya 53 tahun menyatukan Indonesia, TVRI Pusat maupun Daerah memiliki jasa yang luar biasa dalam menyiarkan aneka informasi ke seluruh pelosok negeri. Menurut Akmal Tantu, komandan pemberitaan di TVRI Sulawesi Tenggara (Baca berita : TVRI Sulawesi Tenggara Sosoito!), roh dari TVRI adalah mengobarkan semangat kebersamaan, kebangsaan, nilai kesopanan dan nilai tata krama. Roh tersebut memiliki dampak luar biasa bagi pemirsa di seluruh Indonesia.  
“Tata krama dan kesopanan sesuai dengan daerah masing-masing, itu terasa sekali. Dulu, saya tidak berani membantah apalagi mengkritik pedas senior saya, beda 6 bulan saja itu sudah senior, ada tata krama yang diajarkan, bahwa semuanya dimusyawarahkan dengan baik bukan diprotes atau dikritik dengan keras apalagi dimuka publik,” jelas Akmal
Hal itu ia rasakan berbeda dengan generasi sekarang yang seringkali baru masuk beberapa minggu sudah berani melawan seniornya dengan alasan semua memiliki hak untuk bicara. Perbedaan lain, menurutnya adalah rasa memiliki, “Dulu, persiapan tugas operasional bisa dari sore hingga dini hari, dan dilakukan dengan nikmat karena ada rasa memiliki TVRI dan rasa kebersamaan antar tim, tetapi sekarang, asal merasa sudah selesai kerjanya, ya sudah,” jelas lelaki yang lebih dikenal dengan panggilan Ayah oleh tim kerjanya. 
Ia menyadari bahwa zaman sudah berubah dan tak menyangkal bahwa salah satu hal yang memberi kontribusi dalam perubahan tersebut adalah media, khususnya media televisi. Ia menyampaikan, perubahan yang paling membuatnya prihatin adalah mengenai penggunaan Bahasa Indonesia di media, khususnya televisi.
“Dalam Sumpah Pemuda jelas disampaikan Satu Bahasa, Bahasa Indonesia. Jadi berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah sebuah kebutuhan. Penjajahan dibidang bahasa tidak bisa dianggap sepele,” jelasnya dengan nada tegas. 
Menyikapi perubahan yang baginya sangat memprihatinkan, ia tak hanya sekedar “ngomel” tetapi membuat tindakan nyata yang ia wujudkan dalam Program Perubahan, yang menyuarakan implementasi bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penyiaran dan penulisan naskah.
Kepada Cendana News, di ruang kerjanya pada hari Minggu (23/8/2015) ia mencontohkan “penyelewengan bahasa” yang sering ia temui di media. Yang menurutnya juga pernah dilakukan oleh timnya di TVRI Sulawesi Tenggara, “Contoh, ketika menyebutkan nomor telpon seluler, sangat sering mengatakan “kosong delapan satu, kosong delapan lima, kosong delapan dua”, tidak bisa dibenarkan itu dalam bahasa Indonesia, yang benar adalah nol delapan satu, nol delapan dua, nol delapan lima, itu pelajaran SD (Sekolah Dasar),” ucapnya. 
“Penyelewengan” lain yang ia contohkan adalah seringnya melibatkan bahasa Inggris ketika berkomunikasi dengan nara sumber, “Contoh, tidak sedikit yang mengatakan “jadi untuk next apa yang akan dilakukan selanjutnya”, dan banyak lagi,” lanjutnya.
Harapannya, generasi muda tetap dan semakin menghargai bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa yang harus dibanggakan,”Tidak semua negara memiliki bahasa sendiri, Indonesia salah satu negara yang memilikinya, harusnya bangga dan tidak melakukan pembiaran ketika ada penjajahan bahasa, generasi muda bangsa harus terus dicerahkan bahwa berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah sebuah kebutuhan,” tutupnya.
MINGGU, 23 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Gani Khair
Foto : Gani Khair
Editor : Gani Khair
Lihat juga...