BMKG DIY: Puncak Musim Kemarau Terjadi di Bulan Agustus

Indah Retno Wulan jelaskan fenomena L Nino
YOGYAKARTA — Terkait musim kemarau panjang tahun ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY, menyatakan bulan Agustus ini merupakan puncaknya musim kemarau. Masyarakat yang berada di daerah minim sumber air diimbau untuk lebih hemat menggunakan air. Para petani juga diimbau untuk berkoordinasi dengan dinas pertanian setempat, agar bisa tepat menentukan awal musim tanam dan jenis tanamannya.
Sejak awal musim kemarau tiba, BMKG DIY telah memberikan warning kepada masyarakat luas. Tetapi masyarakat juga perlu tahu penyebab terjadinya musim kemarau panjang itu, supaya tak lagi terus berulang setiap tahunnya. Secara umum, masyarakat selama ini mengetahui jika musim kemarau panjang itu disebabkan oleh adanya fenomena L Nino. Namun, apa penyebab terjadinya fenomena L Nino itu?  
Ditemui di ruang kerjanya, Rabu (19/8), Indah Retno Wulan, Kasi Data dan Informasi BMKG DIY mengatakan, fenomena L Nino adalah menghangatnya suhu permukaan air laut di Samudara Pasifik bagian timur yang menyebabkan uap air di Indonesia tersedot ke Samudara Pasifik bagian timur itu, sehingga mengurangi curah hujan di Indonesia. Melihat gejalan dan hasil pengamatan terakhir, kata Wulan, diketahui curah hujan saat ini sudah sangat berkurang. Dari 70 persen menjadi 100 persen. Artinya, sama sekali tidak ada hujan. 
“Padahal, seharusnya bulan ini masih ada hujan. Namun, sekarang di bulan Agustus ini sudah nol sama sekali. Karena itu, bulan Agustus ini merupakan puncaknya musim kemarau”, jelasnya. 
Disebutkan, Fenomena L Nino, seperti juga fenomena La Nina, tidak bisa diprediksi jauh hari. Karena itu, BMKG selalu membuat revisi prakiraan cuaca dan musim jika terjadi perubahan sewaktu-waktu. 
Selain itu, selama ini BMKG selalu berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Kelautan, juga bekerjasama dengan Dinas Pertanian. BMKG, mengeluarkan produk yang disebut KATAM. Yaitu, Kalendar Masa Tanam.
Dijelaskan Wulan, kalender KATAM menginformasikan mengenai jenis tanaman yang cocok untuk musim tertentu. Misalnya, awal musim kemarau dalam KATAM dimulai bulan April. Berdasarkan data tersebut, Dinas Pertanian akan menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam. 
KATAM dibuat pada setiap awal musim. Data prakiraan dan musim yang dikeluarkan oleh BMKG dan hasil kajian Dinas Pertanian itulah yang kemudian KATAM. Namun demikian, KATAM itu tidak dikonsumsi langsung oleh petani. Melainkan, melalui Dinas Pertanian. 
“Ini karena tidak semua informasi BMKG itu bisa diberikan langsung kepada masyarakat, mengingat data-data BMKG yang membutuhkan pemahaman secara khusus atau keilmuan,”sebutnya.
Telah menjadi sesuatu hal yang harus diterima, jika sekarang ini musim menjadi seringkali tidak menentu. Musim hujan terjadi lebih panjang atau pendek, demikian pula dengan musim kemarau yang bisa pendek atau lebih panjang dari normalnya seperti yang terjadi tahun ini. Fenomena L Nino dan La Nina yang sering disebut-sebut sebagai penyebab tidak menentunya musim, sebenarnya bukan penyebab yang paling mendasar.
Menurutnya, fenomena L Nino dan La Nina itu dulu hanya terjadi dalam kurun waktu 10-15 tahun. Namun, sejak terjadi revolusi industri di negara-negara maju, fenomena L Nino dan La Nina semakin sering terjadi. Jika L Nino efeknya menimbulkan kekeringan, La Nina menyebabkan penambahan uap air di Samudera Pasifik bagian timur, sehingga menyebabkan curah hujan tinggi. Namun, L Nino juga bisa terjadi di musim hujan yang membuat curah hujan berkurang atau bahkan sama sekali tidak hujan.
Revolusi Industri yang mulai terjadi di Negara Inggris di abad 18 Masehi, menyebabkan tingkat polusi udara bertambah pesat. Dan, itu pengaruhnya sangat terasa di atmosfir. Itulah yang disebut dengan pemanasan global. 
Celakanya, dampak revolusi industri dan kemajuan zaman sekarang ini semakin memperparah terjadinya pemanasan global. 
“Karena penyebab semakin seringnya terjadi fenomena L Nino dan La Nina adalah pemanasan gobal, maka solusinya adalah penghijauan. Perilaku ramah lingkungan menjadi sangat penting dilakukan. Pola hidup manusia yang cenderung merusak alam harus dihentikan”, pungkas Wulan.
Indah Retno Wulan memeriksa alat pengukur kelembaban suhu udara.
RABU, 19 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...