BNP Tangani 600 Kasus Penyalagunaan Narkoba di 2015

Ilustrasi [net]

AMBON — Badan Narkotika Provinsi (BNP) Maluku mencatat, hingga 2015, pihaknya menangani lebih kurang 600 kasus penyalagunaan narkotika. Dimana rawat inap untuk 42 orang dan akan ada tambahan 36 orang di Rindam Suli.

“Tambahan 36 orang di Rindam Suli dalam minggu ini akan masuk dalam rawat inap juga,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNP Maluku, Martje Nunumete, yang dikofirmasi Cendana News di Ambon Senin sore (24/08/2015)

Disebutkan, selain di Rindam Sulu, SPN Passo juga digunakan BNP sebagai tempat rehabilitasi. Ada 16 orang di sana dan akan menyusul 25 orang pada pekan ini.

Dia menyebutkan, catatan tersebut merupakan pengguna narkoba yang melaporkan diri secara sukarela atau dilaporkan oleh keluarga. Namun, pengguna yang kedapatan dari hasil swiping (tangkap tangan), langsung ditangani oleh kepolisian.
Kata dia, sejumlah kasus narkoba yang harus ditangani secara hukum hal itu merupakan kewenangan pihak Kepolisian dan bukan kewenangan BNP.
Alasannya, hal itu sudah dibicarakan dalam kerjasama antara BNP Maluku dan Kepolisian. Karena Kepolisian punya penyidik narkoba dan untuk proses hukum kewenangan itu dilakukan pihak Kepolisian.
BNP hanya menerima laporan sukarela baru diproses atau kita tangani.
Kata dia, untuk rawat jalan dan inap itu tergantung hasil pemeriksaan oleh BNP. Jika sudah melaporkan ke BNP untuk ditangani maka persoalannya tidak akan ditangani oleh kepolisian.
“Sejauh ini kasus narkoba yang ditangani oleh BNP lebih banyak didominasi oleh mahasiswa dan pelajar dan orang dewasa lainnya. Tapi sampai saat ini belum ada pejabat di Maluku yang direhabilitasi di BNP Maluku,” katanya.
Soal fasilitas rehabilitasi BNP menampung para pengguna narkoba di SPN Passo dan Rindam Suli, karena BNP Maluku belum memiliki fasilitas rehabilitasi.
“Proses rehabilitasi kita tetap melakukannya secara maksimal. Sehingga mereka yang keluar dari tempat rehabilitasi akan langsung bebas dari narkoba tersebut,” katanya.
Sebelum masuk di tempat rehabilitasi para pengguna narkoba itu lebih awal diperiksa mulai kondisi fisik pihak Rumah Sakit Khusus (RKS) Jiwa.
Hasilnya, akan diketahui dinama pemakai narkoba akan dimasukan. “Apakah dimasukan di Rindam Suli, rawat inap atau masuk di SPN Passo. Ataukah melewati proses rawat jalan,” imbuhnya.

SENIN, 24 Agustus 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...