Bunda…

CERPEN — Baru dalam hitungan bulan menjadi istri Pak Kades, wanita muda itu telah dipanggil Bunda oleh para pegawai dan para istri pegawai di Kantor Desa. Bahkan para ketua RW dan RT pun memmanggilnya dengan panggilan Bunda pula. Dan panggilan Bunda telah menyebar bak virus korupsi di Desa Kami, Desa terbelakang.
Kehadiran Bunda memang menjadi tantangan dan handicap tersendiri bagi para pegawai kantor Desa. Semua persoalan yang menyangkut kehidupan publik mulai diurus Bunda. Tak pelak konon kabarnya ini telah menyebar pula bak virus mers yang mulai menakutkan. Kondisi ini tentu saja memusingkan para pegawai Kantor Desa. Semua kegiatan selain harus dilaporkan kepada Pak Kades, wajib pula diketahui Bunda.
” Saya sungguh tak percaya kalau kini di Kantor Desa telah ada kepemimpinan ganda. Saya tak percaya sama sekali. Buat apa kita mengangkat Pak Kades kalau kini kepemimpinannya mulai tergerus oleh Bunda,” ujar Matyusuf saat para warga berkumpul di pinggir pantai menunggu datangnya para nelayan dari menangkap ikan diganasnya ombak lautan.
” Saya juga berpikiran demikian. kalau begitu Pak Kades telah menyalahgunakan wewenangnya dan mengingkarai amanat rakyat,” celetuk yang lain.
” Iya. Lantas apa sih kehebatannya Bunda itu kok Pak Kades keok,” tanya Matmat. mendengar itu para warga dan kaum Ibu-ibu langsung tertawa terbahak. Suara tawa mareka gegerkan alam. Air laut pun mulai menyurut. Cahaya rembulan mulai berangkat dari pembaringannya untuk cerahkan bumi dan penghuninya.
Cahaya rembulan bersinar terang. seterang hati para penghuninya. Disudut pojok belakang rumah Pak Kades, dua orang manusia berlainan jenis tampak asyik berdiskusi. Kadang diksi kencang hingga mengejutkan para penjaga rumah orang nomor satu di Desa Kami itu. Kadang suaranya amat manja.
” Kalau Bapak tak maju lagi sebagai Kades, apa kata orang Desa ini tentang kita, Pak,” ujar wanita yang akrab dipanggil Bunda itu.
” Tapi bapak sudah hampir 15 tahun menjadi pemimpin Desa ini. Perlu regenerasi. Lagi pula prestasi Bapak tak ada buat masyarakat. Apa mareka masih mau memilih pemimpin mareka yang tak berprestasi,” ujar Pak Kades dengan narasi setengah bertanya.
” Itu soal gampang. Itu persoalan kecil. Mudah solusinya. Bapak kan banyak fulus. Kita gelontorkan saja buat mareka,” jawab Bunda sambil meninggalkan pak Kades sendirian. Malam makin melarut. Desis anjing liar mulai mendengus mencari mangsa. Langit memburam. Kunang-kunang pun enyah sinarnya. Entah kemana.
Desakan agar pak Kades tak maju lagi dalam Pilkades sudah pernah diungkapkan para sesepuh Desa dan para tokoh masyarakat saat mareka bertemu dengan Pak Kades. Namun narasi itu tak digubris Pak Kades.
” Majunya saya dalam Pilkades adalah hak demokrasi saya dan konstitusional. Kalau bapak-bapak tak mau mencoblos saya tak masalah. Masih banyak warga yang mau memilih saya,” tegas Pak Kades.
Dan para sesepuh Desa dan tokoh masyarakat pun pulang dengan wajah tertunduk malu.
Isu kembalinya Pak Kades mencalonkan diri sebagai kades mulai menjadi perbincangan di masyarakat. Pro kontra pun tercipta. Nada-nada hujatan pun mulai bergema menghiasi hari-hari desa Kami. Tiada hari tanpa membicarakan isu tentang pencalonan kembali pak Kades.
” Pak Kades ini memang orang yang dak nabat. Masa selama memimpin Desa tanpa prestasi untuk kita, masih saja mau berkompetisi. Ini benar-benar diluar dugaan otak besar saya,” ujar MatLiget.
” Tapi itu kan hak demokrasi pak Kades Bung yang dilindungi Undang-undang,” jawab yang lain.
” Benar. Tapi apa Pak Kades mau dipermalukan masyarakat Desa ini?” tanya Matliget lagi. semua yang mendengar hanya terdiam membisu. Tak ada satu pun narasi yang keluar dari mulut mareka.
Pemilihan Kades sudah diambang pintu. Dalam kompetisi Pilkades kali ini Pak Kades mempunyai dua penantang. Keduanya bukan cuma dikenal warga desa kami, namun keduanya memiliki track record hebat sebagai pengabdi buat masyarakat. 
Dua penantang pak Kades ini memang bangsawan pikiran bangsa yang bukan hanya pintar dan berpendidikan, namun keduanya maju karena adanya desakan dari warga Desa kampung kami.
“Saya maju karena diminta masyarakat untuk mengabdi kepada mareka,” ujar penantang pak Kades.
Semakin mendekati hari pencoblosan, rumah pak Kades makin sepi didatangi para pendukungnya. Usaha Bunda dengan memanjakan masyarakat pun hambar. bahkan kunjungannya ke RT-RT hanya dihadiri para perangkat RT saja. Tak pelak kondisi ini membuat Bunda mulai gundah.
” Gimana nih Pak RT, kok setiap saya datang masyarakat sepi. Apa Pak RT tak mengundang mareka,” tanya Bunda.
” Sudah Bunda. Malah saya kirimi sms pula selain undangan resmi,” jawab Pak RT.
” Lantas kenapa mareka tak hadir,” desak Bunda.
” Mana saya tahu Bunda. Mungkin mareka punya kesibukan tersendiri,” jawab pak RT.
Kegundahan Bunda makin menjadi-jadi saat kampanye Pak Kades di lapangan bola Desa, jumlah yang hadir sangat minim. Padahal panggung hiburan diisi oleh para penyanyi dangdut beken ibukota. 
” Ada apa dengan warga Desa ini,” tanya Bunda usai kampanye dilaksanakan. Pendukung Pak Kades tak ada yang bernarasi dan berapologi. Semua hanya diam.
Tiga bulan usai pencoblosan Pilkades di desa Kami yang dimenangkan rival Pak Kades, tersiar kabar bahwa Bunda dan Pak Kades tak tinggal serumah lagi. Pak Kades kini mulai banyak beraktivitas kembali di dunia perdagangan yang memang menjadi profesi awalnya.
Rumah Pak Kades pun kini sepi. Seakan-akan tak berpenghuni. Tak ada lagi aktivitas keramaian sebagaimana biasanya saat pak Kades masih menjadi orang nomor satu di Desa Kami. Tak ada lagi orang-orang berkumpul di halaman rumah Pak Kades. Tak ada lagi penjagaan. Rumah mewah itu kini bak tanpa penghuni. Rumput-rumput dihalaman pun mulai tak terurus dan tumbuh subur bak rimba kecil. Bahkan  warga pernah melihat ada biawak dan buaya yang berkeliaran di halaman rumah pak Kades saat mareka melewati rumah mantan penguasa Desa saat mareka hendak ke kebun dan pantai.
Warga Desa kami geger ketika membaca koran Ibukota bahwa Pak Kades telah ditangkap penegak hukum karena korupsi dana Desa dan menjual lahan untuk kepentingan pribadinya. Menurut data di koran itu, Pak Kades kini telah ditahan disalah satu rumah tahanan di Ibukota provinsi.
Dan warga Desa Kami kembali geger ketika mendengar kabar bahwa Bunda kini telah menikah dengan lelaki muda dan mareka tinggal disalah satu perumahan elite di Ibukota negara.
Catatan
Dak Nabat dalam bahasa Toboali artinya Tidak tahu diri.
SABTU, 01 Agustus 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...