Cemari Lingkungan, Warga Dua Desa di Lamsel Adukan Pabrik Es Ke Pemda

LAMPUNG — Pabrik es yang berdekatan dengan dua desa di Lampung diduga melakukan pencemaran terhadap lingkungan. Dan hal tersebut sudah dilaporkan oleh warga Dusun 2 Sabah Tuha Desa Hara Banjar Manis dan Desa Kedaton Kecamatan Kalianda ke pemerintah Lampung Selatan. mereka meminta agar dilakukan penutupan pabrik tersebut hingga keberadaannya tidak mengganggu masyarakat.
Dalam surat yang dikirim ke Pemda Lampung Selatan yang ditembuskan ke berbagai pihak termasuk Camat Kalianda disebutkan, pencemaran lingkungan yang dilakukan Pabrik Es tersebut sudah sangat meresahkan masyarakat. Pencemaran tersebut berupa pencemaran air tanah. Air sumur masyarakat sekitar menjadi asin dan bau, tidak bisa diminum lagi serta bila dipakai mandi badan menjadi gatal-gatal.
Kedua pencemaran udara, karena sering pabrik  es tersebut membuang gas amoniak ke udara, sehingga mengakibatkan masyarakat sesak nafas dan mata selalu mengeluarkan air serta terasa pedih tidak bisa melihat.
Selain itu pabrik es tersebut sering membuang limbah ke sawah warga akibatnya tanaman padi warga menjadi mati. Sebab selama ini warga yang berprofesi sebagai petani juga menggunakan aliran sungai yang keluar dari limbah pabrik tersebut.
“Kejadian pembuangan gas ke udara dan membuang limbah ke sawah warga bukan hanya sekali dua kali tapi sering sekali, jika kita mengklaim baru mereka akan mengganti rugi, tapi bukan ganti rugi yang kita minta melainkan agar pabrik es tersebut tidak membuang limbah sembarangan,”kata Kepala Dusun 2 Sabah Tuha Desa Hara Banjar Manis Solihin, Senin (31/8/2015).
Ia bahkan sudah lama memperingatkan agar pabrik es tidak membuang limbah sembarangan, bahkan pihak pemgelola pabrik es pernah berjanji tidak akan melakukannya lagi dengan perjanjian tertulis yang diketahui oleh kepala desa, tapi pihak pabrik es selalu tidak menepati janjinya. Maka masyarakat sekarang minta agar pabrik es tersebut ditutup.
“Selain pabrik es tersebut mencemari lingkungan, juga keberadaan sudah menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah karena di lokasi tersebut untuk pemukiman warga bukan untuk industri,”ungkapnya.
Menurut Solihin, permintaan agar pabrik es tersebut ditutup bukan atas kemauannya,  tapi atas usulan masyarakat yang merasa sangat dirugikan.
“Masyarakat sering akan mendatangi pabrik es tersebut untuk melakukan aksi tapi saya cegah, karena saya tidak mau terjadi keributan,”ujar Solihin.
Hal serupa juga disampaikan Kepala Desa Hara Banjar Manis Kecamatan Kalianda Zulkifli M. Kasim. Ketika dikonfirmasi dia membenarkan bahwa masyarakat telah mengirim surat pengaduan  ke Pemda Lampung Selatan melaporkan kejadian ini dan  pihaknya telah mendapatkan tembusan surat tersebut dan masyarakat minta agar pabrik es tersebut ditutup, karena sudah sangat meresahkan. Sebab pencemaran yang dilakukan sudah sangat banyak. 
Bahkan dipastikan hari ini Senin siang (31/8) Kepala desa bersama sejumlah warga berniat akan menghadap ke Camat Kalianda untuk membicarakan persoalan ini.
“Saya memang dipanggil camat Kalianda tapi agar seluruh warga mengetahui dan menyaksikan pembicaraan saya dengan camat saya mengajak serta beberapa warga,”ungkap Zulkifli.
Pertemuan tersebut akan dilakukan untuk mencari solusi terbaik terkait persoalan tersebut. Sementara warga masyarakat yang selama ini sungainya tercemar dan sumur yang sehari hari digunakan untuk keperluan mandi tak bisa digunakan lagi terpaksa meengambil air dari sumber mata air yang ada di wilayah lain. Mata air yang dimanfaatkan warga diantaranya di Desa Sukaratu yang diperbolehkan untuk dimanfaatkan warga sebagai sumber kebutuhan masyarakat. Kesulitan warga dirasakan bahkan ditambah dengan musim kemarau yang melanda sehingga saat hujan turun sebentar warga memanfaatkan tempat tempat penampungan untuk menampung air hujan yang turun.
Ember penampung air hujan

SENIN, 31 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...