Cuplikan Irama ” Gambang Semarang ” Terdengar Sayup-sayup Mengalun di Stasiun Tawang

CATATAN JURNALIS – Rasanya tak dapat menghindari gangguan rasa kantuk yang menyerang, saat ” Sepur ” yang saya naiki berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Pasar Turi, Kota Pahlawan, Surabaya. Selama perjalanan, saya seperti merasakan hidup di dua alam, antara ” Nyata ” dan seperti dalam buaian ” Mimpi “, kadang tertidur lelap, kadang sesekali terjaga, apalagi saat kereta bergoyang kencang sedang berjalan cepat menyusuri ” Double Track ” rel jalur ganda.
Kereta api terus berjalan menembus kegelapan malam, tak terhitung satu per satu stasiun telah terlewati, sehingga tanpa terasa kereta yang saya tumpangi sampai ke tempat tujuan. Kereta telah berhenti di Stasiun Semarang Tawang, dimana stasiun tersebut merupakan salah satu warisan cagar budaya kota Semarang, sekaligus ” Markas Besar ” PT. KAI ( Persero ) Daerah Operasi ( DAOP ) IV.
Bersama beberapa penumpang, kami pun bergegas turun dari kereta, disambut campur aduk kebisingan bunyi mesin lokomotif, suara klakson, dan ” Petuah Bijak ” dari pengeras suara petugas stasiun. Di tengah ” kegaduhan “, sambil berjalan menyusuri stasiun, terdengar jelas alunan suara sayup – sayup irama musik, seperti mengingatkan saya pada sebuah tembang ” Gambang Semarang ” yang sangat tak asing lagi bagi warga Semarang dan Jawa Tengah.
Begini kira – kira penggalan syair Gambang Semarang yang coba saya ingat ” Ampat Penari Kian Kemari Jalan Berlenggok, Aduh….. Langkah Gayanya Menurut Suara Irama Gambang…. Sambil Bernyanyi Jongkok Berdiri Kaki Melintang, Aduh….. Sungguh Jenaka Tari Mereka Tari Berdendang…. Bersuka Ria Gelak Tertawa Semua Orang…. Karna Hati Tertarik Gerak Gerik Si Tukang Gendang….. Ampat Penari Membikin Hati Senang…. Aduh Itulah Dia Malam Gembira Irama Gambang….
Sayangnya, cuplikan alunan irama Gambang Semarang hanya ” diperdengarkan ” sepintas, tak lebih dari dua menit, namun menurut saya, itu sudah cukup menghibur. Saya menganggap alunan instrumentalia Gambang Semarang tersebut berguna untuk menghilangkan ” Train Lag “,  sebutan lain Jet Lag, kelelahan yang diakibatkan karena perjalanan menggunakan angkutan pesawat terbang jarak jauh.
Saya bisa dibilang cukup baik mengenal salah satu ” Heritage Station ” di kota Semarang ini, sekedar diketahui, hanya berjarak dua kilometer dari sini, terdapat stasiun cagar budaya terbesar nomor dua di wilayah Semarang, yakni ” Stasiun Poncol “. Dimana stasiun ini, dulunya dipergunakan untuk pemberhentian dan keberangkatan KA Ekonomi jarak jauh, maupun KA Ekonomi Lokal jarak dekat.
Beda stasiun, nasib keduanya pun juga berbeda, jika musim penghujan datang bersamaan dengan musim air laut pasang ” Rob “, dulu Stasiun Tawang selalu dilanda kebanjiran. Dalam waktu singkat, halaman stasiun berubah menjadi ” Kolam Renang ” raksasa . Namun sekarang, seiring berjalannya waktu,  setelah diperbaiki mesin pompa untuk menyedot air, serta telah ditinggikannya bantalan rel, kini Stasiun Tawang lambat laun terbebas dari genangan air.
Saya ingat betul beberapa tahun yang lalu, PT. KAI DAOP IV Semarang beberapa saat sempat memindahkan operasional perjalanan, baik keberangkatan maupun kedatangan kereta api dari Tawang ke Poncol, akibat dilanda banjir yang hebat. Luapan air hujan bercampur air laut pasang sempat melumpuhkan hampir semua kegiatan naik turun penumpang dan bongkar muat barang di Stasiun Tawang.
Anda bisa membayangkan, betapa rumitnya PT. KAI DAOP IV untuk mengurai keruwetan ” Lalu – Lalang ” puluhan rangkaian kereta api yang datang silih berganti memasuki wilayah Semarang dari berbagai jurusan, baik dari Jakarta, Solo dan Surabaya dalam waktu yang hampir secara bersamaan dalam satu tempat di Stasiun Poncol.
Demikian kiranya akhir catatan singkat saya sebagai seorang jurnalis, sungguh sebelumnya tak membayangkan sedikitpun akan berpetualang di kota Semarang yang unik tiada duanya. Dimana ada sebutan wilayah Kota Tua Semarang, dengan aneka ragam bangunan cagar budaya nya. Ada pula sebutan Semarang Bawah dan Semarang Atas, istilah warga setempat untuk membedakan letak geografis berdasarkan ketinggian dari permukaan air laut 
SELASA, 11 Agustus 2015
Penulis       : Eko Sulestyono
Foto            : Eko Sulestyono
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...