Dari Bunga Klobot, Tusweni Bisa Hasilkan Jutaan Rupiah

MALANG — Jika biasanya kulit Jagung bagi kebanyakan orang hanya digunakan sebagai pembungkus makanan atau bahkan di buang sia-sia, di tangan kreatif Tusweni Mayangsari (42) atau yang lebih akrab di sapa Weni bisa di ubah menjadi sebuah kerajinan tangan cantik dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Berawal dari hobinya sejak kecil merangkai dan membuat replika bunga dari berbagai dedaunan kering yang ada disekitar rumahnya, kini Weni sukses mengembangkan hobinya tersebut menjadi sebuah usaha yang menjanjikan.
Sebelum menekuni kerajinan membuat replika bunga, Weni terlebih dulu menerjuni bisnis tanaman hias. Dari bisnisnya ini, dirinya banyak mengenal jenis dan bentuk-bentuk bunga yang kemudian dia gunakan untuk megembangkan hobinya membuat replika bunga dari kulit Jagung atau yang biasa disebut Kelobot.
Weni mengaku tidak sulit mendapatkan kelobot karena di sekitar rumahnya banyak petani Jagung.
“Dari pada di buang percuma, saya coba manfaatkan kelobot jagung tersebut untuk dijadikan replika bunga, dan ternyata banyak yang suka,” jelasnya saat di temui Cendana News di kediamannya di Jalan Banyulegi II No 200 Desa Ketawang Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang, Sabtu (15/08/2015).
Karena menurut Weni usaha kerajinan bunga tiruan dari kelobot jagung lebih menjanjikan dibanding usaha tanaman hias, akhirnya pada tahun 1998 Weni memutuskan untuk serius menekuninya.
Menurut Weni, tidak terlalu sulit untuk membuat bunga dari klobot. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengeringkan kulit jagung hingga benar-benar kering di bawah terik matahari selama kurang lebih satu minggu, kemudian direndam dengan pemutih selama sehari, selanjutnya kelobot direbus dengan pewarna textile, di tiriskan dan di kering anginkan.
Setelah kering kemudian klobot di setrika dan di potong sesuai bentuk yang diinginkan. Tahap akhir yaitu menyatukan potongan-potongan klobot dengan menggunakan lem perekat.
Harga bunga klobotnya bervariasi tergantung bentuk dan ukuran.
“Harga pertangkai sekitar dua ribu hingga tiga puluh lima ribu Rupiah, sedangkan kalau dijual perbijian paling murah tiga ratus Rupiah per biji,” ucapnya.
Pangsa pasarnya sendiri meliputi Bandung, Bogor, Jakarta, Bali dan Malang. Bahkan juga pernah menerima pesanan dari Malaysia, Singapura, Jepang dan Italia, ungkapnya.
Untuk tenaga kerjanya, Weni mengaku memberdayakan warga sekitar rumahnya terutama Ibu-ibu dengan sistem borongan.
“Kan lumaya bisa menambah penghasilan Ibu-ibu disini,”tuturnya.
Weni sendiri megaku sering diundang untuk mengikuti pameran dan memberikan pelatihan di beberapa kota di Indonesia. Selain replika bunga yang terbuat dari klobot, Weni juga bisa membuat tiruan bunga dari bahan kepompong ulat sutra, jerami dan dari limbah bumbu dapur seperti kulit bawang.
“Kalau replika bunga dari kulit bawang belum di jual ke pasaran karena belum saya ajarkan ke para pekerjanya,” jelas Weni.
Dari usaha kerajinan replika bunga berbahan klobot ini, Weni bisa mendapatkan omset sekitar 15-50 juta per bulan.
“Kalau lagi sepi biasanya minimal 15 juta per bulan tapi kalau banyak pesanan maksimal bisa sampai 50 juta Rupiah,” tutupnya.

SABTU, 15 Agustus 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...