Dari Kertas Tisu, Bisa Hasilkan Rp.25 Juta per Bulan

MALANG — Selain digunakan untuk membersihkan bagian wajah atau tangan yang kotor, ternyata kertas tisu juga bisa di jadikan bahan untuk membuat sebuah kerajinan bernilai seni tinggi. Dengan menggunakan teknik Decoupage, Lutfiah Firmaningtyas berhasil memanfaatkan kertas tisu untuk mempercantik barang-barang yang sering digunakan masyarakat seperti dompet, tempat tisu dan lain sebagainya.
Menurut Lutfiah Decoupage adalah salah satu teknik menempelkan kertas, kain, koran, majalah, dan juga tisu ke berbagai media dengan efek cat. 
“Medianya sendiri bisa berupa anyaman rotan, kayu, botol, meja dan media lainnya,” jelasnya saat di temui di kediamannya di Jalan Sumbersari II No.93 Malang, Rabu (12/08/2015).
Lutfiah sendiri baru mulai menekuni kerajinan menempel tisu sejak tahun 2014. Sebelumnya, Lutfiah terlebih dulu menekuni kerajinan lukis sepatu setelah sempat beberapa lama bekerja menjadi akuntan publik di Surabaya. Pada tahun 2008 dirinya keluar dari pekerjaannya dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah di jurusan manajemen keuangan Universitas Negeri Malang.
Karena tidak ingin meminta uang ke orang tuanya untuk biaya kuliah, Lutfiah mulai menekuni kerajinan lukis sepatu. Karena kerajinan lukis sepatu membutuhkan ketelitian dan konsentrasi yang tinggi, ditambah dirinya sudah memiliki momongan, akhirnya pada tahun 2012 dirinya berhenti membuat sepatu lukis.
Selang dua tahun tepatnya tahun 2014, kaka iparnya yang berada di Belanda pulang ke Indonesia membawa Tisu dengan berbagai motif. Dari kakak iparnya tersebut Lutfiah mengetahui bahwa di Belanda ada kerajinan Decoupage berbahan kertas tisu.
Dari situ kemudian Lutfiah mulai belajar otodidak dari buku dan internet mengenai teknik Decoupage.
“Kertas tisu di Belanda memiliki banyak motif tergantung tema, berbeda dengan tisu di Indonesia yang kebanyakan tidak bermotif dan haya berwarna putih,”ucapnya.
Setelah dirinya mulai ahli menempekan tisu ke berbagai media, rupanya ada temannya yang tertarik dengan hasil karyanya dan mengajaknya untuk mengadakan workshop Desember 2014.
Karena respon masyarakat sangat baik, akhirnya Lutfiah terus menekuni kerajinan Decoupage hingga sekarang dengan merek “Made by Noel”. Hasil karyanya kebanyakan di tawarkan melalui media online dengan mengunggah foto-foto dari karyanya.
Dengan dibantu empat orang pekerjanya, produknya kini sudah dipasarkan di seluruh wilayah Indonesia bahkan sempat mendapat pesanan dari Malaysia dan Singapura.
Untuk kertas tisunya sendiri dia mengambil langsung dari Belanda, Cina, Jepang, Jerman dan Negara lain yang memproduksi tisu dengan berbagai motif. Sampai sekarang dirinya memiliki kurang lebih 400 motif kertas tisu dari berbagai negara.
“Sebenarnya kualitas kertas tisu di Indonesia tidak kalah bagus, namun sayangnya jarang yang memiliki motif, kebanyakan polos,” jelasnya.
Untuk hasil karyanya tersebut, Lutfiah memberikan harga yang berfariasi mulai dari Lima ribu Rupiah hingga Jutaan Rupiah. Selain itu dirinya juga menjual tisu berbagai motif harga 50-75 ribu Rupiah per 20 lembar dengan omset lebih dari 25 juta Rupiah per bulan.
“Peminat produknya tersebut kebanyakan berasal dari Ibu-ibu muda,” tutupnya.

RABU, 12 Agustus 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...