Dinsos DIY dan Tagana Gelar Simulasi Bencana Erupsi Merapi

YOGYAKARTA — Dinas Sosial DIY bekerjasama dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana) menggelar simulasi penangangan bencana erupsi Gunung Merapi di desa Merdikorejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta pada Kamis (27/08/2015), siang. Simulasi bencana yang diikuti puluhan warga desa tersebut digelar sebagai upaya menyiapkan kesiap-siagaan warga terhadap bencana alam Gunung Merapi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Julisetiono Dwi Wasito menyatakan, simulai tersebut dilakukan hampir di semua desa yang berada di lereng Gunung Merapi. Hal tersebut ditujukan untuk membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB) dan Desa Tangguh Bencana.
Selain desa Merdikorejo, daerah lain yang menjadi  Kampung Siaga Bencana di antaranya Umbuharjo, Wukirsari, Glagaharjo, Kepuharjo dan Hargobinangun dan salah satunya .
“Tidak hanya itu, barak pengungsian, jalur evakuasi dan sarana prasarana penanggulangan bencana juga sudah disiapkan,”sebutnya.
Hal senada juga disebutkan Kasi Bantuan Sosial Korban Bencana Dinsos DIY, Sigit Alfianto, ditemui usai simulasi bencana mengatakan, kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan dari pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) di Desa Merdikarejo. Dengan dibentuknya KSB di desa tersebut, saat ini telah ada 12 KSB yang tersebar di seluruh Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta.
 “Tahun depan akan kita tambah 10 KSB lagi di wilayah rawan bencana di DIY”, ujar Sigit.
Sigit menjelaskan lagi, dalam proses pembentukan KSB itu ada tiga hal yang harus ada. Yaitu tim penanggulangan bencana, gardu sosial tempat menyimpan dokumen bencana serta ada bangunan lumbung sosial tempat menyimpan sarana prasarana penaggulangan bencana. 
“Bangunan dan perlengkapan penanggulangan bencana itu juga difasilitasi Dinsos DIY”, paparnya.
Sementara itu, berkait dibentuknya KSB di desa Merdikorejo karena desa itu merupakan kawasan rawan terdampak erupsi Gunung Merapi dan banjir lahar dingin. Kecuali tiga hal yang telah disebutkan, kata Sigit, pembentukan KSB itu juga harus di wilayah rawan bencana, termasuk mempertimbangkan lokasi yang berada di daerah perbatasan karena bencana itu tidak hanya bencana alam, melainkan juga dampak sosialnya.
KAMIS, 27 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...