Duka Trigana, Albertus: Ada yang Panggil Nama Kecil Saya

JAYAPURA — Tangisan pilu bercampur rasa tak percaya dialami satu dari 54 keluarga korban jatuhnya pesawat Trigana Air ATR 42 di Kabupaten Pegunungan Bintang. Albertus Hurulean, adik kandung salah satu korban naas tersebut, mendapatkan tanda heran sebelum kepergian kakaknya, Yustinus Hurulean.
Yustinus Hurulean (54 tahun) pegawai kantor PT Pos Indonesia di pusat Kota Jayapura tersebut berangkat sekitar pukul 14.15 wit dari bandar udara Sentani, Jayapura menuju Oksibil, Pegunungan Bintang. Almarhum tak sendiri, ia ditemani 3 rekannya mendapatkan tugas mengantar dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) senilai Rp 6,5 miliar bagi masyarakat miskin di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Beberapa menit kemudian sekitar pukul 14.45 WIT, pesawat Trigana Air ATR 42 lambung PK-YRN nomor penerbangan IL-257 dikabarkan hilang kontak. Sejak saat itulah, tim Badan SAR Nasional (Basarnas) mulai menggelar pencarian dan evakuasi.

Dibalik insiden ini, Albertus Hurulean, adik kandung Yustinus Hurulean (54 tahun) korban pesawat jatuh mengungkapkan detik-detik ia mendengar informasi hilang kontaknya pesawat Trigana Air ATR 42 tersebut yang ditumpangi kakak kandungnya.
“Saya dan kakak sejak kecil bersama, sa..ya… berat sekali katakan… maaf ya… banyak yang lihat saya senyum, tapi saya rasa ada yang hilang dari kehidupan saya ini,” tutur sang sadik yang merasa sangat kehilangan kakak kandungnya, Minggu (23/08/2015).
Ini adalah satu pukulan kepada ia dan keluarga besarnya. Semasa kecil, Albertus selalu bersama dengan almarhum, main, tertawa dan menangis bersama. Dirinya yang bekerja pada salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di kabupaten Timika, Papua, mendapat tugas di Kota Sorong, Papua Barat.
“Sabtu kemarin,  saya sedang nonton televisi dalam salah satu kamar hotel di Sorong, ada suara dari sudut ruang kamar memanggil nama kecil saya,  Es dan nama kecil itu hanya Almarhum yang biasanya panggil saya. Kalau dipanggil dengan Es berarti dia yang panggil. Suaranya terdengar jelas, tapi tidak ada orang,” katanya sambil menyapu air mata yang mengalir ke pipi.
Saat ia memasuki kamar mandi, angin lembut menyapu tubuhnya yang membuat bulu kuduk berdiri. Keesokan harinya, Minggu (16/08/2015) ia menuju pulau Dom. Namun, tak berapa lama istirahat di pulau tersebut, dirinya terbangun seakan ada yang membangunkannya. Sontak, dirinya meminta pulang ke Kota Sorong.
“Saya langsung pulang ke Sorong dan malamnya saya dapat kabar, pesawat Trigana Air hilang kontak. Satu firasat buruk saya datang saat mendengar langsung dari media televisi, bahwa ada masyarakat ada dengar suara ledakan pesawat. Dari situ saya berdoa terus, dan kecil kemungkinan harapan saya ketemu kakak tercinta,” diceritakan Albertus sambil memandangi terus-menerus foto almarhum.
Sisi seorang kakak, baginya, Almarhum selalu mengalah terhadapnya. Menurutnya, sejak kecil ia lebih agresif ketimbang kakaknya. Dirinya terus diselimuti rasa bersalah, lantaran sejak kecil, almarhum selalu berikan kelembutan kepadanya, dan jauh berbeda dengan dirinya.
“Sampai sekarang saya selalu ajarkan anak-anak saya, contohi Bapak Tua yang selalu sayang dan jaga adik-adik. Malah saya yang biasa selalu dimarah sama Mama, tapi dibela terus sama almarhum,” kata pria berusia 52 tahun ini dengan mata sayup.
Delapan bersaudara, tutur adik nomor 4 ini, kakaknya Yustinus bersaudara kembar, namun kembaran pertama telah berpulang saat kecil beberapa puluh tahun silam. Kini, ia harus merelakan kepergian kakak yang menjadi panutan adik-adiknya.
“Saudara saya yang kembar sekarang sudah pergi, saya… terpukul tuk kesekian kali dan pukulan ini sangat terasa dilubuk hati saya, karena almarhum panutan saya dan saudara-saudara lain, beliau paling sabar dan tidak pernah marah dengan tindakan kasar, paling banyak memberikan teguran dan saran kepada kami semua,” tutur Albertus.
Rencananya, ia bersama kakak beserta keluarga besar, akan merayakan ulang tahun sang ayah di Kota Jayapura. Namun, rencana kini berubah total setelah ada kabar buruk dari sang kakak.
“Kami punya rencana raayakan ulang tahun ayah kami pada tanggal 18 agustus kemarin, tapi rencana Tuhan siapa yang tahu, ternyata 18 Agustus adalah kabar dari Tim Evakuasi untuk mencari jenazah kakak saya. Semua rencana suka cita berubah total menjadi duka buat kami semua,” ujarnya.
Ia berserah diri kepada Tuhan atas kepergian sosok kakak idaman keluarganya. “Kakak, semoga kamu tenang di alam sana, Tuhan menyertai kamu. Kami semua sayang kepadamu kakak, sampai kapan pun tidak ada yang bisa gantikan posisi kamu sebagai panutan kami di keluarga,” tutup sang Adik sambil menundukkan kepala.
Kini, keluarga besar Albertus Hurulean hanya dapat berharap tim Disaster Victim Identification (DVI) dapat mengidentifikasi 54 jenasah korban pesawat Trigana Air yang salah satunya adalah Yustinus Hurulean.


MINGGU, 23 Agustus 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...