Elan : Apa Urgensi dari Konvoi Itu Sehingga Harus Diprioritaskan di Jalan?


YOGYAKARTA—Jogja Bike Rendevouz (JBR) 2015, kali ini tak berlangsung mulus. Kegiatan tahunan untuk memeriahkan HUT ke 70 RI dengan berkonvoi motor gede, moge, menuai polemik. Pasalnya, seorang warga pesepeda nekat menghadang rombongan konvo moge opersta JBR itu di simpang elat Condongcatur, Depok, Sleman, Yogakarta, Sabtu (15/8), sore. Aksi penghadangan tersebut dalam waktu singkat menghebohkan media sosial dan akhirnya meluas ke seluruh Indonesia.
Aksi penghadangan konvoi moge peserta JBR 2015 oleh warga pesepeda bernama Elanto Wijoyono (32), warga Perum Gebangsari, Sleman, Yogyakarta, akhirnya berlanjut ke ranah lebih konkrit. Anggapan terhadap konvoi moge yang selalu melakukan arogansi di jalan raya pun semakin mengemuka. Elanto pun mendadak menjadi sangat terkenal dengan keberaniannya itu. 
Ditemui Cendana News di tengah aktivitasnya, Minggu (16/8), petang, Elanto mengatakan, aksi penghadangan yang dilakukannya itu memang bukan aksi spontan. Melainkan sudah disiapkan sebelumnya. Menurutnya, aksi penghadangan itu perlu dilakukan sebagai upaya memberi syock therapi bagi para peserta konvoi di jalan raya yang acapkali arogan dan tak mengindahkan aturan tertib lalu lintas. Terlebih pada kasus konvoi moge, katanya, seringkali konvoi moge melakukan arogansi dan itu dikawal oleh polisi. 
Karena itu Elan mempertanyakan, apa urgensi dari konvoi itu sehingga harus diprioritaskan di jalan raya, bahkan dibiarkan melanggar aturan lalu lintas? Kegelisahan itulah, menurut Elan, yang membuat dirinya merasa harus melakukan aksi heroik dengan menghadang konvoi moge dalam rangkaian acara JBR 2015. Elan mengatakan, sebelum melakukan aksi penghadangaan itu ia sudah memberitahukan kepada polisi agar konvoi moge itu tetap berhenti di trafick light saat lampu merah menyala. “Tetapi, polisi diam saja dan akhirnya saya sebagai warga terpaksa bertindak sendiri”, cetusnya.
Pihak panitia penyelanggara JBR 2015. Pada Minggu (16/8) sore, panitia penyelenggara JBR 2015 mengakui jika ada aksi penghadangan oleh seorang pesepeda bernama Elan itu. Gatot Kurniawan, Ketua HDCI Yogyakarta mengaku jika ada sejumlah peserta konvoi yang berlaku arogan dan tidak menghormati warga Yogyakarta sebagai tuan rumah penyelengaraan JBR 2015.
Elan menyadari, arogansi peserta konvoi di jalan raya sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh komunitas pecinta moge. Namun, juga sekelompok ormas atau parpol yang berkampanye, juga para suporter sepakbola. Karena itu, aksi penghadangan yang dilakukannya itu tidak hanya menyasar komunitas pecinta moge. Dikatakan Elan, pelanggaran lalu lintas dan arogansi di jalan raya oleh peserta konvoi apa pun selama ini sudah sangat sering terjadi berulangkali. Sementara itu, ada kesan pembiaran terhadap aksi arogansi peserta konvoi. 
Dalam kasus konvoi motor besar, kata Elan, semestinya konvoi motor besar yang dikawal oleh polisi itu bisa lebih tertib dan akan mendapat tindakan yang sama jika melanggar aturan lalu lintas. Namun, kenyataannya di lapangan tidak seperti itu. Konvoi menggunakan patwal, melibatkan kepolisian dan ternyata tidak konsisten dengan aturan. Karena itu, Elan kemudian mempertanyakan urgensi dari pengawalan konvoi motor besar itu. “Apa urgensinya dikaitkan dengan kepentingan publik?”, ujar Elan, mempertanyakan.
Elan menyadari, jika soal pengawalan konvoi itu memang ada aturannya. Namun, Elan beranggapan, klausul atau aturan undang-undang yang mengatur soal pengawalan rombongan atau konvoi di jalan raya itu hanya pasal karet. Dalam Undang-undang Lalu Lintas 22/2009, jelas Elan, urusan patwal itu ditujukan terutama untuk fungsi-fungsi pengawalan remi seperti tamu kenegaraan, pejabat negara dan fungsi kedaruratan. Di luar itu memang ada aturan yang bisa mengkhususkan untuk fungsi tertentu, namun seharusnya tetap dengan mempertimbangkan kepentingan publik.
“Ketika kita melihat konvoi motor besar seperti kemarin, warga berhak bertanya di mana letak kepentingan publiknya. Ketika hal itu dilakukan di ruang publik Yogyakarta, maka warga punya hak untuk mempertanyakan, mengkomplain dan bahkan melawan jika polisi tidak melakukan fungsinya sesuai harapan”, cetusnya.
Elan menegaskan, perseta konvoi apa pun jika sudah mendapat izin dari kepolisian dan mendapat pengawalan polisi, akan selalu memanfaatkan pasal yang mengatur tentang pengawalan oleh polisi di jalan raya yang dianggapnya sebagai pasal karet. Sebagai warga negara, katanya, siapa pun berhak menterjemahkan aturan itu dan tidak hanya polisi. “Publik juga memiliki hak. Ketika ada fasilitas negara, baik itu kendaraan maupun personilnya yang harus digunakan itu adalah fungsi utamanya. Jadi, saya atau kelompok warga lain akan terus memantau perkembangan  dari polemik ini. Pekan ini pun saya sudah bersiap untuk melapor dan mengklarifikasi lagi tentang duduk perkara yang sebenarnya, supaya peristiwa ini tidak dipelintir”, jelas Elan. 
SABTU, 16 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : Gani Khair
Lihat juga...