GKR Bendara: Kepompong Emas Rahasia Kecantikan Putri Keraton

YOGYAKARTA — Sejak dahulu, kecantikan menjadi hal yang sangat diperhatikan wanita. Untuk mendapatkannya sering memilih produk kosmetik yang instan. Tidak jarang, keinginan itu justru membawa petaka, karena produk yang digunakan ternyata mengandung bahan kimia berbahaya. 
Banyak wanita yang menginginkan cantik alami ala putri keraton. Lalu, apa rahasia kecantikan putri keraton itu?
GKR Bendara
Jauh sebelum zaman modern seperti sekarang, sekiranya hanya para putri bangsawan saja yang mampu merawat kecantikannya dengan berbagai ramuan kecantikan. Ini karena di zaman dahulu belum ada teknologi yang bisa memproses bahan-bahan alami menjadi produk kosmetik yang kemudian bisa dengan mudah digunakan. Bayangkan, betapa repotnya para wanita di zaman dahulu karena setiap hendak menggunakan lulur harus menumbuk bahan-bahannya terlebih dahulu.
Kini, lulur atau apa pun produk kosmetik untuk kecantikan wanita bisa dengan mudah didapatkan. Bahkan begitu banyak ragamnya, sehingga kosmetik pun tidak lagi menjadi masalah bagi para wanita. Hanya saja dari sekian kosmetik yang sekarang ini ada, orang selalu penasaran terhadap rahasia kecantikan putri keraton. 
Hal tersebut sedikit terungkap di dalam sebuah acara silahturahmi bersama Gusti Kanjeng Ratu Bendara, putri bungsu Raja Yogyakarta di Resto Candi Prambanan, Kalasan Sleman, Yogyakarta, Jumat (14/08/2015).
Gusti Bendara mengatakan, sejak dua puluh lima tahun lalu para putri keraton telah menggunakan kepompong emas sebagai ramuan khusus untuk menghaluskan kulit wajah. Ramuan kepompong emas itu merupakan rahasia cantik muda sepanjang masa bagi para putri keraton selama ini. 
Kepompong emas pada zaman dahulu hanya dianggap hama. Pasalnya berkembang liar dan menjadi hama, sehingga oleh para petani seringkali justru dibakar untuk dimusnahkan. 
“Padahal, kepompong emas itu merupakan bahan dasar ramuan kecantikan putri keraton”, ujarnya. 
  
Hal tersebut dibenarkan pakar kecantikan kulit wanita di Yogyakarta, Dr. Fredi Setyawan yang hadir dalam acara silahturahmi Gusti Bendara bersama GKR Condrokirono, GKR Hayu, dan GKR Maduretno. 
Dr Fredi pun lalu menjelaskan, kepompong emas mengandung zat aktif asam amino sericin yang bisa berfungsi anti-aging atau menghambat penuaan dini, brightening atau mencerahkan dan moisturizer atau melembabkan kulit.
Lebih rinci lagi, Dr Fredi menjelaskan, kandungan amino esensial itu mampu menghambat penuaan dini karena amino esensial bisa memrpoduksi kolagen kulit. Kolagen adalah bantalan kulit yang setiap tahunnnya akan terus berkurang.
Setiap tahun, kolagen manusia akan berkurang sebanyak 1, 5 persen, dan inilah yang mengakibatkan kerutan pada kulit wajah. 
“Dengan asupan asam amino yang mampu memproduksi kolagen itu, maka penuaan dini bisa dicegah dan dihambat”, katanya.
Sementara itu kandungan sericin pada kepompong emas, sambung Dr. Fredi, mampu memproduksi pigmen kulit sehingga mencegah timbulnya flek-flek hitam yang disebabkan berkurangnya pigmen. Selain itu, sericin juga mampu mengikat kandungan air pada kulit wajah sehingga kelembaban kulit wajah bisa terjaga.
Senada dengan itu, Gusti Bendara mengaku jika selama ini secara pribadi ia telah menggunakan kepompong emas sebagai ramuan kecantikan wajahnya sejak remaja. Selain mengggunakan berbagai ramuan alami, Gusti Bendara mengaku tidak ada cara khusus dalam merawat kulitnya. 
“Yang penting pola hidup sehat dan setiap pulang dari bepergian saya hanya selalu cuci muka agar kelembaban kulit wajah tetap terjaga”, ungkapnya. 
Kini, kepompong emas telah diproduksi menjadi beberapa jenis produk kosmetik kecantikan kulit wajah alami khas Indonesia. Karena itu, Gusti Bendara telah sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu menangkar kepompong emas itu di perbukitan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Sayang, kepompong itu tidak bisa diambil gambarnya karena sangat rentan. 
Kepompong emas, katanya, dihasilkan dari ulat yang hanya memakan buah jambu mete dan murbei. Begitu menjadi kepompong dan menjadi kupu-kupu, kepompong yang ditinggalkan bisa langsung digunakan. 
“Sebelum ada teknologi modern seperti sekarang, cara menggunakan kepompong emas itu caranya dengan direbus lalu ditumbuk”, pungkasnya.

JUMAT, 14 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...