Halal Bihalal Diharapkan Urai Benang Kusut dan Salah Interaksi

JAKARTA — Pelaksanaan Halal bihalal, harus dimaknai sebagai perwujudan bentuk aktivitas yang mengantarkan pada proses mengurai benang kusut sebagai dampak dari interaksi pergaulan yang terjadi akhir-akhir ini di Kabupaten buru.
Hal tersebut dikatakan Bupati Buru Selatan (Bursel) Provinsi Maluku, Tagop Sudarsono Solissa saat mengikuti halal bihalal masyarakat kabupaten Buru Selatan Pulau Buru, Namrole yang berdomisi di Wilayah DKI Jakarta dengan mengangkat tema ‘Lolik Lalen Fedak Fena’ yang artinya Satukan Hati Membangun Negeri di Aula Hotel Grand Menteng, Jakarta timur, Jumat (07/08/2015).
Tagop juga menyebutkan, halal bihalal harus bisa menghangatkan hubungan yang tadinya beku mencair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang agar terjalinnya keharmonisan hubungan.
“Terjadinya keretakan hubungan yang dingin, keruh dan kusut tersebut tidak ditimbulkan oleh perilaku kita secara langsung, akan tetapi karena ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja,” katanya.
Disebutkan, kegiatan ini juga merupakan ajang silahturahmi untuk saling memaafkan antara sesama umat manusia dengan tidak memandang suku, agama maupun golongan. 
“Dengan acara seperti ini, tentunya akan menciptakan suasana aman, rukun dan damai antar sesama,”ujar Tagop.
Menurutnya Kegiatan-kegiatan seperti ini hendaknya terus menerus digalakkan di masa-masa yang akan datang dengan melibatkan semua elemen masyarakat yang ada di Jabodetabek. 
“Karena hanya dengan acara seperti ini, kerukunan, kebersamaan dan persatuan seluruh Komponen dapat terus terpelihara secara berkelanjutan,” ucapnya.
Selain itu, dia juga mengharapkan setiap umat beragama melalui tokoh-tokoh agama dan masyarakat di seluruh nusantara dapat menghindari padangan sempit, yang menganggap pihak lain sebagai ancaman, sikap saling mencurigai dan merendahkan serta membenci antar umat beragama harus dihilangkan sedini mungkin. 
“Tidak boleh lagi ada sikap formalis yang membuat toleransi itu sebagai retorika, dimana nilai-nilainya tidak dilaksanakan.”tandasnya
Dalam kontekts tersebut di atas, tegas bupati, Kabupaten Bursel yang struktur masyarakatnya sangat majemuk, baik suku, agama, ras dan golongan harus menjunjung tinggi toleransi dalam aktivitas masing-masing.
Orang nomor satu buru selatan itu menghimbau masyaratnya tidak terprovokasi dengan isu-isu yang akhirnya memecah belah persatuan dan kesatuan, khususnya di Buru selatan, semangat kebersamaan yang telah dijalankan harus terus dipelihara untuk menciptakan daerah kita secara aman dan kondusif.
Mari kita jadikan Bumi penghasil minyak kayu putih yakni Pulau Buru tercinta sebagai contoh bagi daerah lain dalam merajut kebersamaan diantara perbedaan yang ada. 
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Buru Selatan (Bursel) Tagop Sudarsono Solissa, tokoh maluku Jhon Tomasoa, Ketua DPD FPMM Bogor, Bahri Warhangan, Ketua umum KNPI DKI Jakarta Muhammad Rifai Darus, serta tokoh pemuda maluku lainnya.

SABTU, 08 Agustus 2015
Jurnalis       : Adista Pattisahusiwa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...