Hanya Bikin Tempe Saja, Indonesia Bergantung pada Amerika

YOGYAKARTA — Rupiah kini terus melemah. Sejumlah pakar memprediksi kemungkinan krisis moneter seperti di tahun 1997-1998 bisa terjadi. Sejak era reformasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar memang belum mampu kembali ke nilai awal sebelum zaman reformasi. Ternyata, salah satu penyebabnya karena hampir sebagian besar kebutuhan pangan bangsa ini masih bergantung kepada luar negeri. Bahkan hanya untuk membuat tempe saja, para pengrajin tempe bangsa kita harus menggantungkan pasokan kedelai dari Amerika.   
Semakin melemahnya nilai Rupiah terhadap Dollar Amerika, tidak hanya mempengaruhi ekonomi makro. Namun, juga berdampak langsung kepada ekonomi mikro di sektor usaha kecil menengah. Seperti yang dialami oleh sejumlah pengrajin tempe di Yogyakarta. Saat ini, mereka dibuat susah dengan naiknya harga kedelai. Celakanya, para pengrajin tempe itu selama ini menggantungkan pasokan kedelai import dari Amerika.

Muhammad Khoil (22), salah seorang pengrajin tempe di Yogyakarta ditemui Selasa (25/8), mengatakan, selama 8 tahun ini produksi tempe yang dilakoninya seratus persen mengandalkan kedelai import asal Amerika. Khoil, demikian sapaannya sehari-hari, mengungkap, usaha tempe tempatnya bekerja itu dalam sehari membutuhkan pasokan bahan baku kedelai sebanyak 4,5 kwintal. Jumlah kebutuhan kedelai itu tidak mampu terpenuhi oleh pemasok kedelai lokal. Selain itu, tegasnya, kualitas kedelai lokal selama ini juga tidak sebagus kedelai kualitas import asal Amerika.

“Kedelai lokal itu kecil-kecil dan kurang bisa mengembang ketika dibuat tempe. Ini berbeda jauh dengan kedelai import yang berukuran lebih besar dan bisa lebih mengembang baik ketika diproses menjadi tempe”, jelas Khoil.

Dengan ketergantungan pasokan bahan baku kedelai dari luar negeri, Khoil mengatakan, setiap terjadi kenaikan nilai dollar seperti sekarang ini, pihaknya terpaksa harus menanggung rugi. Pasalnya, jumlah keuntungannya berkurang hampir 50 persen.

Berkurangnya keuntungan itu, kata Khoil, karena tidak setiap terjadi kenaikan harga bahan baku kedelai pihaknya bisa langsung menaikkan harga jual tempe. Ini karena persaingan bisnis tempe yang ketat, sehingga Khoil khawatir jika asal menaikkan harga jual tempe justru bisa kehiilangan pelanggan.

Selama ini, Khoil memasarkan produksi tempenya ke Pasar Pelemsari, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Dalam satu kali produksi, ia menghasilkan sekitar 4 kwintal tempe. Dari jumlah itu semua terjual dalam satu hari. Jika ada sedikit sisa, Khoil akan memberikannya ke panti asuhan.

“Hasil produski tempe harus laku dalam satu hari, karena tempe akan cepat menjadi busuk”, kata Khoil.

Kini, dengan melemahnya nilai tukar rupiah membuat harga kedelai import juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya kedelai import hanya seharga Rp 7.200/Kg, kini sudah naik menjadi Rp 7.800/Kg. Dengan kenaikan harga kedelai yang cukup signifikan itu, Khoil memang sudah berancang-ancang untuk menaikkan harga jual tempenya. Namun untuk sementara ini, pihaknya masih mencoba bertahan.

“Biasanya nanti kalau harga kedelai semakin tinggi, kita akan mengurangi ukuran tempe menjadi lebih kecil. Ini untuk menyiasati supaya tidak harus menaikkan harga jual tempe. Tapi kalau dengan cara itu masih belum bisa menutupi harga produksi, terpaksa harga jual tempe dinaikkan”, pungkasnya. 

SELASA, 25 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...