Harga TBS Amblas, Petani Terpekik

PESISIR SELATAN –– Petani sawit yang ada di kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) harus menahan air mata. Pasalnya, Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit amblas ke angka Rp.400 hingga Rp.450 per kilogramnya. Hal ini tentu akan semakin dipersulit dengan jadwal masuk sekolah dan kuiah di Provinsi ini yang sudah dimulai sejak sepekan lalu.
Harga Rp.400 ini berkisar di tingkat petani saja, semetara di tingkat tauke yang menjual ke pabrik berkisar antara Rp.500 hingga Rp.600 per kilogramnya.
“Kami tidak bisa lagi mengandalakan sawit, harga TBS sejak beberapa bulan belakangan terus memburuk dan tidak ada kepastian akan naik. Kami harus putar otak dan mencari pekerjaan lain. Karena akhir bulan ini dua anak kami akan masuk sekolah dan kuliah, tentu butuh biaya yang besar,” ujar Indra (48) salah seorang petani sawit di kecematan Lengayang, Pessel. Senin (10/8/2015)i.
Indra yang akrab dipanggil Pak In ini menjelaskan. untuk satu hektare lahan kebun sawit yang dipanennya, hasil maksimal yang dicapai hanya sekitar 1.000 kilogram, dari 1000 Kg tersebut, ia hanya mendapatkan uang sebesar Rp400.000. Itu belum termasuk kedalam upah angkat, upah untuk menurunkan. Jika ingin menghemat biaya, maka ia harus mengerjakannya sendiri dengan hari kerja yang lebih panjang.
Dengan penghasilan dari 1 hektare, Rp.400.000 maka biaya yang dikeluarkan dengan yang didapatkan Pak In tidak seimbang. Ia merugi. Sebab biaya operasional dan perawatan, mulai penyiangan hingga pupuk yang harus dikeluarkan tiap bulannya. Tidak sebanding dengan harga TBS yang telah dipanen.
“Untuk satu kali panen di satu hektar kebun kami, saya mengeluarkan upah Rp.150.000. Lalu untuk biaya pemupukan sebanyak empat karung pupuk NPK, yang harga satu karungnya itu Rp.140.000. Maka saya mengeluarkan uang sebanyak Rp.570.000,” jelas Pak In.
Ia menderita kerugian ratusan ribu rupiah untuk sekali panen. Hal ini disebabkan harga TBS yang amblas. Untuk satu ton TBS saja, ia menderita kerugian sekitar Rp200.000. hal itu belum termasuk dalam biaya pengangkutan dan kebutuhan hidup keluarganya selama satu bulan.
Satu minggu usai lebaran, Pak In sudah beralih profesi menjadi pengumpul barnag-barnag bekas dan sampah plastik. Namun saat lahannya layak panen sejak dua hari yang lalu, hingga hari ini Pak In enggan untuk panen.
“Bagaimana mau panen, harga TBS saja segitu. Saya hanya akan merugi lagi. Lebih baik  busuk di batang saja, Kami berharap pemerintah kabupaten bisa mencarikan jalan keluar dan alternatifnya. Kalau tidak kami para petani ini bisa jatuh miskin semua,” ujar Pak In.
Pemerintah setempat, yang diwakili Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian Perdagangan dan Pasar Pesisir Selatan Edrianto, menyarankan agar para petani mendirikan pabrik mini.
“Kalau ingin harga stabil, kita harus mendirikan pabrik-pabrik mini. Para petani kami sarankan untuk mendirikan koperasi sawit, sehingga mampu mendirikan pabrik mini pengolahan kelapa sawit,” ujarnya. 

SENIN, 10 Agustus 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...