Hunian Tua Sang Nenek

CERPEN — Di sebuah sudut jalan sebuah Kota yang sedang membangun, teriakan demi teriakan hingga tetesan airmata menjadi pemandangan yang biasa yang bisa dilihat bahkan dipertontonkan kepada publik. Di gang itu, caci maki hingga air mata yang mengering seolah-olah sudah menjadi diorama nyata sebuah epilogi kehidupan yang faktual.

“Kalau kita semua lemah maka penguasa arogan itu akan memakan kita hingga perut kita terurai ke jalanan. Dan itu yang dia inginkan. Kita jangan lemah. Kita harus kuat. Dan yang paling penting kita harus bersatu,” teriak seorang warga dihadapan para pemetik airmata kehidupan yang terkulai didepan reruntuhan bangunan rumah mareka yang kini telah bersatu dengan tanah.

” Lantas apa yang bisa kami perbuat,” tanya seorang warga dengan nada sesugukan menahan tangis.

” Lawan. Hanya satu kata buat penguasa arogan itu, lawan,” teriak warga.
Malam itu adalah malam ketiga para warga sudut Kota itu tidur beralasakan tanah dengan beratatapkan cahaya rembulan yang makin melayu. Dideretan para warga yang tidur secara acak, tampak sejumlah anak-anak balita yang tiap menit selalu rewel menghadapi dinginnya malam dan sejumlah ngiangan suara nyamuk yang bergemuruh datang menyerbu. Suara rewelan anak-anak balita itu amat harmoni bak lagu klasik Mozart yang sedang didengarkan para penyokong di ruang kerja Pak Penguasa.

” Kalian harus bisa mainkan tempo sehingga kesan saya terzolimi oleh ulah masyarakat amat kental sehingga skenario ini tak terasa rekayasanya,” ujar Pak Penguasa.

” Siap Pak Penguasa. Pokoknya Bapak serahkan semuanya kepada kami, para penyokongmu ini. Toh ujung-ujungnya mareka para peneriak itu pasti butuh ini,”ujar seorang penyokong sambil menggesekan jari jempolnya dengan telunjuk yang membuat para penyokong lainnya ketawa terbahak-bahak hingga suara mareka menembus jantung para balita yang sedang rewel. Dan para balita itu pun terdiam sejenak.

Sudah tiga hari ini para warga tidak berdemontrasi di halaman Kantor Pak Penguasa. Dan sudah tiga hari ini kondisi hunian para warga terdiam dari deru mesin eskavator. Dan sudah tiga hari ini pula tak ada para aparat yang datang ke lokasi hunian warga yang telah berbaur dengan tanah. Sejumlah pertanyaan pun muncul dibenak para warga dan para aktivis kemanusian yang secara sukarela mengadvokasi para warga dengan semangat 45.

” Kita jangan terlena. Dibalik diamnya aksi arogan mereka tersimpan aksi busuk. Kita harus waspada,” ungkap seorang warga dengan lantang.

” Ya. Kita harus waspada,” sambung warga yang lain.

” Dan kita jangan terlena,” saran warga lainnya.
Tak ada aktivitas deru mesin alat berat di pemukiman warga hingga hari ketujuh membuat sejumlah masyarakat seolah-olah mulai terlena. Mareka kembali membangun rumah dengan alat apa adanya. Yang penting bisa berdiam dan berteduh dari gencarnya mentari yang dayang menyerang pada pagi hari dan mampu melawan  hawa dinginnya malam yang kadang menyerang balita mareka.

” Pak Penguasa. Taktik kita berhasil. Mareka kembali membangun rumah mareka,” lapor seorang penyokong lewat telepon pintar berharga satu buah rumah.

” Kalian tunggu perintah saya. Dan jangan main serabutan. Saya sudah mendapat teguran dari Bos atas,” tegas Pak Penguasa dari dalam mobilnya yang berlari kencang.
Tak ada aksi pembongkaran terhadap hunian para warga hingga hari ke 30 membuat para warga kembali bertanya-tanya. Sejuta tanya kembali menggumpal dalam otak kecil mareka yang lemah dan papah itu.

” Ini ada yang tak beres. Kok tak ada aksi lagi dari kelompok Pak Penguasa,” ujar seorang warga sembari bertanya.

” Intinya, kita harus waspada. Kita jangan mengikuti irama permainann mareka yang gampang berubah,” saran warga yang lainnya. Malam makin menjauh. Mentari siap untuk mengambilalih tugas untuk menerangi hati manusia.

Di pagi yang cerah, seorang lelaki berpenampilan flamboyan yang disertai para pengawalnya sedang mendengarkan nasehat dari seorang wanita yang rumahnya tak jauh dari parkiran alat berat sehingga kedatangan mareka tak diketahui oleh para warga.

” Kamu mestinya paham bahwa ada Ibumu yang renta ini menghuni daerah ini. Kok teganya kamu mau menggusur orang tuamu sendiri,” ujar wanita tua itu dengan suara keras.

” Ibu sudah saya sarankan untuk pindah dari lokasi ini. Ini lokasi tak sehat,” ujar lelaki Flmabotan itu.

” Dari lokasi tak sehat ini lah kamu dilahirkan dan dibesarkan hingga kamu bisa jadi seorang penguasa negeri. Apa kamu lupa bahwa di daerah ini ada makam Bapakmu? Kakekmu dan sejumlah keluarga lainnya dimakamkan disini. Bahkan mareka bisa menyekolahkan kamu dari areal tak sehat ini. Sejarahmu ada disini. Dan bukan disana,” cetus wanita itu sembari menunjuk sebuah gedung besar sambil meninggalkan lelaki itu.
Lelaki flamboyan itu mengejar wanita tua itu hingga kebelakang rumah dengan diikuti para pengawalnya. Dan narasi minta maaf dan minta ampun pun terus digemakan lelaki flamboyan itu dengan disaksikan para pengawalnya. Namun wanita itu tak menggubris. Tangannya sibuk menggerek air dari dalam sumur yang semennya sudah rata diganyang alat berat. Bantuan dari pengawal lelaki flamboyan itu pun ditolaknya.

” Kalian tak perlu bantu saya. Yang perlu kalian bantu itu adalah anak saya yang sudah rakus kekuasaan dan uang,” tegas wanita itu. Dan para pengawal pun langsung mundur.
Usai mengambil air dalam sumur, wanita itu kembali duduk dihalaman depan rumahnya yang telah dikepung alat-alat berat.

” Kalau kamu memang ingin mengabdi kepada orang tuamu, usir alat-alat ini dari lokasi tempatmu lahir,” seru wanita itu kepada lelaki flamboyan itu.

” Siap Ibu,” jawab lelaki flamboyan itu sambil meninggalkan rumah dengan wajah yang tak bahagia.
Di ruangan kerjanya yang sederhana, Pak Penguasa tampak bengong. Surat perintah pembokaran lahan yang ada didepan matanya memunculkan wajah Ibunya yang telah menua dimakan usia. Seorang wanita yang berjiwa humanis yang telah membesarkannya hingga menjadi seorang Penguasa. Dan dengan reflek surat perintah pembokaran paksa pun langsung di robeknya.

‘ Pak Komandan. Batalkan rencana pembongkaran lahan itu. Kita harus cari solusi lain agar mareka para penghuni daerah itu menjadi sehat walaupun mareka menghuni daerah itu. Kita harus lahirkan kebijakan yang humanis. Bukan yang memberangus nafas kehidupan mareka,” perintahnya kepada Komandan penggusuran lewat handphone.
Dan alangkah kagetnya para warga saat menyaksikan puluhan alat berat yang selama ini telah akrab dengan hunian mareka kini mulai diangkut dari lokasi hunian para warga. Dan teriakan gembira pun meluncur dari mulut para warga hingga meramaikan jagad raya yang makin ramai.
SABTU, 29 Agustus 2015
Jurnalis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...