ITS Segera Buka Fakultas yang Berkaitan dengan Bencana

Rektor Institut Teknologi 10 November Surabaya, Joni Hermana
SURABAYA — Memberikan pemahaman dan lulusan yang terampil dalam mengantisipasi bencana di Indonesia yang merupakan negara dengan tingkat kebencanaan paling rawan, Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) berinisiatif membentuk fakultas baru yang berkaitan dengan bencana alam.
Rektor Institut Teknologi 10 November Surabaya, Joni Hermana menyebutkan, ITS saat ini telah memiliki jurusan Teknik Geomatika dan jurusan Teknik Geofisika hanya saja belum menjadi fakultas sendiri.
“Selain jurusan tadi kami juga menyiapkan jurusan Teknik Geologi,” Ujarnya saat ditemui di sela-sela Seminar Nasional Manajemen Bencana dan Perubahan Iklim dari ITS untuk Bangsa, Kamis (06/08/2015).
Sementara, ketiga jurusan tersebut masih menjadi satu dengan fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Akhir tahun diperkirakan fakultas ini siap dibuka.
“Kami sudah mengurus semua, akhir tahun sudah siap dibuka,” Jelasnya.
Diharapkan dengan adanya fakultas tersebut mampu memberikan lulusan muda yang berkompeten dan peka terhadap bencana di Indonesia. Tentunya harus bekerja sama dengan dinas terkait.
Koordinator Pusat Studi Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBI) salah satu pusat studi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS, Amien Widodo mengungkapkan, data sejak tahun 1815 – 2014 presentase kejadian bencana yang terkait iklim atau dikenal dengan bencana hidrometeorologis mendominasi baik jumlah kejadian maupun jumlah korban.
“Bencana tahunan ini presentasinya lebih besar dari 90 persen, sisanya gempa dan tsunami, gunung meletus, serangan hama, kecelakaan transportasi dan lain-lain,”sebutnya.
Data yang dihimpun, kejadian bencana banjir sebesar 37 persen, tanah longsor 17 persen, angin puting beliung 21 persen, kekeringan 12 persen, gelombang pasang dan abrasi 2 persen.
“Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana menyimpulkan Indonesia termasuk negara dengan tingkat kebencanaan paling rawan,” Tegasnya.
Dalam rentang waktu 10 tahun, 2004-2014 tercatat 11.274 kejadian bencana. Jumlah korban sebanyak 193.240 korban jiwa dan kerugian negara mencapai Rp. 264,8 triliun.
Amien Widodo
KAMIS, 06 Agustus 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Foto            : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...