Jalin Komunikasi dengan masyarakat, Kapolda Gelar Anjau Silau

LAMPUNG — Dalam menjalin komunikasi yang baik antara masyarakat dan aparat kepolisian, Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong melakukan kegiatan anjau silau di Pekon Rajabasa Kecamatan Bandar Negeri Semoung Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. 
Anjau dalam bahasa Lampung berarti saling datang berkunjung. Dalam pengertian umum, polisi dan masyarakat saling berkunjung untuk menjalin komunikasi sebelum terjadi gangguan keamanan (konflik). Sementara silau merupakan suatu kegiatan menengok dan memantau keadaan tertentu yang biasanya dilakukan berulang-ulang, sehingga dapat diartikan anjau silau merupakan kegiatan silaturahmi, berkunjung, sekaligus memantau keadaan.
Kedatangan Kapolda tersebut disambut dengan upacara adat tradisional Lampung. Pantauan Cendana News sambutan tersebut dilakukan dengan tari tarian serta pengawalan menggunakan pengawalan adat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.
Hal tersebut dinilai tidak berlebihan, karena dia adalah putra daerah asal Lampung Barat yang menjadi Kapolda Lampung pertama kali dari tanah kelahirannya. Lebih menarik lagi karena ia juga seorang raja Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Paksi Buay Pernong bergelar Sultan Sekala Brak yang Dipertuan XXIII. Tidak sampai di situ, program baru yang ia gulirkan juga menarik. Dalam kepemimpinannya, pria kelahiran 27 Januari 1958 itu akan menggunakan program anjau silau untuk mengantisipasi tindak kejahatan dan pelanggaran hukum.
Menurut Raja Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong dalam anjau silau di Kabupaten Tanggamus bisa menjadi modal mengajak masyarakat menjaga perdamaian dan kerukunan antarumat beragama.
“Ada nengah nyappur, sakai sembayan, piil pusenggiri, dan bejuluk beadok yang dapat dikemas dalam tugas kepolisian. Selain itu, rembuk pekon akan diteruskan dalam masa kepemimpinan saya,” ungkap Brigjen Edward Syah Pernong di pekon Rajabasa Kecamatan Bandarnegeri Semong Kabupaten Tanggamus Lampung, Kamis(20/8/2015)
Edward Syah Pernong merupakan Kapolda baru yang menempati jabatan di Polda Lampung menggantikan Brigjen Heru Winarko dan masih menjabat sekitar empat bulan di Polda Lampung. Gebrakan kapolda baru Lampung dalam menciptakan situasi yang kondusif dilakukan dengan cara cara prefentif dengan cara menggandeng tokoh tokoh adat di Lampung untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat.
Dibawah kepemimpinan Edward Syah Pernong diharapkan Lampung akan makin kondusif sehingga program anjau silau menjadi langkah yang sangat tepat sehingga masyarakat bisa lebih sadar dan taat hukum. Dengan demikian, otomatis angka kriminalitas terus berkurang sehingga masyarakat makin nyaman dalam beraktivitas.
Edward Syah Pernong mengaku sebagai Kapolda Lampung merupakan tugas yang tidak mudah baginya  sebab, beliau masih akan berhadapan dengan berbagai konflik sosial atau masalah penegakan hukum di Provinsi Lampung. Seperti konflik yang mengadung unsur suku, Agama, ras, dan antargolongan (SARA), sengketa tanah, serta kriminal umum lainnya. Begitu juga potensi gangguan keamanan menjelang Pemilukada serentak di delapan daerah di Lampung.
“Pilkada serentak harus tetap kondusif sehingga polisi dan masyarakat harus lebih bersinergi dalam menjaga kondusifitas di lapangan”ungkap Edward Syah Pernong.
Program baru anjau silau yang digulirkan Edward tentu saja akan membawa suasana baru di lingkungan kerja dan di masyarakat. Anjau silau merupakan  program lanjutan dari program rembuk pekon yang digulirkan pejabat sebelumnya, Heru Winarko. Namun, bedanya, dalam rembuk pekon aparat yang mendatangi masyarakat, tetapi dalam anjau silau aparat keamanan dan masyarakat saling berkunjung dalam suasana yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.
Kesamaan rembuk pekon dan anjau silau, kedua program tersebut sebenarnya lebih mengutamakan tindakan preventif ketimbang represif. Tidak hanya itu, kedua program tersebut juga sekaligus mengubah paradigma lama tentang keberhasilan polisi. Jika dahulu suksesnya aparat dilihat dari banyaknya pelaku kriminal yang diproses hukum, kini paradigma itu diubah, yakni dari minimnya tingkat gangguan keamanan dan meningkatnya kesadaran hukum masyarakat.
Langkah ini bisa dilakukan polisi dengan melakukan penyuluhan hukum kepada masyarakat dan melakukan pembinaan terhadap pelaku kriminal ringan. Sementara langkah represif juga harus dikedepankan terhadap pelaku kriminal, seperti perampok, begal, dan sejenisnya, yang telah menganggu kenyaman dan mengancam jiwa masyarakat.
Sementara itu masyarakat di Kabupaten Tanggamus berharap anjau silau benar-benar menjadi kegiatan positif yang bisa menjaga suasana kondusif bagi masyarakat.

KAMIS, 20 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...