Kaki dan Tangan Palsu Untuk 250 Masyarakat Tunadaksa di Sumbar


PADANG — Kasus penyandang kekurangan fisik tanpa tangan atau kaki (prosthesa) telah merebak di tanah air. Sebagian dari penyandang keterbatasan ini (Tuna daksa) penyebabnya beragam, mulai dari bawaan lahir, penyakit, dan kecelakaan kerja.
Dalam realita sehari-hari, penyandang disabilitas ini tidaklah selalu mengharap belas kasihan. Banyak diantara yang mandiri, berjuang dengan kecakapan hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya sebagaimana masyarakat pada umumnya.
Untuk meningkatkan motivasi hidup mereka, Dewan Pengurus Daerah Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (DPD PPDI) Sumbar, telah melakukan komunikasi dengan Yayasan Tuna Daksa Jakarta terkait peluang melaksanakan bantuan kaki tangan palsu untuk masyarakat Sumatera Barat di bulan Agustus 2015.
Lewat kerjasama dan dukungan sejumlah lembaga, akhirnya Agenda ini diwujudkan dalam pelaksanaan “Program Bantuan Kaki dan Tangan Se-Sumatera Barat” yang di cetus oleh DPD PPDI di Kantor UPTD Balai Pelatihan Koperasi, Jl. S. Parman, Ulak Karang, Padang.
Bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Singgalang, Yayasan Tuna Daksa, dan Sequiselife, menghimpun peserta sebanyak 250 orang penyandang disabilitas.
Pelaksanaan agenda ini turut disoponsori oleh PT. Pelindo, Auto2000 Padang, Dinas Sosial Sumbar, PKPU, Baznas, serta Pemerintah Provinsi.
“Persiapan telah dimulai semenjak dua bulan sebelumnya, membuka pendaftaran secara masiv dari berbagai daerah bekerjasama dengan DDS dalam sosialisasi masyarakatnya. Tujuan utama agenda ini adalah untuk mewujudkan kemandirian disabilitas agar bermanfaat membantu memudahkan aktivitas mereka,” tutur ketua panitia penyelenggara kegiatan, Yunalzi, yang akrab disapa ‘Ucok Baba’ nya Padang.
Ucok menambahkan, harapannya agar kegiatan ini tidak sekedar agenda yang terwujud tanpa feedback apa-apa.
“Harapannya agar bantuan ini memberi manfaat lah, tak sekedar pajangan, namun dapat memotivasi penerima manfaatnya untuk lebih gigih dan rajin berjuang melawan keterbatasannya,” sambung Ucok.
Proses pengukuran kaki/tangan penyandang disabilitas telah dilaksanakan dengan melibatkan tiga dokter ahli utusan Yayasan Tuna Daksa. Proses pencetakan kaki/tangan palsu ini akan memakan waktu sekitar satu hingga tiga bulan ke depan.
“Alhamdulillah, semoga dengan adanya bantuan ini, aktifitas saya sebagai Garim Masjid bisa lebih ringan,” harap Afrizal (30), warga kecamatan Talamau, Pasaman Barat yang datang bersama 13 warga lainnya untuk mendapat bantuan kaki dan tangan palsu.
Ia menceritakan kedatangannya dari Pasaman Barat dibantu Dinas Sosial setempat dengan melayangkan dua mobil untuk mengantar mereka menuju Padang, setelah dua bulan sebelumnya mendapat informasi agenda bantuan kaki/tangan palsu ini lewat Dompet Dhuafa Singgalang.
“Pembiayaan ditanggung langsung oleh Yayasan Tuna Daksa, bekerjasama dengan PPDI, DDS, dan Sequiselife. Kami berharap agenda kemanusian yang terlaksana menjadi perhatian pemerintah untuk mendukung pergerakan ormas-ormas yang ada dalam usaha perbaikan kesejahteraan masyarakat terutama kelas mikro,” ujar Branch Manager Dompet Dhuafa Singgalang, Musfi Yendra. 

SENIN, 31 Agustus 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...