Kisah Inspiratif Eko Cahyono Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa

MALANG — Bermula dari kegemarannya membaca, Eko Cahyono (35) Pemuda asal Desa Sukopuro Kecamatan Jabung Kecamatan Malang ini membuat perpustakaan gratis bagi masyarakat di desanya. Hingga kini, Anggota Perpustakaan telah mencapai 8 ribu orang.
“Kalau orang lain memilih tidak makan daripada tidak merokok, kalau saya lebih memilih tidak makan daripada tidak membaca. Saya ini sudah kecanduan membaca, kalau sehari saya belum membaca, malamnya tidak bisa tidur,” ucapnya membuka perbincangan dengan Cendana News di Malang, Sabtu (01/08/2015).
Dia menceritakan, sekitar 17 tahun yang lalu, saat berjalan ke kampung-kampung, dia melihat banyak anak-anak di desa tersebut yang belum sekolah dan tidak bisa membaca. Dari situ dia bertanya pada diri saya sendiri, apa yang bisa diperbuat untuk mereka?. 
Setelah lulus Sekolah Menengah Atas bulan Mei, dua bulan kemudian tepatnya Juli 1998 dia mendirikan Perpustakaan yang diberi nama Perpustakaan Anak Bangsa. Eko mengaku, dulunya lokasi perpustakaannya berpindah-pindah, bukan disini karena tempatnya masih ngotrak. 
“Hingga pada bulan Maret 2011 saya baru bisa memiliki tanah dan gedung sendiri untuk perpustakan, sehingga lokasinya sekarang sudah menetap dan tidak berpindah-pindah lagi,” akunya.
Saat ditanya mengenai minat baca masyarakat Indonesia, anak ke tiga dari tiga bersaudara ini menjawab jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada kaum intelek bahkan praktisi kebanyakan mereka akan menjawab minat baca masyarakat Indonesia rendah. 
Kenapa timbul anggapan minat baca orang Indonesia rendah, karena mereka yang beranggapan seperti itu tidak mau memberikan bukunya kepada orang lain. Padahal jika seandainya disetiap desa terdapat perpustakaan seperti ini, masyarakat pasti banyak yang datang untuk membaca.
Anggota Perpustakaan Anak Bangsa sendiri yang sering meminjam buku kini sudah mencapai 8 ribu orang. Jadi kalau ada anggapan minat baca orang Indonesia rendah, itu salah sekali. 
“Bukan minat bacanya yang rendah, tapi fasilitas dan bukunya yang rendah,”, ujarnya.
Kenapa masyarakat Indonesia malas datang untuk meminjam buku di perpustakaan?. Karena kebanyakan perpustakaan yang ada sekarang terlalu banyak aturan seperti bila masyarakat ingin menjadi anggota perpus harus membayar uang pendaftaran, lama peminjaman buku dibatasi, jika telat mengembalikan buku diberi denda.
Selain itu, biasanya untuk meminjam buku harus membawa tanda pengenal atau kartu anggota dan kebanyakan perpustakaan hanya buka dari pagi sampai sore, dimana masyarakat pada jam tersebut masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing (sekolah dan kerja) sehingga jarang yang datang ke perpustakaan.
“Masyarakat desa tidak mungkin datang ke perpustakaan yang ada di kota karena jaraknya jauh, masyarakat desa juga jarang ada yang mau membeli buku dari toko buku karena harganya pasti mahal,” sambungnya.
Berbeda dengan Perpustakaan Anak Bangsa, kalau disini untuk menjadi anggota Perpustakaan Anak Bangsa syaratnya hanya satu yaitu meminjam buku minimal harus 5 Eksemplar. Disini tidak ada maksimal buku yang dipinjam berapa dan lama peminjaman berapa hari. 
“Mereka boleh meminjam buku sebanyak-banyaknya 10, 20 hingga 50 buku dalam sekali pinjam,”sebutnya.
Mereka juga boleh mengembalikan buku kapan saja mereka maum sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun semua terserah mereka. 
“Perpustakaan disini juga sengaja tidak di beri pintu dan buka 24 jam sehingga mereka yang ingin membaca bisa datang kapan saja dan mereka juga bisa menginap disini,” jelasnya.
Jadi kalau semua perpustakaan seperti ini, semua pasti suka membaca. Masalahnya, menurut Eko selama ini akses dan aturan pendidikan justru membatasi orang-orang yang bodoh untuk menjadi pintar. Karena takut buku hilang, takut buku rusak akhirnya dianggap minat baca masyarakat Indonesia rendah. Padahal yang rendah fasitlitasnya, dan ketika ada perpustakaanpun masyarakat masih dibatasi dengan atura-aturan. 
“Seandainya semua perpustakaan itu bebas, boleh baca sepuasnya, untuk pinjam buku tidak perlu ribet, tidak ada denda dan lain-lain pasti mereka mau datang ke perpustakaan untuk membaca,” harapnya.
Dia tidak takut bukunya hilang, walau buku dibawa orang pulang dan tidak dikembalikan, dia tidak menganggap buku itu hilang karena dia percaya bukunya diluar sana pasti dibaca orang lain. Selama ini para pecinta buku takut bukunya hilang dan rusak sehingga bukunya berakhir hilang di lemari kamar.
“Saya tidak pernah menganggap buku itu hilang selama buku tersebut tidak terbakar atau hanyut di dalam air, karena musuh dari buku adalah air dan api,” tegasnya.
Eko mengaku memiliki koleksi buku 53 ribu eksemplar dan itu merupakan bantuan dari masyarakat. Untuk mendapatkan buku, Eko biasanya melakukannya dengan cara door to door dan sudah sekitar 1600 rumah yang sudah Eko datangi. 
Selain itu Eko juga biasanya memasang pengumuman di alun-alun, kampus-kampus dan juga melalui siaran radio untuk meminta kepada masyarakat yang memiliki buku untuk disumbangkan ke perpustakaannya dan Eko siap mengambilnya di rumah.
Tidak hanya dari masyarakat Malang saja, masyarakat dari luar Malang seperti Kediri, Blitar, Pasuruan bahkan Jogjakarta juga sering mengiriminya buku. 
“Selain dari masyarakat, perpustakaannya juga sering mendapat bantuan dari perusahaan-perusahaan swasta,” jelasnya. 
Disini juga terdapat sebuah buku yang memiliki panjang hampir enam meter dan mungkin hanya ada di Perpustakaan Anak Bangsa, buku tersebut berjudul “The Wall of World History” yang dia peroleh dari kawannya.
Untuk pengunjung perpustakaannya sendiri tidak hanya dari masyarakat desa Sukopuro, kebanyakan juga dari luar desa bahkan luar kota Malang. Pengunjungnya minimal 75 orang per hari dan paling banyak 300 orang. Perpus disini ramainya setelah jam satu siang sampai malam karena jam tujuh pagi sampai jam satu siang kebanyakan masyarakat masih bekerja dan anak-anak masih sekolah.
Cukup banyak kegiatan yang sering diadakan Perpustakaan Anak Bangsa ini, seperti lomba mewarnai, lomba cerdas cermat, baca pusi, nonton dan membahas film bersama dan juga bimbingan belajar yang biasanya diberikan oleh teman-teman dari SMA maupun mahasiswa. Anak-anak yang datang kesini tidak hanya bisa membaca namun juga bisa bermain musik, lego, dan nonton film.
Di Perpustakaan Anak Bangsa ini sering dijadikan jujukan tempat mahasiswa untuk kegiatan KKN dari berbagai Universitas yang ada di Malang.
“Besok disini juga akan kedatangan teman-teman mahasiswa dari Universitas Islam Malang untuk kegiatan KKN,” ungkapnya.
Selain itu, Eko juga membuat perpustakaan keliling. Dengan menggunakan tempat khusus, Eko berkeliling membawa koleksi bukunya ke kampung-kampung.”Biasanya berangkat bawa 500 buku, pulangnya tinggal 100 buku, karena banyak yang meminjam,” tuturnya.
Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan biaya operasional perpus biasanya Eko bekerja menjadi penjaga stan saat ada acara-acara pameran. Selain itu, dirinya juga memili toko kecil-kecilan di dekat tempat tinggalnya.
Dari pantauan Cendana News, cukup banyak penghargaan yang diperoleh Eko Cahyono dengan Perpustakaan Anak Bangsanya ini, namun begitu penghargaan tersebut tidak terlalu penting baginya, yang terpenting adalah bagaimana dirinya bisa bermanfaat bagi orang lain.
Eko mengaku tidak memiliki target apapun. “Yang terpenting hari ini cari buku, buku saya banyak, masyarakat banyak yang datang kesini untuk membaca, ya sudah,”sebutnya.
Eko juga berterimakasih dengan semua awak media baik cetak, elektronik maupun online, karena dengan adanya mereka, kini Perpustakaannya lebih dikenal banyak orang sehingga masyarakat banyak yang memberikan bantuan berupa buku dan juga perlengkapan perpustakaan. 
Eko berharap bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan bukunya kepada Perpustakaan Anak Bangsa bisa dikirim ke alamat Jalan Ahmad Yani RT 26/ RW 07 Desa Sukopuro Kecamatan Jabung Kabupaten Malang atau bisa menghubunginya di 085646455384.

Foto-foto Perpustakaan Anak Bangsa (klik Disini)

SABTU, 01 Agustus 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...