Kisah Menyayat Hati dari Kulon Progo. Nenek Sumini, Tak Berdaya dan Sebatang Kara.


YOGYAKARTA—Hati siapa gerangan yang tak pedih, demi melihat seorang nenek tua lumpuh ditelantarkan keluarganya? Nenek Sumini (72), hidup seorang diri tanpa sanak keluarga yang merawat. Sudah beberapa minggu ini Nenek Sumini tak berdaya. Tidur di atas lantai hanya beralaskan tikar. Karena tak bisa berjalan, Nenek Sumini pun buang air besar dan kecil di tempat yang sama. Kondisi Nenek Sumini sungguh mengiris hati. 
Warga desa Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, DI. Yogyakarta, tak mengetahui riwayat Nenek Sumini. Namun warga dengan iklas menyantuninya, karena Nenek Sumini sudah jompo. Nenek Sumini bukan warga asli desa Pengasih. Ketika datang pertamakali ke desa Pengasih, Nenek Sumini tak seorang diri. Ada dua keponakan dan adiknya yang selalu merawatnya. Namun karena alasan ekonomi, keponakannya pamit pergi merantau untuk mencari nafkah ke Jakarta. Sejak itu, Nenek Sumini hanya tinggal bersama adiknya yang juga sudah tua, Suminah.
Bima Kastawam, Ketua RT.05 Pengasih mengatakan, waktu itu Nenek Sumini datang dalam keadaan sakit. Suminah yang merawatnya. Mungkin karena sudah kehendak Illahi, katanya, tak berselang waktu lama setelah Nenek Sumini sembuh, Suminah meninggal dunia. “Waktu meninggalnya Suminah itu, dua keponakan Nenek Sumini yang tak lain anak dari Suminah sempat pulang”, ujar Bima.
Dengan meninggalnya Suminah empat bulan lalu, Nenek Sumini tinggal seorang diri. Hidupnya tergantung dari belas kasih para tetangga. Setiap hari, kata Bima, Nenek Sumini meminta makan kepada para tetangga. Meski harus menggunakan bantuan tongkat sapu, waktu itu Nenek Sumini masih bisa berjalan. Namun beberapa hari terakhir ini, Nenek Sumini tak pernah tampak keluar rumah. Sedangkan, lampu rumahnya juga selalu mati.
Curiga dengan keadaan itu, Rini Kristanti, tetangga terdekat Nenek Sumini melongok ke dalam rumahnya. Dilihatnya Nenek Sumini dalam keadaan tengkurap. Sempat terpikir olehnya, jika Nenek Sumini sudah meninggal. Rini pun mengajak beberapa tetangga yang lain untuk membuka pintu rumah Nenek Sumini. Saat itulah, semua warga tercengang. “Waktu melihat pertama kali itu, Nenek Sumini dalam keadaan lemas. Bau tak sedap menusuk hidung, karena ternyata Nenek Sumini tak bisa berjalan. Buang air besar dan kecil di tempat”, ujar Rini.
Tergerak demi melihat kondisi Nenek Sumini yang mengenaskan itu, Rini bersama warga lainnya segera mengurusnya. Bersama-sama Nenek Sumini dimandikan dan diberikan pakaian layak. Tetangga lain yang laki-laki membersihkan lantai rumah Nenek Sumini. Begitulah setiap hari, tetangga dekat mengurus Nenek Sumini. Sedangkan Rini setiap harinya tak pernah lupa mengantarkan makan dan minum gratis seadanya kepada Nenek Sumini. “Nenek Sumini sebenarnya sehat. Hanya kakinya saja tidak bisa jalan karena terjatuh. Makan dan minum bisa sendiri meski harus berbaring dengan posisi tubuh miring”, jelas Rini.
Tak seorang pun warga sekitar mengetahui di mana alamat sanak saudaranya. Nenek Sumini sendiri tidak tahu di mana dua keponakannya tinggal di Jakarta. Nenek Sumini yang masih bisa bicara itu hanya mengatakan, kedua keponakannya bekerja di Jakarta dan katanya hendak pulang sehabis lebaran ini. “Tapi, tidak tahu kok sampai sekarang belum datang-datang”, ujar Nenek Sumini, lirih, lemas di atas pembaringannya di lantai beralas tikar.
Bima mengatakan, warga sudah berupaya untuk mencarikan bantuan sampai ke pemerintahan desa setempat dan panti jompo. Namun, semua upaya warga belum membuahkan hasil. “Sementara ini kami hanya membantu sebisanya”, pungkas Bima. 
SABTU, 15 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : Gani Khair
Foto Nenek Sumini dan ketulusan tetangga yang merawatnya.

Lihat juga...