Kisah Sukses Petani Buah Naga di Sleman, Yogyakarta

YOGYAKARTA — Selama ini, buah naga dipercaya bisa menambah stamina. Buah yang bentuknya unik karena bersisik naga itu, juga dipercaya mampu memberi keberuntungan. Namun populasinya saat ini masih langka. Jika pun ada di pasaran, acapkali berasa asam. Tetapi di Pakem, Sleman, Yogyakarta, ada seorang petani yang mampu menghasilkan buah naga berkualitas baik, sehingga pelanggannya rela antri memesan berbulan-bulan sebelumnya.
Apa istimewanya buah naga dari Pakem, Sleman, Yogyakarta? Jika dilihat sepintas, buah yang dibudidayakan oleh Muhammad Gunung Soetopo, memang tak ada bedanya dengan yang banyak ditemukan di pasaran. Namun jika diamati dan dirasakan, buah naga milik petani yang akrab disapa Pakde Gun terbukti sangat berbeda. Lebih manis, dan bisa berbuah di luar musim panen raya.

Buah Naga Pakde Gun yang mulai dikembangkan sejak 10 tahun lalu di atas lahan seluas 2,5 Hektar tersebut, sudah terkenal sampai ke manca negara. Kebun yang diberi nama Sabila Farm itu bahkan menjadi tempat tujuan dari berbagai instansi dan kelompok pertanian yang ingin belajar ilmu bercocok tanam. Sabila Farm, memang tak sekedar menarik karena buah naganya, melainkan konsep yang sangat berbeda dengan teori pertanian dan ekonomi pada umumnya.

Pakde Gun yang ditemui di kebunnya pada Minggu (30/08/2015) mengatakan, bertani itu sangat mudah dan sangat menguntungkan. Ia bahkan mengaku memiliki 11 Ha lahan kebun dengan 35 jenis komoditas buah. Menariknya lagi, semua kebunnya itu menempati lahan bekas kawasan marjinal seperti bekas tambang dan lahan tandus di Gunung Kidul, Yogyakarta. Faktanya, kendati menempati tanah yang dibilang banyak orang tidak subur, Pakde Gun mampu menghasilkan jutaan rupiah sebulan dari hasil perkebunannya itu.

Tentu, keberhasilan itu tak diperoleh begitu saja, tetapi, ada ilmunya. Pakde Gun mengatakan, selama ini ia sengaja memilih lahan marjinal itu karena harganya relatif murah, lalu memilih jenis komoditas berupa buah yang berkhasiat. Dan, yang terpenting lagi, cetusnya, bertani itu harus dengan hati.

“Inilah konsep yang selalu saya bagi kepada siapa pun yang ingin bertani”, kata Pakde Gun.

Pakde Gun tak hanya sekedar omong besar. Dalam setahun, setidaknya ada 6-8000 orang bertandang ke perkebunannya untuk belajar ilmu bercocok-tanam darinya. Sementara itu, Pakde Gun sendiri juga suka membagikan ilmunya kepada siapa pun tanpa memungut biaya. Baginya, memberi sesuatu kepada orang lain itu justru akan mendatangkan rejeki yang lebih banyak. Dan, itu pula konsep bercocok tanam Pakde Gun, yaitu iklas memberi dan saling berbagi.

“Tidak hanya berbagi kepada sesama manusia. Namun, juga berbagi dengan sesama makluk hidup lainnya termasuk alam dan hama”, tegasnya.

Kolaborasi dengan Alam

Dijelaskan Pakde Gun, dalam konsep bercocok-tanamnya tidak dikenal istilah membasmi hama. Apalagi, meracuninya dengan obat, juga tak pernah menggunakan pupuk kimia. “Kita bercocok-tanam dengan hati. Tidak merusak alam, namun berkolaborasi dengan alam. Hama di sini tidak dibasmi. Namun justru dibuatkan tempat. Semua jenis hama dijadikan satu koloni sehingga tak mengganggu tanaman”, ujarnya.

Dengan basis keilmuannya yang berbeda namun terbukti berhasil, Pakde Gun kini lebih sering mengembara ke berbagai daerah termasuk ke manca negara untuk memberikan bimbingan pertanian. Sementara itu, pengelolaan perkebunannya diserahkan kepada istrinya, Eli Mulyati.

Selain konsep berbagi dan berdampingan dengan alam, Pakde Gun juga tak mau bekerjasama dengan supermareket atau mall besar untuk memasarkan produk buahnya yang diakui berkualitas. Pasalnya, jelas Pakde Gun, cara berpikirnya berbeda. “Lagi pula saya juga tidak sempat menawarkan hasil buah naga saya, karena belum berbuah saja sudah dipesan pelanggan”, akunya.

Eli mengatakan, selama ini hasil buah naga dari kebun seluas 2,5 hektar itu tidak pernah sempat berlama-lama tinggal di kebun. Padahal, menurutnya, selama dalam 6 bulan kebun buah naga miliknya itu menghasilkan 10 Ton buah naga. Jika harga perkilo buah naga rata-rata perkilo Rp 25.000, maka selama 6 bulan itu kebun buah naga miliknya menghasilkan Rp 250 Juta. Sebuah angka penghasilan petani yang sungguh luarbiasa, dan Pakde Gun menegaskan, siapa pun mampu melakukannya. “Asal tahu dan mau menjalankan ilmunya”, tandasnya.

Sabila Farm yang dikelola keluarga Pakde Gun di desa Pakem, tak hanya membudidayakan buah naga. Namun juga jenis buah lain seperti serikaya, sirsak dan pepaya. Buah naga yang dibudidayakan Pakde Gun sendiri ada dua jenis. Buah Naga Merah dan Buah Naga Putih. Eli menjelaskan, buah naga merah dan putih itu kulitnya sama-sama merah. Hanya daging buahnya yang berbeda warna. Selain naga merah dan putih, masih ada lagi buah naga kuning. “Buah Naga dengan warna daging buah kuning itu yang paling mahal. Harganya bisa 300 ribu perkilonya”, kata Eli.

Pakde Gun menejalaskan, Buah Naga itu merupakan tanaman yang membutuhkan sinar matahari selama 12 jam selama satu hari. Sulur daunnya harus menjulur ke bawah supaya bisa berbuah, dan akarnya harus mendapatkan pasokan udara yang cukup. “Sebab, pohon buah naga itu merupakan pohon berakar udara, dan pohonnya mampu hidup dan berproduksi dengan baik selama puluhan tahun. Sementara di luar musim panen bulan November sampai April, kita juga bisa membuahkan buah naga dengan teknik penyinaran di malam hari”, pungkas Pakde Gun.

MINGGU, 30 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...