Kuda Kepang, Alternatif Hiburan Semua Kalangan

LAMPUNG — Kesenian kuda kepang atau yang dikenal dengan jarang kepang, jaran lumping serta berbagai sebutan lainnya kian marak di sebagian wilayah Lampung. Kesenian yang secara historis berasal dari Pulau Jawa tersebut, akhir akhir ini kerap dipentaskan, “ditanggap” oleh pemilik hajat untuk menjadi hiburan yang menarik serta disukai banyak kalangan.
Menariknya, dari pantauan Cendana News nyaris sebagian besar desa di Lampung yang memiliki asal usul dari Pulau Jawa mulai mendirikan paguyuban atau perkumpulan kesenian kuda kepang dengan ciri khas masing masing. Ciri khas tersebut tergantung asal perkumpulan jaranan yang berasal dari daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali yang memiliki ciri tersendiri dengan sebutan Encling, Janger yang semuanya persis sama sebagai kesenian kuda kepang dengan beragam sebutan.
Menurut salah satu Ketua Paguyuban Kuda Kepang “Sari Budhoyo” di Sumbersari Kecamatan Penengahan, Sunyoto, makin maraknya kesenian tradisional kuda kepang ini merupakan sebuah fenomena akan semakin pedulinya masyarakat terhadap pelestarian kesenian. Hal tersebut terlihat dari mulai adanya regenerasi para pemain kesenian tersebut dimana anak anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), bahkan Sekolah Dasar (SD) mau terlibat hingga ke kalangan orang tua.
“Kesenian kuda kepang ini seperti tidak memandang umur bahkan ada semacam pemersatu dan sebagai paguyuban seolah tidak ada sekat mana masih muda mana sudah tua, semua terlibat dan saling melengkapi,”ungkap Sunyoto kepada Cendana News, Sabtu (29/8/2015). 
Sisi positif tersebutlah yang membuat kuda kepang justru semakin diminati baik oleh para pelaku kesenian tersebut maupun “Saiful Hajat”. Menilik sejarah, bahkan Sunyoto mengungkapkan, dahulu di wilayah Penengahan dan sekitarnya kesenian jarang kepang hanya muncul pada saat even atau peristiwa tertentu saja. Semisal di waktu warganya mengadakan hajatan, biasanya dengan mengadakan tontonan yang menghibur masayarakat setempat karena pada umumnya seni budaya jaran lumping, dilestariakan karena bukan hanya nilai komersil saja tapi ada juga nilai estetika, nilai budaya, nilai gotong royong serta nilai silaturahmi.
Saat ini hiburan kuda kepang bahkan mulai “mengalahkan” kesenian organ tunggal yang cenderung memberikan hiburan bagi kalangan tertentu dan pada saat saat tertentu menampilkan tontonan yang justru tidak mendidik bagi generasi muda. Meski tidak mendeskriditkan kesenian lain, namun Sunyoto melihat sisi positif kesenian tradisional kuda kepang mulai diminati berbagai kalangan yang terlihat dari besarnya jumlah penonton yang begitu besar.
“Nyaris tak pernah sepi dari anak anak kecil hingga orangtua selalu berjubel, kuda kepang seolah menjadi magnet sebagai hiburan yang dinanti karena kesenian massal yang memasyarakat bahkan bagi kalangan atas hingga masyarakat bawah,”ungkap lelaki yang menekuni kuda kepang sejak tahun 1995 tersebut.
Pertunjukan yang menjadi primadona tersebut dibuktikan dengan banyaknya permintaan saat hajatan, bahkan Sunyoto mengungkapkan dalam sebulan ada sekitar 7 permintaan untuk tampil dengan sekali tanggap kini kelompok pemain ditanggap dengan nilai Rp2juta hingga Rp3juta. Jumlah yang sangat lumayan dibandingkan tahun tahun sebelumnya dalam dua bulan dua permintaan pun sudah cukup banyak, bahkan beberapa klub atau perkumpulan kuda kepang yang dulu eksis dan sempat vakuum, kini mulai melebur membentuk kelompok baru. Tercatat ada sekitar 3 perkumpulan kuda kepang dalam satu desa.
Salah satu latar belakang kesenian ini masih menjadi favorit dan alternatif hiburan warga diamini oleh seorang pemerhati kesenian lain, Winarso (45) ia mengaku masyarakat sekarang membutuhkan hiburan kesenian yang mendidik dan lebih murah. Kuda kepang salah satu solusinya, karena dalam kuda kepang tersebut terkandung banyak makna, diantaranya nilai estetika, nilai budaya, nilai gotong royong serta nilai silaturahmi.
“Banyak hal dikerjakan bersama, dan itu show massal bukan hanya menampilkan perseorangan, bandingkan dengan ajang ajang menyanyi atau ajang bakat yang ditampilkan televisi sekarang lebih ke egosentris dan ke satu subyek,”ungkap Winarso.
Kebersamaan tersebut tentunya terlihat dari mulai persiapan, para pemain musik, tata rias, bagian perlengkapan sound system, keamanan, parkir serta berbagai hal yang sangat diperlukan dalam sebuah pertunjukan kuda kepang. Semuanya saling bahu membahu untuk bisa menampilkan kesenian yang ditunggu tunggu banyak orang. Kecanggihan tekhnologi pun dimanfaatkan oleh berbagai kelompok kesenian kuda kepang diantaranya melalui jejaring sosial Twitter, facebook dimana sebelum pentas, admin kelompok akan mengumumkan di Facebook jadwal tampil kesenian kuda kepang tersebut sehingga pecinta kuda kepang mengetahui persis jadwal main kuda kepang yang mereka cintai.
Hal yang menjadikan kuda kepang menarik diantaranya karena kuda kepang selalu menyuguhkan pertunjukan yang spektakuler, contohnya makan beling (pecahan Kaca) menari dan kemudian kadang memakan serabut buah kelapa dengan mulut hingga terkelupas, bergulingan di atas duri pohon Salak. Uniknya lagi saat ini dengan adanya “perpaduan” atraksi kuda kepang biasanya sembari di iringi musik dan lagu-lagu cirebonan, Banyuwangian, dangdut, tarling yang membuat si pemain lebih agresif berjoget mengikuti irama musik.
“Dahulu kan belum ada tuh diiringi dengan organ atau musik modern disertai penyanyi, namun sekarang lebih menarik karena disertai ada penyanyi serta musik yang menyesuaikan sehingga tak hanya tabuhan alat tradisional, menyenengkan bagi pemain kuda kepang serta penonton,”ungkapnya.
Meskipun demikian sering kali masyarakat masih menganggap penampilan atau performance jaran lumping dikaitkan dengan dunia mistis karena si pemain yang memainkan aksi makan kaca, juga sebelum aksi jaran lumping si pawang membakar kemenyan yang artinya menurut orang ciri khas membakar kemenyan adalah salah satu media memanggilan arwah atau roh halus. Pada saat itu juga si pemain yang sadar diri terasupi oleh arwah atau roh halus dan dikendalikan oleh arwah atau roh yang memasuki dirinya sebagai media untuk melakukan aksinya di depan penonton banyak.
“Tapi ini tetap kesenian dan unsur magis tersebut bagian dari kesenian tersebut entah bagaimana asal usulnya tapi sisi magis memang tak bisa dilepas dari kesenian kuda kepang tersebut,”ujar Winarso.
Keistimewaan kesenian ini diantaranya dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari jaranan buatan dari bambu yang di bentuk menyerupai kuda atau jaran kepang. Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis.
Kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.
Sering kali pertunjukan ini yang ditampilkan membuat para penonoton membludak ingin menyaksikan, seperti halnya pertunjukan yang diadakan saat memeriahkan Perayaan HUT NKRI ke-70 di Ketapang Lampung Selatan. Seringkali pertunjukan tersebut menyedot perhatian masyarakat untuk berbondong-bondong menyaksikan.
Dengan digelarnya pertunjukan tersebut, baik anak-anak, orang dewasa serta orang tua tetap setia menonton aksi si pemain yang melakukan atraksi kuda kepang. Permainan jaran kepang terdiri 4 pemain dan 1 pawang yang mengendalikan atau memasukan roh halus. Setelah pawang selesai dengan ritual memasukan roh halus kepada para pemain spontan si pemain tak sadar diri namun bisa melihat secara jelas jalan dan yang dilakukanya. 
Dari sisi lain, menurut Winarso, adanya kesenian ini membuat para pedagang mainan, minuman, atau makanan tradisional jenis pecel atau kacang rebus serta pedagang lain bisa berjualan selama kuda kepang berlangsung. Sementara dari faktor keamanan tak pernah terjadi adanya pertikaian atau perkelahian meskipun penonton berdesak desakan saat acara berlangsung. Tak salah jika kesenian kuda kepang ini merupakan kesenian alternatif yang saat ini menjadi hiburan bagi warga di tengah situasi ekonomi yang makin tak menentu, hiburan yang murah meriah ini bisa menjadi pelipur lara.

KAMIS, 27 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...