Kurangnya Lahan Parkir Salah Satu Penyebab Kemacetan di Denpasar

DENPASAR — Denpasar Bali, kota kecil yang mendunia dengan penduduk sangat besar. Berbagai objek wisata, minimnya lahan parkir dan kesadaran masyarakat menjadikan kemacetan sangat sulit teratasi. 
Kurangnya lahan parkir seperti tempat wisata, Rumah Sakit, Kampus, perkantoran pinggir jalan, sekolah, dan yang terutama bisnis-bisnis kuliner pinggir jalan menjadi titik-titik rawan kemacetan.
Kemacetan tersebut sering dikeluhkan oleh pengguna kendaraan bermotor, salah satunya supir mobil box pengiriman daging.
“Saya harusnya bisa menempuh perjalanan dari sudirman ke gatot subroto dengan waktu 15 menit, namun sekarang bisa mencapai 45 menit dikarenakan macet parkiran Kampus Udayana, Sekolah Kristen di sebelah Matahari, ditambah disepanjang toko-toko emas Jalan Hasanudin,” keluh Pujianto di Denpasar, Senin (03/08/2015).
Mengatasi permasalahan tersebut, berbagai langkah kerap dilakukan oleh aparat dan dinas terkait, seperti pendekatan persuasif hingga pengempesan ban mobil. Namun belum memberikan dampak yang maksimal.
Seperti yang disebutkan oleh Kepolisian Sektor Kuta, dia melakukan dua cara untuk memberikan peringatan bagi para pelanggar parkir di kawasan wisata Pantai Kuta.
“Jika melanggar aturan parkir seenaknya maka ada dua hal yang akan kami lakukan, yaitu memberi peringatan persuasif dan pengempesan ban kendaraan tanpa tebang pilih, tentunya dengan berkoordinasi serta melakukan sinergi bersama aparat Dinas Perhubungan setempat di lokasi,” tegas Aipda Nengah Slamet.
Hal tersebut dibenarkan salah seorang penegak disiplin dari Dinas Perhubungan Kota Denpasar yaitu I Made Pudatmaja. Ia menegaskan bahwa pengayoman akan diikuti dengan penindakan secara tegas di lapangan.
“Salah satu tindakan kami adalah menggembok kendaraan yang memang membandel tidak mematuhi peraturan parkir di wilayah publik,” Jelas I Made Pudatmaja, salah satu komandan regu Dishub Kota Denpasar saat kami temui di lapangan.
Disebutkan, hal yang dilakukan hanya memberikan dampak sementara. Diharapkannya, para pelaku bisnis tidak hanya memperhatikan bagaimana bisnisnya laku dan maju, akan tetapi harus juga memikirkan kepentingan publik lainnya.

SENIN, 03 Agustus 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...