Lemahnya Nilai Tukar Rupiah Pengaruhi Sektor Jasa Penyeberangan

LAMPUNG — Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar As berimbas pada para operator kapal Roll on Roll Off (Roro), seperti yang dirasakan oleh Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Cabang Bakauheni Lampung.
Kepala Gapasdap Cabang Bakauheni Lampung, Sunaryo kepada Cendana News mengungkapkan, pengaruh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terasa langsung karena sebagian besar sparepart kapal Roro berasal dari luar negeri.
“Rata rata sparepart kapal Roro dibeli dari Singapura dan belinya menggunakan dolar, sementara pemasukan dari jasa penyeberangan masih menggunakan rupiah, sangat terasa terutama ketika membeli alat alat kapal,”ungkap Sunaryo Rabu (26/8/2015).
Dikatakannya, sebelum dolar AS naik semua keperluan kapal para pengusaha angkutan di Selat Sunda yang tergabung dalam Gapasdap sudah menggunakan dolar. Jadi jika dolar naik ia mengungkapkan pembelian alat alat akan semakin membebani para pemilik kapal Roro yang ada di Selat Sunda.
“Selain harga tentunya untuk perawatan serta operasional akan semakin mengeluarkan biaya yang cukup tinggi selain biaya komponen impor yang kita beli,”ungkapnya.
Meski ketika mata uang dolar AS terus meroket namun ia mengaku tak serta merta bisa menaikkan tarif. Sebab kewenangan kenaikan tarif jasa penyeberangan berada di kementerian Perhubungan. Ia berharap biaya operasional yang sudah cukup tinggi tersebut tidak disertai dengan naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM).
Sunaryo yang juga kepala Cabang PT Dharma Lautan Utama (DLU), salah satu operator jasa penyeberangan di Selat Sunda mengaku, untuk menyiasatinya pengusaha kapal lebih memilih untuk mengistirahatkan beberapa kapalnya. Apalagi di masa masa ini penyeberangan yang ada di Selat Sunda terbilang sepi.
“Mayoritas penyeberangan didominasi oleh truk truk ekspedisi, bus lintas Provinsi, yang memberi pemasukan untuk setiap kapal namun kita tetap harus lebih efesien dalam operasional,”ungkap Sunaryo.
Hingga saat ini sebagai Ketua Gapasdap, ia belum mendapat keluhan dari sekitar 17 operator penyeberangan di lintasan Selat Sunda. Bahkan masing masing perusahaan kapal Roro masih tetap beroperasi meski sebagian masih melakukan docking dan anchor kapal sambil melakukan perbaikan.
Sementara itu saat dikonfirmasi Manager operasional PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) cabang Bakauheni, Heru Purwanto, untuk saat ini tak ada pengaruh signifikan terhadap kenaikan kurs dolar. Ia bahkan mengungkapkan operasional di pelabuhan Bakauheni saat ini masih normal.
“Saat ini masih normal dan tak ada pengaruh yang terasa bahkan kalau dirata rata dalam sehari trip kapal masih normal di kisaran 85-90 trip kapal perhari dengan kapasitas angkutan sekitar 4500 kendaraan campuran perhari,”ujar Heru Purwanto.
Ia mengungkapkan bahkan saat ini pada angkutan normal jumlah kapal penyeberangan yang dioperasikan sekitar 27-28 kapal perhari. Sementara jumlah operator atau pemilik kapal penyeberangan di lintasan Selat Sunda mencapai 17 perusahaan penyeberangan. 

RABU, 26 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...