Makna Dibalik Spanduk HUT Ke-70 Bergambar Pak Harto dan Bung Karno

YOGYAKARTA — Apa yang terlintas di benak, manakala melihat gambar dua sosok mantan Presiden RI, Soeharto dan Soekarno, dalam satu spanduk ucapan ‘Dirgahayu Republik Indonesia’?. Tanpa pretensi apa pun, sekiranya gambar dua sosok presiden legendaris bangsa ini mencerminkan adanya kerinduan besar masyarakat terhadap munculnya seorang pemimpin sekelas Bung Karno dan Pak Harto.
Sekilas pandang, tak ada yang istimewa dengan spanduk berisi ucapan ‘Dirgahayu Ke-70 Republik Indonesia’, yang dipasang oleh masyarakat dusun Teguhan, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Spanduk yang dipasang untuk merayakan HUT Ke-70 Kemerdekaan RI itu, sampai kini masih bertengger di atas gapura masuk pedusunan itu. Spanduk dengan latar merah putih, di sebelah kiri gambar Soeharto dan sebelah kanan Soekarno. Lalu, di tengahnya tulisan Dirgahayu RI Ke-70 dan di bawahnya tertera nama dusun. Sebuah spanduk yang sederhana, namun sungguh dalam arti dan maknanya.

Mafum diketahui, kedua mantan Presiden RI tersebut sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Betapa pun hebatnya, keduanya hanya manusia biasa yang tak mungkin lepas dari kekeliruan. Namun sejak lengsernya Presiden Soeharto, bangsa ini seolah berlomba-lomba untuk mengubur nama besar Soeharto. Pun demikian pula dengan Soekarno. Alangkah piciknya mereka, jika kemudian membenci mantan pejuang yang telah melahirkan dan membesarkan negara ini. Anggaplah ada dosa dan salah, bukankah itu sudah kodrat manusia?

Begitulah sekiranya, pikiran itu melintas demi melihat spanduk sederhana yang dipasang oleh warga masyarakat dusun Teguhan. Spanduk itu menjadi unik dan sangat berkesan, di tengah hiruk-pikuk perkembangan politik bangsa ini yang cenderung senang menghujat orang. Lihatlah, mereka warga dusun Teguhan justru bisa bersikap arif. Gambar Soeharto dan Soekarno dipasang berdampingan, seolah hendak mengingatkan kita akan peran dan jasa besar keduanya yang telah lama dinafikkan. Begitukah maksud dipasangnya spanduk itu?

Sigit Pranowo (52), Kepala Dukuh Teguhan, ditemui Minggu (23/8) mengatakan, dua gambar mantan Presiden RI itu memang sengaja dipasang untuk mengenang jasa-jasa perjuangannya. Pada awalnya di sebuah rapat warga menjelang peringatan hari kemerdekaan, tuturnya, dibahas tentang rencana pemasangan sebuah spanduk ucapan selamat hari kemerdekaan itu. Namun agar tak sekedar memasang gambar tanpa makna, warga lalu sepakat untuk membuat spanduk dengan gambar Soeharto dan Soekarno.

Dipilihnya gambar dua sosok mantan Presiden RI itu, menurut Sigit, karena keduanya sama-sama telah berjasa besar dalam membangun bangsa ini.

“Bung Karno itu Bapak Proklamator. Sedangkan, Pak Harto itu Bapak Pembangunan. Keduanya sama-sama berjasa. Berjuang membesarkan negara ini”, kata Sigit.

Sigit menyadari, selama ini ada pro dan kontra terkait dua sosok legendaris tersebut. Namun, Sigit mengaku tak pernah mempersoalkan kontroversi itu. Baginya, Soeharto dan Soekarno adalah pahlwan. Jika saat ini banyak orang menghujatnya, kata Sigit, seharusnya mereka melihat keadaan sekarang ini.

“Apa hasil dari reformasi saat ini? Semua justru bermasalah”, cetus Sigit.

Namun demikian, Sigit mengaku bukan loyalis Soekarno maupun Soeharto. Ia hanya ingin mendudukkan keduanya secara proporsional. Bahwa, baik dan buruk itu akan senantiasa ada. Sederhana saja, kata Sigit, setiap orang pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Karena itu tidak semestinya orang saling membenci. Apalagi memusuhi satu sama lain. Sigit mengaku juga masih mengenang pidato Soeharto ketika hendak dilengserkan.

“Pak Harto waktu itu bilang, tidak akan tinggal glanggang colong playu”, kata Sigit.

Tinggal glanggang colong playu, adalah pepatah Jawa yang berarti tidak akan melarikan diri dari medan perang. Pak Harto mengatakan itu sebagai bukti jiwa kesatriyanya beliau, manakala menghadapi semua tuntutan rakyat pada masa Geger Reformasi 1997-1998.

“Pak Harto itu kesatria. Pemimpin besar dan dikagumi. Saya tidak bermaksud melebih-lebihkan. Tapi, di zaman Pak Harto keamanan itu terjamin. Ekonomi stabil. Tidak ada orang berani main hakim sendiri”, ucap Sigit.

Tak perlu banyak ulasan, spanduk bergambar Soeharto dan Soekarno yang dipasang oleh warga dusun Teguhan sudah memberikan arti mendalam dan penyadaran. Bahwa, sekarang ini kita menghadapi krisis kepemimpinan. Sigit sendiri mengaku pesimis, jika akan ada orang yang mampu menyamai kualitas kepemimpinan Soekarno dan Soeharto.

“Dengan memasang spanduk bergambar Pak Harto dan Bung Karno itu pun saya tidak berharap lebih. Kecuali, hanya berharap agar masyarakat mengenang jasa-jasa beliau yang telah berjuang untuk negara ini”, tegas Sigit.

Senada dengan itu, Diah Ayu Retno Wibiasti (18), remaja asli dusun Teguhan yang baru saja tamat SMA juga mengatakan, Soeharto dan Soekarno itu sama-sama telah berjasa besar bagi bangsa ini. Kalau tidak ada keduanya, negara tidak akan bisa seperti sekarang ini.

Menurut Ayu, Bung Karno dan Pak Harto itu tidak bisa dibandingkan. Tidak ada Bung Karno, tidak akan ada Pak Harto. Tidak ada Pak Harto juga tidak akan ada Bung Karno.

“Kalau tidak ada Pak Harto, mungkin Bung Karno waktu itu bingung mau memberikan mandat Supersemar kepada siapa. Kan yang bisa dan mampu mengemban amanat waktu itu ya hanya Pak Harto. Dan, terbukti Pak Harto bisa membangun bangsa sampai sebesar ini”, cetusnya.

Ayu memang tidak mengalami sendiri zaman pemerintahan Bung Karno dan Pak Harto. Tetapi, sebagai orang terpelajar, ia belajar sejarah sejak Sekolah Dasar. Dari yang dipelajarinya itulah Ayu menyimpulkan, keduanya sama-sama pahlawan. Sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan Bung Karno itu, menurut Ayu, bisa mementingkan kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan pribadinya. Tindakannya selalu berdasar. Selalu musyawarah dan mendengar usulan orang lain. Mencetuskan Pansasila yang artinya sangat dalam dan mati-matian membela bangsa.

“Perjuangan Bung Karno sangat besar. Kalau tidak ada Bung Karno, mungkin keadaannya tidak seperti sekarang ini. Tapi sayangnya, imannya mudah goyah. kemudian ia terpaksa mundur dari jabatannya dan mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret kepada Soeharto”, pungkas Ayu.


MINGGU, 23 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...