MEC: Latar Belakang Keluarga Bukan Halangan untuk Maju

AMBON — Penduduk Maluku saat ini sebanyak 3.700.000 juta jiwa. Level nasional provinsi seribu pulau itu, masyarakatnya berada pada peringkat ke 3 termiskin, dengan persentase 27,70 persen.
Provinsi yang pernah terkena konflik horizontal ini mengandalkan sektor pariwisata dan pertanian yang diandalkan sebagai sumber pendapatan. Misalnya, sejak zaman dahulu kala Maluku begitu terkenal dengan rempah-rempahnya.
Bahkan pertama kali penjajah yang datang ke Indonesia yaitu Portugis mendarat di Maluku sejak tahun 1500-an.

Menyikapi masalah ini Rivai Samual, SE selaku Chief Execurife Officer Mollucas Entrepreneur Community (CEO MEC) kepada Cendana News Minggu (23/8/2015) mengatakan, jangan pernah menyalahkan latar belakang keluarga sebagai alasan untuk tidak maju.

Lembaga yang dipimpinnya itu memiliki spirit sendiri yaitu, menumbuhkan kekayaan mental pemuda demi kehidupan lebih bernilai.
Caranya, kata Rivai, dengan memulai usaha tanpa modal. Sehingga bagaimana punya peternakan uang. Bagaimana uang mengejar kita. Dan bagaimana perusahaan meningkatkan margin.
“Rumusnya nasib baik = persiapan + kesempatan. Pasion integrity skill,” ucapnya.
Menurut Rivai, MEC hadir bertujuan untuk merubah mainset pemuda. Agar bisa mandiri, membuka peluang kerja bagi diri sendiri dan orang lain.
Untuk itu, spirit awal yang akan dilajukan lembaganya untuk merangsang generasi muda di Maluku khususnya lagi mereka yang berdomisili di Kota Ambon, MEC akan menggelar Seminar dan Workshop pada 23 – 24 Oktober 2015.
“Seminar dan Workshop ini kami akan menghadirkan H. Hutomo Mandala Putra, sekaligus menjadi Keynote Speacher,” ujarnya.
Dijelaskan, Seminar dan Workshop yang akan digelar Oktober 2015, merujuk kepada visi MEC, sebagai wadah untuk mencipta dan mengembangkan entrepreneur muda Maluku, membuka lapangan kerja baru melalui ekonomi kreatif berbasis lokal.

Misinya, lanjut Rivai, melahirkan generasi muda Maluku yang berdaya saing, kreatif dan inovatif.
Menurut dia, jika semua pihak di Maluku dan tentunya perhatian Pemerintah Pusat untuk memberdayakan pemuda di Maluku, maka kemiskinan yang sementara masih mendera Maluku, bisa teratasi secara perlahan.
“Karena selama ini kita hanya menunggu bola. Kita tidak memanfaatkan skill kita masing-masing untuk berusaha keluar dari keterpurukan sosial itu sendiri,” tandasnya.
MINGGU, 23 Agustus 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Foto            : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...