Membumikan Gerakan Sehat Hijau Sejahtera Dikalangan Mahasiswa


KENDARI—Titiek Soeharto dalam upanya yang membuktikan komitmennya untuk memperhatikan petani dan pertanian dengan serius, salah satunya ditunjukkan dengan turut serta dalam deklarasi Gerakan Sehat Hijau Sejahtera yang diadakan di Yogyakarta tanggal 5 Agustus 2015 lalu (Baca berita : Pak Harto Punya Apotik Hidup, Titiek Soeharto Punya Sehat Hijau Sejahtera). Yang melatar belakangi deklarasi tersebut adalah kesamaan ide bahwa banyak hal yang bisa dilakukan guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga dengan memaksimalkan fungsi pekarangan sebagai lahan tanam. 
Semua penggiat Gerakan Sehat Hijau Sejahtera, Rejeki Hijau, Hijau Rumahku, Tumbuh rejekiku ini memiliki kesimpulan yang sama, bahwa mereka butuh pihak yang mampu menjembatani antara petani, peneliti, dan pengguna hasil pertanian. Agar gerakan ini benar-benar memiliki manfaat bagi banyak pihak. 
Terkait kebutuhan akan adanya peneliti dalam gerakan ini, alangkah baiknya jika gerakan ini juga diperkenalkan di kampus, karena kampus adalah tempat dilahirkannya para peneliti masa depan. Selain daripada itu gerakan positif yang diharapkan mampu menstimulasi masyarakat agar memiliki kesadaran untuk menanam, sudah sepatutnya dikenalkan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa fakultas pertanian. Sehingga kesadaran menanam, kesadaran mencintai sekaligus menjaga lingkungan bisa dibangun dari usia remaja.
“Kalau saya baca, Gerakan Sehat Hijau Sejahtera sepertinya khusus untuk tanaman organik, itu gerakan bagus, dan jauh lebih bagus jika merangkul mahasiswa, khususnya mahasiswa fakultas pertanian,” ujar Rista, salah satu mahasiswa di stan Fakultas Pertanian yang ada di Expo Program Studi Kampus Haluoleo Kendari pada hari Senin (24/8/2015).
Bagi sebagian mahasiswa, banyak gerakan yang sebenarnya positif, tapi seringkali hanya sekedar slogan atau hangat-hangat tahi ayam, dan yang tak jarang lagi, hanya digunakan demi kebutuhan politik. Dan mahasiswa jarang diajak, karena mungkin dianggap belum ahli. 
“Padahal kalau mahasiswa dilibatkan, itu proses edukasi bagi kami, kami bisa punya kesempatan mempraktekkan ilmu kami secara langsung setahap demi setahap, jangan mi dulu bicara meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan, tetapi proses belajar,” lanjutnya. 
Jika gerakan sadar menanam diserukan secara masif, akan memiliki pengaruh luar biasa dalam jangka panjang. Bukan hanya menjadikan pekarangan hijau tetapi juga lingkungan sehat dan meminimalkan terjadinya banjir. Menurut, Asnan, salah satu mahasiswa fakultas peternakan yang siang itu bertanggung jawab menjaga stan menyampaikan, “Kami mahasiswa sangat perlu berkenalan dengan banyak komunitas agar kami memiliki wawasan luas diluar ilmu yang kami dapat di kampus, seperti gerakan Sehat Hijau Sejahtera ini, coba dijadikan gerakan yang lebih membumi bagi mahasiswa,”
Ketika Cendana News menanyakan apa yang ia maksudkan dengan membumi, ia menyampaikan, gerakan memaksimalkan pekarangan tidak harus orientasinya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan, kalau targetnya itu, tentu harus dilakukan oleh mereka yang punya modal. Jika untuk kalangan mahasiswa, gerakan ini jadi bentuk kampanye mencintai tanaman organik dan mencintai lingkungan. 
Jika semua mahasiswa sadar pentingnya menjaga lingkungan dan sadar menghijaukan pekarangan, tentu ia akan mencerahkan hal tersebut ke keluarganya. “Jadi, kami mahasiswa yang sedang dalam proses belajar, bisa juga menjadikan gerakan ini sebagai wadah untuk melakukan penelitian dibidang pertanian yang memanfaatkan pekarangan sebagai lahan tanam, kami bisa memberikan kontribusi tentang tanaman apa yang paling cocok, pola tanam dan media,” lanjutnya. 
Sedangkan menurut Rochman, alumni Universitas Haluoleo yang khusus hadir ke acara ini untuk menjumpai adik kelasnya menyampaikan, “Setahu saya, kalau Pak Harto sih selalu mengutamakan terpenuhinya kebutuhan keluarga, misalnya apotik hidup, Pak Harto tidak pernah mempresentasikan sebagai kegiatan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga tapi minimal apotik hidup bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” jelas lelaki kelahiran tahun 1970 ini. 
Jika ditelaah, pada deklarasi Gerakan Sehat Hijau Sejahtera disampaikan bahwa dibutuhkan pihak yang mampu menjembatani petani, peneliti dan pengguna hasil pertanian, berarti skalanya sudah besar, sudah bisnis orientasinya. Menurut Rochman, alangkah baiknya jika dimulai dari menanamkan kesadaran memanfaatkan pekarangan dengan menanam tanaman yang bermanfaat seperti tanaman obat, sayuran atau buah yang masa panennya tidak terlalu lama, sehingga target awal dari Gerakan Sehat Hijau Sejahtera adalah menanamkan kesadaran untuk mencintai lingkungan, berhemat dengan cara mengkonsumsi sayuran, buah dan tanaman obat yang ditanam sendiri. 
Kan dengan dikonsumsi sendiri, sudah mengurangi budget beli sayur dan buah, artinya kan sama saja bisa menghasilkan uang untuk ditabung, tapi semuanya dimulai dari skala kecil. Misalnya, mahasiswa memanfaatkan pekarangan kampus, atau teras rumah kosnya, ibu rumah tangga memanfaatkan pekarangan rumahnya, tapi ya itu tadi, ajak mereka menanam dengan orientasi utama, memenuhi kebutuhan keluarga, jika akhirnya berhasil menjadi pendapatan tambahan, itu jackpot,” jelas lelaki yang mengaku bukan pengagum Pak Harto, Presiden RI ke-2, tetapi mengakui bahwa pada era Pak Harto, Indonesia tidak pernah mengalami masalah yang rumit dalam hal pangan seperti sekarang yang terjadi. 
“Titip salam buat ibu Titiek Soeharto, jika punya program pertanian yang bagus, sosialisasikan juga di Kendari, jangan hanya di Pulau Jawa. Kami mahasiswa Universitas Haluoleo banyak yang ikut andil dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2015 bulan Oktober nanti, UHO (Universitas Haluoleo) sebagai tuan rumah, jadi banyak peneliti yang akan dilahirkan kampus kami,” tutupnya.
SENIN, 24 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Gani Khair
Foto : Rochman 
Editor : Gani Khair
Lihat juga...