Meski Kemarau Harga Kopra di Lampung Justru Merosot

LAMPUNG — Musim kemarau yang membantu penjemuran komoditas kopra ternyata tidak memberikan dampak positif kepada petani kelapa. Bahkan dari beberapa pengakuan para “penglempeng” atau pemetik kelapa, harga kopra di musim kemarau ini justru melorot.
Salah satu penglempeng kelapa di Lampung Selatan, Suhaimi mengungkapkan, harga komoditas kelapa yang sudah diolah menjadi kopra di Lampung Selatan merosot dari  Rp 5.600 perkilogram pada pekan lalu kini menjadi Rp 5.300 perkilogramnya.
“Meski hanya penurunan sekitar 300 rupiah namun bagi kami jika kopra jumlahnya banyak cukup merugikan juga, padahal musim kemarau harapan kami hanya pada kopra,”ungkap Suhaimi kepada Cendana News di Kecamatan Penengahan, Selasa (18/8/2015).
Suhaimi menuturkan, sebagai seorang pengrajin kopra, penurunan harga komoditas kopra sudah terjadi semenjak sepekan ini. Ia mencatat, harga komoditas kopra pada kisaran Rp 5.600 per kilogram termasuk harga yang cukup lumayan dan menguntungkan bagi petani pekebun kelapa dalam beberapa tahun terakhir.
“Harga yang lumayan itulah yang membuat kami bertahan menjadi pengrajin kopra sampai saat ini sehingga kami merasa dirugikan jika harga kopra turun,”ungkapnya.
Ia dibantu dua anggota keluarganya setiap hari mengolah kelapa yang dibeli dari pekebun serat sebagian dari kebun miliknya. Kondisi musim kemarau yang secara positif bisa mempercepat proses pengeringan dengan sinar matahari, namun sekarang harga semakin merosot.
“Kondisi ini memang terbilang wajar karena pasokan ke agen menjadi lebih banyak karena semakin cepatnya pasokan dibanding saat musim penghujan,” ujarnya.
Ketika musim penghujan pengrajin kopra harus menggunakan penggeringan di dalam ruangan khusus karena tak ada matahari. Kondisi tersebut merepotkan dan membuat harga akan lebih jelek karena kualitas kopra kurang bagus dibandingkan dengan sistem penjemuran di bawah sinar matahari.
Faktor musim kemarau yang berdampak berkurangnya pasokan bahan baku seharusnya menjadikan kopra semakin mahal, namun Suhaimi justru mengakui kenyataan sebaliknya dengan harga yang cenderung turun.
Sekali pengolahan kelapa menjadi kopra puluhan butir kelapa bisa menjadi beberapa kilogram kopra tergantung besar kecilnya ukuran kelapa. Proses penjemuran yang dilakukan di halaman depan rumah yang luas membuat kopra miliknya cepat kering saat dijemur.
“Saya mengirim ke Panjang, pabrik pengolahan minyak kelapa, biasanya kirim dua mobil seminggu namun akhir akhir ini agak menurun kirimannya karena harga murah,”ungkap laki laki yang menjadi tukang kopra sejak tahun 2001 itu.
Penjualan kopra yang merosot tak membuat Suhaimi kehabisan akal. Harga sebutir kelapa ukuran super yang cukup lumayan di Jakarta, Tangerang membuat ia melakukan pengiriman kelapa super dalam bentuk butiran. Harga kelapa super bisa mencapai Rp.3.000 perbutir, sementara sortiran dari kelapa yang dibeli dari petani dibuat kopra.
“Kalau tidak diakali seperti itu kami akan kesulitan sebab jika dari satu produk kelapa saja kami tidak bisa mengembalikan modal kami,”tegasnya.
Ia juga mengaku menjual air kelapa yang merupakan sisa dari pecahan kelapa ke pembuat nata de coco dengan harga Rp.2.500 per dirijen yang dihasilkan dari puluhan butir kelapa.
Ia berharap harga daging kopra akan membaik sehingga dirinya bisa terus berproduksi. Hasil penjualan kopra miliknya selain digunakan untuk keperluan sehari hari juga digunakan untuk modal membeli bahan baku kelaoa serta uang operasional pengiriman kelapa ke Jakarta.

SELASA, 18 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...