Minim Pembeli, Petani Mulai Kebingungan Menjual Tembakaunya

LOMBOK — Musim panen tanaman tembakau di hampir sebagain besar wilayah pertanian terutama Pulau Lombok bagian selatan telah tiba, sebagian di antara petani malah ada yang telah melakukan panen empat sampai lima kali, dengan pertumbuhan daun mencapai puluhan lembar dalam satu tanaman tembakau.
Meski demikian, petani pengomprong tembakau yang biasanya banyak berdatangan membeli tembakau basah milik petani tembakau pada musim panen tahun ini sangat sedkit, membuat para petani tembakau di Kabupaten Lombok Tengah kebingungan hendak menjual tanaman tembakaunya ke mana.
“Pembeli yang datang membeli tembakau milik petani tembakau basah sekarang sangat sepi, tidak seperti tahun lalu, makanya kita bingung juga mau jual kemana daun tembakau yang ada sekarang,” kata Juaini, petani tembakau asal Desa Banyu Urip, Kabupaten Lombok Tengah, Minggu (30/8/2015).
Kalaupun ada yang datang menawar untuk membeli, tapi maunya diutang dan akan dibayar besok setelah semua tembakau habis dipanen, padahal sistim penjualan macam inilah yang seringkali menyebabkan para petani sering tertipu, baik oleh para tengkulak maupun pembeli dari petani pengomprong, karena tidak ada perjanjian tertulis.
Rohati, Petani tembakau lain mengaku sudah tiga kali melakukan panen tembakau basahnya dengan nilai penjualan mencapai 3 juta dari hasil panen daun bawah tembakau yang ditanam, tapi sampai sekarang belum menerima pembayaran.
Padahal janjinya tengkulak yang datang membeli, sepulang dari mengantar tembakau ke salah satu pemilik pengomprong tembakau di Kabupaten Lombok Timur, akan lansung dibayar, tapi buktinya sampai sekarang belum dibayar.
“Sebenarnya model penjualan borongan, dimana tembakau milik dipanen terlebih dahulu oleh para pembeli, beberapa hari setelahnya baru dibayar sangat merugikan petani dan tidak diinginkan, tapi mau bagaimana, dari pada mengering dipohonnya, mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya kita jual juga dengan sistim pembelian semacam itu,”ungkapnya.
Lebih Lanjut, Rohati menambahkan, meski tidak ada jaminan tembakau kita yang sudah diambil dibayar lunas atau tidak, karena tidak ada perjanjian tertulis dan memang dalam perjalanannya, petani tembakau memang kebanyakan sering tertipu dan mengalami kerugian, puluhan hingga ratusan ribu rupiah.

MINGGU, 30 Agustus 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Foto            : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...