Nandvr Dvlvr Mamfaatkan Ruang Publik untuk Berbagi Keceriaan

MALANG — Berawal dari ide ingin membuat sekolah gratis, sekumpulan pemuda yang menamakan diri sebagai “Nandvr Dvlvr” (Nandur Dulur) mencoba untuk memanfaatkan ruang publik yang ada sebagai sarana berkreasi bagi anak-anak. 
Menurut Lintang, salah satu anggota menjelaskan, bahwa “Nandvr Dvlvr bukanlah komunitas atau kegiatan sosial, namun merupakan kegiatan kolektif dengan memanfaatkan ruang publik atau taman.
Diakuinya, Nandvr Dvlvr berasal dari bahasa Jawa yang berarti Menanam Persaudaraan atau memiliki makna dengan kegiatan yang mereka adakan setiap dua minggu sekali di Taman Merbabu Kota Malang, dapat menambah pertemanan maupun persaudaraan dengan orang lain termasuk dengan anak-anak.
Sedangkan mengenai huruf “U” yang di ganti dengan huruf “V” pada nama Nandvr Dvlvr, itu merupakan ketidaksengajaan saat membuat poster dengan selotip.
“Karena susah untuk membuat huruf U dengan selotip, akhirnya diganti dengan huruf V sehingga justru Nandvr Dvlvr yang menjadi nama kami sampai sekarang,” ungkapnya.
Disebutkan, Tema yang diusung dalam kegiatan kali ini adalah musik, tentunya musik yang dimaksudkan disini adalah lagu anak-anak.
Menurutnya, masyarakat kini mulai gelisah dengan langka dan hilangnya lagu anak-anak di jaman sekarang. Kebanyakan anak- anak sekarang dicekoki lagu orang dewasa dengan liriknya yang tidak sesuai dengan tumbuh kembang anak. Dari situ pihaknya memiliki gagasan untuk membuat sebuah album kompilasi musisi lokal yang membuat lagu anak-anak yang di beri judul “Kecil Itu Indah #2” yang merupakan lanjutan dari album sebelumnya “Kecil Itu Indah #1” yang telah dibagikan secara gratis.
“Pada album Kecil Itu Indah #2, tidak hanya melibatkan musisi dari Malang saja, namun juga melibatkan musisi dari Yogyakarta dan Solo,” ucapnya.
Selain musik, kegiatan yang sudah pasti ada saat kita mengadakan acara adalah menggambar bersama, mewarnai, melipat kertas, dongeng, menyanyi dan kami juga memiliki perpustakaan mini untuk anak-anak. Dikegiatan tersebut disediakan buku gambar atau kertas kosong yang bisa di gunakan untuk menggambar apapun yang anak-anak inginkan.
Disebutkan, pihaknya tidak membatasi jumlah anak-anak yang datang karena disini ingin membagi keceriaan dan pengetahuan, dimana bukan hanya orang dewasa yang bisa bertindak sebagai guru dan anak sebagai murid, tetapi disini belajar berbagi ceria bersama dengan porsi yang sama.
“Kegiatan positif, tentunya akan mendapatkan respon yang positif juga,”tutupnya.

SENIN, 17 Agustus 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...